Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 28 Agustus 2026
BRIN Ungkap Risiko Tersembunyi di Selat Bali
BERITABALI.COM, BANYUWANGI.
Keselamatan penyeberangan di Selat Bali tidak cukup hanya ditentukan berdasarkan tinggi gelombang. Interaksi antara gelombang, arus, karakteristik kapal, hingga kondisi operasional harus menjadi pertimbangan dalam menentukan aman atau tidaknya pelayaran.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo, dalam International Conference on Maritime Safety and Weather Technology 2026, Selasa (25/8).
”Keputusan operasional harus berbasis pada kondisi spesifik rute dan kapal yang akan berlayar,” kata Widodo.
Menurut Widodo, Selat Bali bukan merupakan wilayah lintasan siklon. Namun, perairan tersebut tetap dapat menerima gelombang alun atau swell yang berasal dari propagasi gelombang akibat siklon tropis di Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Analisis terhadap sejumlah kejadian menunjukkan pusat siklon yang dikaji berada cukup jauh dari Selat Bali. Siklon Seroja pada 2021, misalnya, tercatat berada sekitar 645 kilometer dari Selat Bali. Sementara Siklon Jacob dan George pada 2007 masing-masing berjarak sekitar 682 kilometer dan 917 kilometer.
Kondisi ini menunjukkan adanya potensi bahaya berupa remote swell, yakni gelombang yang terbentuk akibat gangguan cuaca di wilayah jauh kemudian merambat menuju perairan regional. Ketika memasuki kawasan Selat Bali, gelombang tersebut dapat mengalami transformasi akibat karakteristik perairan setempat.
Gelombang Bisa Muncul Berhari-hari Setelah Siklon
Fenomena remote swell juga memiliki jeda waktu. Berdasarkan analisis yang dipaparkan Widodo, puncak gelombang regional dapat muncul sekitar 3,75 hingga 7,25 hari setelah posisi terdekat siklon.
“Temuan tersebut secara fisik dinilai memungkinkan, meskipun atribusi langsung terhadap siklon tertentu tetap memerlukan analisis spektral dan identifikasi sumber gelombang yang lebih mendalam,” paparnya.
Pada kasus Siklon George dan Jacob pada 2007, puncak gelombang regional terjadi beberapa hari setelah lintasan terdekat. Analisis menunjukkan peak box-mean significant wave height sekitar 1,30 meter, sedangkan peak wet-cell significant wave height mencapai sekitar 2,66 meter.
“Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami karakter gelombang berdasarkan ruang dan waktu, bukan hanya menggunakan satu parameter tinggi gelombang sebagai indikator keselamatan,” tambah dia.
Kecelakaan KMP Yunicee Jadi Contoh
Widodo juga mengangkat kecelakaan KMP Yunicee pada 29 Juni 2021 sebagai contoh bahwa risiko pelayaran tidak selalu ditentukan oleh tinggi gelombang ekstrem.
Berdasarkan rekonstruksi lokal yang dipaparkan, tinggi gelombang signifikan ketika kejadian berada pada kisaran 0,25–0,75 meter.
Namun, laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunjukkan terdapat rangkaian faktor terkait kondisi kapal, antara lain kelebihan muatan, freeboard sekitar 0,36 meter, akumulasi air hingga hilangnya stabilitas kapal.
Kasus tersebut menunjukkan kondisi laut yang secara pengukuran terlihat moderat tetap dapat menimbulkan risiko tinggi apabila berinteraksi dengan karakteristik dan kondisi kapal.
“Tidak ada satu ambang tinggi gelombang yang dapat diberlakukan secara universal untuk menentukan aman atau tidaknya sebuah kapal. Tingkat risiko juga dipengaruhi periode dan arah gelombang, kecepatan serta arah arus, sudut datang gelombang terhadap kapal, muatan, freeboard, integritas kedap air, dan stabilitas kapal,” jelas Widodo.
Keselamatan Harus Melihat Gelombang, Arus dan Kapal
Dalam analisis lintas kasus, Widodo menekankan kondisi laut dan kondisi kapal harus dipandang sebagai satu sistem. Regional peaks dan pengamatan lokal ketika suatu insiden terjadi memiliki fungsi berbeda sehingga tidak dapat disamakan begitu saja.
”Kondisi laut yang moderat secara pengukuran dapat menjadi ekstrem secara operasional apabila berinteraksi dengan freeboard yang rendah, bukaan kapal, pergerakan muatan, arus, serta respons olah gerak kapal,” bebernya.
Selat Bali memiliki karakter perairan yang didominasi swell. Sementara gelombang yang dibangkitkan angin lokal memiliki peran lebih kecil.
Di sisi lain, arus pasang surut yang kuat serta batimetri yang menyempit dapat menyebabkan perubahan kondisi laut secara cepat di sepanjang jalur penyeberangan Selat Bali.
Karena itu, pendekatan keselamatan pelayaran dinilai perlu bergeser dari penggunaan satu indikator menuju sistem yang mengintegrasikan kondisi gelombang, arus dan karakteristik kapal.
Pencegahan kejadian serupa membutuhkan keputusan go/no-go yang spesifik berdasarkan rute, pasang surut dan jenis kapal. Langkah tersebut juga perlu didukung pemantauan gelombang dan arus secara terpadu, prakiraan jangka pendek, verifikasi stabilitas kapal serta kriteria penundaan atau pembatalan pelayaran yang konservatif.
“Keselamatan penyeberangan di Selat Bali membutuhkan pendekatan gelombang–arus–kapal. Laut tidak menentukan keselamatan secara terpisah, keselamatan ditentukan oleh apakah dinamika gelombang dan arus yang berkembang masih berada dalam batas operasional yang telah diverifikasi untuk kapal tertentu,” pungkasnya. (sumber: BRIN)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4725 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2533 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2173 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1790 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1215 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun