Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Dibangun Swadaya Warga sejak 2018, De Gadjah Dorong Penyempurnaan Jembatan Situ Banda

Senin, 7 September 2026, 00:20 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Dibangun Swadaya Warga sejak 2018, De Gadjah Dorong Penyempurnaan Jembatan Situ Banda.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Semangat gotong royong masyarakat kembali menjadi kekuatan dalam membangun desa. Sejak 2018, warga secara bertahap membangun Jembatan Situ Banda yang menghubungkan Desa Jinangdalem dengan Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng.

Jembatan sepanjang 6 meter dengan lebar 4 meter tersebut kini menjadi akses penting bagi masyarakat, khususnya para petani Desa Jinangdalem yang memiliki lahan pertanian di wilayah Desa Penglatan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, Made Muliawan Arya atau De Gadjah, mengapresiasi perjuangan dan kebersamaan masyarakat yang selama bertahun-tahun bergotong royong hingga jembatan tersebut dapat terwujud.

Peresmian Jembatan Situ Banda berlangsung sederhana pada Minggu (6/9/2026). Turut hadir Ketua HKTI Buleleng dr. Ketut Putra Sedana atau dr. Caput, Ketua DPC Partai Gerindra Buleleng Gede Harja Astawa, serta sejumlah anggota DPRD Kabupaten Buleleng dari Partai Gerindra.

De Gadjah mengatakan dirinya telah dua kali mengunjungi lokasi tersebut. Dalam kunjungan sebelumnya, ia menerima langsung aspirasi warga mengenai pentingnya akses penghubung antardesa, terutama untuk menunjang aktivitas pertanian masyarakat.

“Bagi saya, jembatan ini adalah bukti semangat dan kegigihan masyarakat. Memang ada dukungan dana hibah dan bansos, tetapi yang paling menyentuh adalah bagaimana warga bergotong royong, baik melalui iuran maupun tenaga, sampai akhirnya jembatan ini bisa terwujud. Ini patut kita apresiasi bersama,” ujar De Gadjah.

Meski sudah dapat dimanfaatkan, menurut De Gadjah, Jembatan Situ Banda masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan agar fungsi dan keamanannya semakin maksimal.

Untuk itu, HKTI Bali akan berupaya menjembatani aspirasi masyarakat melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Buleleng, Pemerintah Provinsi Bali, hingga pemerintah pusat.

“Kami tidak ingin berebut nama ataupun mengklaim siapa yang paling berjasa. Ini adalah hasil perjuangan masyarakat. Tugas kita sekarang adalah bergotong royong dan bersinergi untuk menyempurnakannya agar manfaatnya semakin besar bagi petani dan masyarakat,” tegasnya.

Menurut De Gadjah, pembangunan infrastruktur di wilayah pertanian tidak selalu harus dilihat dari besar atau kecilnya sebuah proyek. Jalan dan jembatan yang sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar apabila mampu memperlancar mobilitas petani, mengurangi hambatan distribusi, dan membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Yang terpenting bukan siapa yang mendapat nama, tetapi masyarakat yang mendapat manfaat. Kalau akses petani semakin mudah, hasil pertanian lebih mudah dibawa dan ekonomi masyarakat ikut bergerak, itulah yang harus kita perjuangkan bersama,” katanya.

Perbekel Jinangdalem, Ketut Mas Budarma, menjelaskan pembangunan Jembatan Situ Banda telah melalui proses panjang. Tahap awal dimulai pada 2018 dengan pembebasan lahan untuk membuka akses bagi warga Jinangdalem yang memiliki lahan pertanian di Desa Penglatan.

“Prosesnya panjang. Ada dana bansos, sumbangan pihak ketiga, dan yang paling besar adalah swadaya warga berupa iuran serta tenaga,” jelas Budarma.

Pemerintah Desa Jinangdalem juga turut mengalokasikan APBDes sebesar Rp55 juta. Sementara itu, total biaya pembangunan jembatan diperkirakan mencapai Rp250 juta.

“Volume jembatan panjang 6 meter dan lebar 4 meter. Sebagian besar berasal dari swadaya masyarakat. Karena itu kami berharap dukungan semua pihak agar jembatan ini dapat disempurnakan dan manfaatnya semakin maksimal bagi masyarakat,” harapnya.

Ketua HKTI Buleleng, dr. Ketut Putra Sedana atau dr. Caput, menambahkan keberadaan jembatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi petani. Sebelum adanya jembatan, masyarakat menghadapi kendala dalam mengangkut dan mendistribusikan hasil pertanian dari satu desa ke desa lainnya.

“Hal-hal seperti inilah yang menjadi perhatian HKTI. Infrastruktur pertanian sangat penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas dan kesejahteraan petani. Dengan adanya jembatan ini, akses distribusi hasil pertanian menjadi lebih mudah,” ujarnya.

HKTI Buleleng juga terus bergerak menghimpun aspirasi kelompok tani di berbagai wilayah. Dalam waktu dekat, jajaran HKTI Buleleng dijadwalkan turun ke Kecamatan Sawan, khususnya Desa Sudaji, untuk bertemu dengan kelompok Subak dan mendengarkan langsung berbagai kebutuhan petani.

“Kami akan turun, mendengar dan mengkaji aspirasi para petani. HKTI harus hadir sebagai fasilitator dan jembatan komunikasi agar kebutuhan petani dapat diperjuangkan bersama-sama,” tutup dr. Caput.

Jembatan Situ Banda menjadi contoh bahwa semangat gotong royong masyarakat, apabila bertemu dengan dukungan dan sinergi berbagai pihak, dapat menghadirkan manfaat nyata. Dari sebuah jembatan sederhana, terbuka akses bagi petani, pergerakan ekonomi, sekaligus harapan untuk kehidupan masyarakat desa yang lebih baik.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Gerindra Bali



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami