Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 23 Juli 2026
Berkebun dari Rumah Jadi Gaya Hidup Berkelanjutan
Ini Manfaatnya bagi Kesehatan dan Lingkungan
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, ketahanan pangan keluarga, dan kelestarian lingkungan, aktivitas berkebun di rumah semakin diminati. Tidak hanya menjadi hobi, menanam sayuran, buah, maupun tanaman herbal di pekarangan, teras, atau balkon rumah kini dipandang sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa berkebun di rumah memiliki dampak positif yang luas. Systematic review yang dipublikasikan dalam jurnal Discover Sustainability pada 2025 menyebutkan bahwa berkebun di rumah berkontribusi terhadap ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, tinjauan ilmiah dalam jurnal Discover Public Health (2025) mengungkapkan bahwa aktivitas berkebun mampu meningkatkan kesehatan fisik, membantu mengurangi stres, serta memperbaiki kesejahteraan psikologis karena memberikan kesempatan bagi seseorang untuk lebih dekat dengan alam.
Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, masyarakat dapat menanam berbagai jenis tanaman pangan seperti cabai, tomat, bayam, kangkung, seledri, maupun tanaman herbal. Konsep urban gardening dan hidroponik juga menjadi solusi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.
Selain menghasilkan bahan pangan segar untuk konsumsi keluarga, berkebun juga dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, terutama ketika harga bahan pangan mengalami kenaikan.
Tidak hanya berhenti pada proses menanam dan memanen, gaya hidup berkelanjutan juga mendorong masyarakat mengelola limbah organik rumah tangga menjadi kompos. Sisa sayuran, kulit buah, maupun limbah dapur dapat diolah menjadi pupuk organik yang kemudian dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman.
Siklus tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menciptakan sistem yang lebih ramah lingkungan karena limbah dimanfaatkan kembali sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.
Head of Corporate Communications & Sustainability PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, Melinda Pudjo, mengatakan rumah dapat menjadi titik awal lahirnya berbagai perubahan positif dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.
"Kami melihat rumah sebagai titik awal lahirnya berbagai perubahan positif. Karena itu, AZKO berkomitmen membangun ekosistem gardening yang dapat menginspirasi masyarakat untuk melakukan lebih banyak kebaikan di rumah, mulai dari menanam, merawat, hingga mengelola kembali sumber daya yang ada di sekitar. Bagi kami, inisiatif ini bukan sekadar menghadirkan rangkaian produk, tetapi bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih lestari bagi generasi mendatang," ujarnya.
Menurutnya, langkah sederhana seperti menanam satu pot sayuran atau tanaman herbal dapat menjadi awal terbentuknya kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian keluarga dalam memenuhi sebagian kebutuhan pangan.
Perkembangan teknologi juga membuat aktivitas berkebun semakin mudah dilakukan. Berbagai metode, mulai dari hidroponik, sistem penyiraman otomatis, hingga pengolahan limbah organik menjadi kompos, kini semakin mudah diakses masyarakat sehingga berkebun tidak lagi identik dengan lahan yang luas.
Selain mendukung ketahanan pangan keluarga, aktivitas ini juga dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk mengenal proses pertumbuhan tanaman, pentingnya menjaga lingkungan, serta membangun kebiasaan hidup yang lebih bertanggung jawab.
Melalui pemanfaatan ruang yang ada di rumah, berkebun, memanen hasil sendiri, dan mengolah limbah organik menjadi kompos dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga sekaligus mendukung upaya menjaga kelestarian lingkungan.
"Pada akhirnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil di rumah. Dari satu pot tanaman yang dirawat setiap hari, setiap keluarga dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih hijau sekaligus membangun kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan bertanggung jawab," pungkas Melinda.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3790 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1454 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1449 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1394 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1301 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun