Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
27 Musisi Salamander Big Band Hidupkan Ubud Village Jazz Festival 2026
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026 resmi membuka rangkaian penyelenggaraannya di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, Jumat (7/8/2026) malam. Memasuki tahun ke-13, festival jazz berbasis komunitas ini menghadirkan perpaduan musik, seni visual, kebudayaan, sekaligus kampanye kesadaran lingkungan.
Malam pembukaan UVJF 2026 berlangsung meriah dengan penampilan sejumlah musisi dari dalam dan luar komunitas jazz. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Salamander Big Band, kelompok orkestra jazz independen asal Bandung yang telah berkarya hampir dua dekade.
Salamander Big Band tampil dengan melibatkan sekitar 27 musisi di Panggung Giri. Penampilan tersebut menjadi salah satu suguhan utama pada malam pertama festival yang berlangsung selama dua hari, 7–8 Agustus 2026.
Baca juga:
Festival Jazz Ubud Pakai Energi Surya
Selain Salamander Big Band, panggung UVJF 2026 juga diisi Rason Trio, Imelda Rosalin Quintet, LaDju, Simone Prattico Java Collective, Dattie Do Duo, Straight & Stretch, dan Michael Ananda Trio.
Para musisi tampil bergantian di Panggung Giri sebagai panggung utama dan Panggung Subak yang menawarkan suasana berbeda di tepian sungai. Sementara Panggung Komunitas menghadirkan Westside Vinyl DeeJays yang menghidupkan suasana sore melalui koleksi piringan hitam bernuansa jazz.
Namun, UVJF 2026 tidak hanya mengandalkan pertunjukan musik. Festival yang mengusung semangat komunitas ini juga berusaha mempertahankan karakter sebagai ruang pertemuan bagi musik, seni, budaya, dan gagasan.
Panitia UVJF 2026, Heru Djatmiko, menegaskan festival tersebut sejak awal tidak dibangun dengan orientasi utama mengejar keuntungan komersial.
"Kami tidak menggelar festival ini demi keuntungan finansial. Kami membuatnya karena kecintaan kami pada musik jazz," ujar Heru.
Komitmen tersebut juga tercermin dari pandangan salah satu pendiri UVJF, Yuri Mahatma. General Manager STHALA Ubud Bali, Lasta Arimbawa, menyampaikan bahwa tata ruang festival terus dikembangkan meskipun lokasi penyelenggaraannya tetap sama.
Ia juga mengutip pandangan Yuri mengenai ukuran keberhasilan sebuah festival yang tidak semata-mata ditentukan oleh angka penjualan tiket.
"Saya tidak memikirkan angka. Selama orang-orang datang dan menikmati musiknya, itu sudah cukup bagi saya," sebut Yuri seperti ditirukan Lasta.
Yang membuat UVJF 2026 semakin berbeda adalah hadirnya pameran seni visual untuk pertama kalinya. Pameran bertajuk Second Life: An Exhibition of Found Materials & Upcycled Art tersebut dikurasi oleh kolektif seni Kala Patha.
Pameran melibatkan delapan seniman kontemporer, yakni Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.
Mengusung konsep kuratorial Island of Hope atau Pulau Harapan, karya-karya yang ditampilkan memanfaatkan material bekas dan limbah industri sebagai medium utama.
Pesan lingkungan bahkan sudah terasa sebelum pengunjung memasuki area galeri. Sejumlah poster propaganda mengangkat isu overtourism, limbah, hingga penyusutan ruang hijau di Bali. Ada pula instalasi karya Edy W. yang menggunakan sandal jepit bekas.
Memasuki galeri pop-up modular, pengunjung disuguhi karya-karya yang mengubah material sisa menjadi karya seni. Salah satunya pahatan figur menyerupai Barong karya Modjo yang dibuat dari kaleng cat bekas dan kayu lapis sisa konstruksi.
Pendiri Kala Patha sekaligus salah satu seniman yang terlibat dalam pameran, Defina Sumardji, mengatakan material yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki kehidupan baru melalui kreativitas.
"Bagi kami, barang bekas bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari cerita yang baru. Apa yang sering dianggap orang sebagai sampah bisa berubah menjadi patung, lukisan, atau instalasi," ungkap Defina Sumardji.
Pameran Second Life dibuka gratis untuk masyarakat pada 7–8 Agustus 2026 mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WITA, sebelum area festival memberlakukan tiket standar.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4376 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1478 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 1358 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 967 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 903 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun