Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Gelar Diskusi, Mahasiswa Buleleng Soroti Pendidikan, Infrastruktur hingga Bencana

Senin, 21 September 2026, 10:59 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Gelar Diskusi, Mahasiswa Buleleng Soroti Pendidikan, Infrastruktur hingga Bencana.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Aliansi mahasiswa di Buleleng yang terdiri dari KMHDI, HMI, GMKI, IMM, PMII, GMNI serta sejumlah BEM perguruan tinggi menggelar diskusi bertajuk September Cerah, Minggu (20/9/2026) malam.

Diskusi yang digelar di halaman Gedung Wanira Laksmi Graha, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Buleleng, tersebut membahas sejumlah persoalan daerah, mulai dari pendidikan, kebencanaan, lingkungan hingga infrastruktur.

Koordinator kegiatan yang juga Ketua KMHDI Buleleng, Komang Dia Damayanti, mengatakan September Cerah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pemerataan pendidikan. Mahasiswa mendorong agar fasilitas pendidikan dan tenaga pendidik tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan, tetapi juga tersedia di desa dan pelosok Buleleng.

“Tidak hanya di kota saja yang pendidikannya bagus dan fasilitasnya bagus. Kami juga menuntut pemerataan pendidikan di desa-desa, termasuk ketersediaan tenaga pendidik,” ujarnya.

Mahasiswa Pertanyakan Kesiapan Hadapi Bencana

Selain pendidikan, mahasiswa menyoroti persoalan kebencanaan di Buleleng. Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah mengalami kebakaran. Di sisi lain, musim hujan juga mulai mendekat sehingga kesiapan pemerintah menghadapi potensi bencana menjadi perhatian.

“Banyak sekali titik kebakaran khususnya di Buleleng. Sebentar lagi kita akan menginjak musim hujan. Di sinilah peran kami sebagai mahasiswa ingin menanyakan langkah yang disiapkan pemerintah terkait kesiapan bencana,” katanya.

Persoalan infrastruktur juga masuk dalam pembahasan. Mahasiswa meminta pembangunan tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau desa-desa dan wilayah pelosok Buleleng.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah perwakilan pemerintah dan kepolisian turut hadir. Mereka antara lain berasal dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), unsur kebencanaan, Wakil DPRD Buleleng serta kepolisian.

Komang Dia mengatakan pemerintah merespons sejumlah isu yang disampaikan mahasiswa. Menurutnya, pemerintah menyampaikan telah memiliki rencana untuk menangani berbagai persoalan tersebut.

“Pemerintah sangat merespons baik terkait hasil diskusi ini. Pemerintah juga sudah melakukan ataupun membuat rencana terkait apa yang harus dilakukan ke depannya,” jelasnya.

Bupati dan Ketua DPRD Buleleng Tidak Hadir

Meski mendapat respons dari sejumlah unsur pemerintah, mahasiswa menyayangkan Bupati Buleleng dan Ketua DPRD Buleleng tidak hadir secara langsung dalam diskusi tersebut.

Mahasiswa berharap ke depan pemuda di Buleleng dapat diberikan ruang lebih besar untuk berkolaborasi dengan pemerintah sekaligus menyampaikan gagasan terkait pembangunan daerah.

“Kami berharap pemuda khususnya di Buleleng bisa dijadikan peran strategis dan diajak berkolaborasi untuk membantu pemerintah,” ungkapnya.

Komang Dia menegaskan mahasiswa tidak akan berhenti setelah kegiatan September Cerah. Berbagai isu yang telah disampaikan akan terus dikawal dan mahasiswa mempertimbangkan langkah lanjutan agar persoalan yang ada di Buleleng mendapat respons pemerintah.

“Kami tidak akan cukup sampai di sini, akan tetapi kami akan terus mengawal apa yang menjadi tujuan kami,” tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami