Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kasino dalam Genggaman: Kehancuran Finansial dalam Jerat Perjudian

Minggu, 20 September 2026, 23:38 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Kasino dalam Genggaman: Kehancuran Finansial dalam Jerat Perjudian.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

SESEORANG laki-laki berusia 42 tahun, berinisial IMJ, datang dengan keluhan banyak pikiran yang semakin memberat selama dua bulan terakhir. 

Ia tampil rapi, tenang, dan kooperatif saat pemeriksaan. Ia telah menikah, memiliki seorang anak berusia enam tahun, serta bekerja sebagai pegawai BUMN dengan penghasilan cukup tinggi.

Ia baru pindah dari Nusa Tenggara Timur ke Bali untuk mendekatkan diri kepada istri dan anaknya serta berharap dapat menambah anggota keluarga. Namun, ia mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulan baru. 

Agar diterima, ia mulai mengikuti apa yang dikerjakan oleh teman-teman kantornya yaitu judi online. Kemenangan awal menimbulkan keyakinan bahwa bermain dapat menghasilkan uang, sedangkan kekalahan mendorongnya mempertaruhkan jumlah lebih besar untuk mengembalikan kerugian. 

Pola menang-kalah yang tidak menentu membuatnya terus terjebak hingga kehilangan kendali. Kebiasaan tersebut berujung pada utang sekitar Rp3,5 miliar. Sebagian besar berasal dari pinjaman bank dengan skema pemotongan gaji hingga masa pensiun. 

Situasi tersebut membuat suasana kantor turut menjadi sumber tekanan. Ia tetap harus menjalankan tanggung jawab pekerjaan sambil menyembunyikan masalah keuangan, menghadapi rasa malu, kecemasan, dan penurunan konsentrasi. Muncul rasa bersalah, dan masa depan dipandang suram, namun ia menyangkal ide, niat, maupun percobaan bunuh diri. 

Tidurnya terganggu sejak satu bulan terakhir, ditandai kesulitan memulai tidur dan sering terbangun, disertai penurunan nafsu makan. Penghasilan yang sebelumnya cukup tidak lagi dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena terserap cicilan.

Istrinya, yang berjualan kue, kini harus memenuhi kebutuhan rumah tangga. Debt collector mulai mendatangi rumah untuk menagih utang. Walaupun tidak lagi ingin berjudi, ia masih diliputi malu dan takut mengungkapkan seluruh keadaan kepada keluarga. Ia merasa istrinya belum dapat menerima kenyataan dan terus menginterogasi serta mengintimidasinya.

Sebelumnya, sang kakak telah menjual mobil untuk membantu melunasi utang. Namun, karena ia tidak jujur mengenai jumlah utang sebenarnya, bantuan itu tidak menyelesaikan masalah. Kini ia merasa tidak tahu lagi harus meminta pertolongan kepada siapa. 

Mengapa seseorang ingin berjudi dan terus berutang?

Kasus IMJ tidak cukup dipahami sebagai kisah seorang laki-laki yang salah mengambil keputusan. Di balik utang Rp3,5 miliar terdapat pertemuan antara kebutuhan untuk diterima, tekanan penyesuaian budaya, mekanisme psikologis perjudian, kemudahan teknologi, serta relasi keluarga yang kehilangan rasa aman. Perjalanan IMJ dimulai bukan semata-mata dari keinginan menjadi kaya, melainkan dari kebutuhan yang sangat manusiawi, dimana ia ingin diterima. 

Setelah pindah dari Nusa Tenggara Timur ke Bali, ia kehilangan lingkungan sosial yang telah dikenalnya dan harus membangun identitas baru. Ketika judi menjadi kebiasaan teman-teman kantor, ikut bermain dapat dipersepsikan sebagai tiket masuk ke dalam pergaulan. Dalam konteks budaya kolektif, kebutuhan menjaga harmoni dan menghindari posisi sebagai orang luar dapat menjadi sangat kuat. Judi kemudian bukan hanya transaksi uang, tetapi ritual sosial yang menandai bahwa ia adalah bagian dari kelompok.

Kemenangan awal memberi penguatan yang sangat kuat. Hadiah yang muncul secara tidak menentu atau variable-ratio reinforcement justru membentuk perilaku yang paling sulit dihentikan. Pemain tidak pernah mengetahui kapan kemenangan berikutnya datang, sehingga setiap kekalahan masih menyimpan harapan bahwa satu putaran lagi mungkin akan menjadi penyelamat. Sistem penghargaan otak belajar menghubungkan ketidakpastian dengan kegembiraan, antisipasi, dan dorongan untuk mengulangi perilaku.

Pada tahap berikutnya muncul berbagai distorsi kognitif. Ia mungkin mulai menganggap kemenangan awal sebagai bukti kemampuan, bukan kebetulan. Ia dapat mengalami illusion of control, yaitu keyakinan bahwa pola, strategi, atau firasat dapat memengaruhi hasil yang sebenarnya acak. Gambler’s fallacy membuat kekalahan beruntun terasa seolah-olah harus segera diikuti kemenangan. Ketika kerugian membesar, muncul chasing losses, dimana ia bertaruh lebih besar bukan lagi untuk mencari kesenangan, tetapi untuk mengembalikan keadaan.

Fenomena ini menjelaskan bahwa manusia umumnya merasakan penderitaan akibat kehilangan lebih kuat daripada kesenangan memperoleh jumlah yang sama. Setelah rugi besar, pilihan yang objektifnya makin berbahaya dapat terasa secara subjektif sebagai satu-satunya kesempatan untuk kembali ke titik awal. Utang kemudian digunakan sebagai bahan bakar untuk memperpanjang harapan tersebut. Pinjaman tidak lagi dipersepsikan sebagai kewajiban masa depan, tetapi sebagai jembatan menuju kemenangan yang diyakini akan menyelesaikan seluruh masalah.

Di sinilah terbentuk lingkaran psikologis, bahwa kalah menimbulkan cemas dan malu sedangkan berjudi dipakai untuk menghilangkan kecemasan sekaligus mengembalikan uang. Kerugian berikutnya meningkatkan utang, utang memperbesar rasa malu, dan rasa malu mendorong perilaku dilakukan secara rahasia. 

Ketidakjujuran kepada keluarga tidak selalu lahir dari niat menipu semata. Sering kali ia merupakan mekanisme menghindar, sebuah upaya untuk mempertahankan citra sebagai suami, ayah, dan pegawai yang berhasil. Namun, setiap informasi yang disembunyikan justru memperluas kerusakan.

Sementara itu lingkungan kerja juga memiliki dua peranan. Pertama, kantor menjadi tempat normalisasi perilaku karena judi dilakukan oleh rekan-rekan. Kedua, kantor berubah menjadi sumber ancaman setelah utang membesar. Ia harus tetap bekerja, menjaga reputasi, dan berkonsentrasi sambil menyimpan ketakutan bahwa persoalan tersebut diketahui orang lain. 

Dalam kondisi stres kronis, fungsi pengendalian diri menurun, tidur terganggu, dan keputusan menjadi semakin berorientasi pada kelegaan jangka pendek. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa gangguan berjudi ditandai oleh gangguan kontrol, meningkatnya prioritas terhadap perjudian, dan keberlanjutan perilaku meskipun konsekuensinya merugikan. 

Kerugiannya meluas hingga kemiskinan, gangguan kesehatan mental, konflik keluarga, kekerasan, dan risiko bunuh diri. WHO juga memperkirakan satu orang yang berjudi pada tingkat risiko tinggi dapat memengaruhi rata-rata enam orang lain, bahkan mungkin lebih banyak dalam masyarakat dengan ikatan kekerabatan yang kuat.

Dalam kasus ini, pihak yang terdampak sudah meliputi istri, anak, kakak, dan lingkungan kerja. Istri harus mengambil alih pemenuhan kebutuhan rumah tangga, anak hidup dalam rumah yang didatangi penagih utang, sedangkan kakak telah menjual mobil berdasarkan informasi utang yang ternyata tidak lengkap. 
Perjudian yang dilakukan oleh orang tua berkaitan dengan kerugian finansial, konflik interpersonal, pengabaian, tekanan psikologis, dan dampaknya dapat bertahan hingga anak dewasa. 

Dari sudut teori sistem keluarga, masalah ini bukan lagi masalah individual. Perubahan pada satu anggota mengubah keseimbangan seluruh keluarga. Istri yang terus menginterogasi mungkin sedang mencari kepastian setelah kepercayaannya runtuh, sedangkan IMJ semakin menarik diri karena merasa diserang. 

Terbentuk pola pursuer–withdrawer, yaitu semakin istri mengejar penjelasan, semakin suami menghindar, dan semakin suami menghindar, semakin kuat istri mengejar. Memahami pola ini tidak berarti membenarkan intimidasi atau ketidakjujuran, tetapi membantu keluarga keluar dari siklus saling melukai.

Judi online vs judi konvensional

Secara psikologis, judi online dan judi konvensional menggunakan mekanisme dasar yang sama, yaitu  mempertaruhkan sesuatu yang bernilai pada hasil yang tidak pasti. Keduanya dapat menimbulkan kegembiraan, penguatan tidak menentu, distorsi kognitif, pengejaran kerugian, dan gangguan kontrol. Karena itu, perjudian di tempat fisik tidak otomatis aman. Mesin judi elektronik dan permainan kasino konvensional juga termasuk produk dengan risiko tinggi.

Namun, judi konvensional masih memiliki sejumlah batas alami. Seseorang harus datang ke lokasi tertentu, terlihat oleh orang lain, mengikuti jam operasional, membawa uang, dan menghadapi jeda perjalanan. Batas tersebut tidak selalu menghentikan perjudian, tetapi memberi gesekan antara impuls dan tindakan. Jeda kecil itu kadang cukup untuk memungkinkan seseorang berpikir ulang atau diketahui oleh keluarga.

Judi online menghilangkan hampir seluruh gesekan tersebut. Telepon genggam menjadikan perjudian tersedia 24 jam sehari, di rumah, kantor, kamar tidur, bahkan ketika seseorang berada di samping pasangannya. Transaksi digital mengaburkan pengalaman menyerahkan uang secara nyata. 

Angka di layar terasa lebih abstrak daripada uang tunai sehingga besarnya kerugian lebih mudah diremehkan. Permainan berlangsung cepat, hasil segera keluar, deposit dapat diulang, dan pengguna dapat berpindah permainan tanpa jeda.

Platform digital juga menggunakan notifikasi, bonus, hadiah masuk kembali, visual menarik, serta promosi yang dipersonalisasi. Dalam bentuk tertentu, kemenangan kecil dapat dirayakan dengan suara dan animasi seolah merupakan keuntungan besar, padahal jumlah kemenangan masih lebih kecil daripada taruhan. 

Kehadiran near miss, yaitu hasil yang terlihat hampir menang juga dapat mempertahankan keyakinan bahwa kemenangan sudah dekat. Telepon pintar juga merupakan sarana yang secara praktis membawa kasino ke dalam saku pengguna. 

Dengan demikian, bukan kata online saja yang menentukan risiko. Bahaya paling besar muncul dari kombinasi akses tanpa batas, permainan berkecepatan tinggi, taruhan berulang, kredit atau pinjaman yang mudah, anonimitas, promosi personal, dan tidak adanya pengawasan efektif. Jadi, dibandingkan judi biasa, maka judi online umumnya lebih memungkinkan seseorang kehilangan kontrol dan berutang dalam waktu singkat karena kesempatan berjudi selalu tersedia, sedangkan hambatan sosial maupun fisiknya sangat sedikit.

Kemampuan mengontrol diri memang penting, tetapi pengendalian diri berhadapan dengan produk yang sengaja dirancang agar digunakan berulang kali tidak bisa membuat kita meletakkan seluruh kesalahan pada lemahnya kemauan atau kemampuan mengontrol diri individu. Untuk itu pembatasan akses dan promosi, batas kerugian yang mengikat, jeda wajib, registrasi akun terpusat, serta mekanisme pengecualian diri yang efektif menjadi sebuah upaya yang harus dilakukan dan bukan sekadar imbauan agar pemain bertanggung jawab.

Upaya berhenti berjudi dan melanjutkan hidup bersama hutang

Pemulihan IMJ harus dimulai dari satu pemisahan penting bahwa ia bertanggung jawab atas tindakannya, tetapi dirinya tidak identik dengan kesalahan tersebut. Rasa bersalah yang sehat mengatakan, “Saya telah melakukan sesuatu yang merugikan dan harus memperbaikinya.” Rasa malu yang patologis mengatakan, “Saya adalah manusia yang tidak lagi layak ditolong.” Rasa bersalah dapat menggerakkan perubahan, sedangkan rasa malu yang tidak tertangani justru mendorong penyembunyian, keputusasaan, dan kekambuhan.

Langkah pertama bukan memenangkan kembali uang yang hilang, melainkan menghentikan perdarahan. Ia perlu menghentikan seluruh akses perjudian, memblokir aplikasi dan situs, mengganti akses akun keuangan, menghapus fasilitas kredit yang mudah digunakan, serta untuk sementara menyerahkan pengawasan keuangan kepada orang tepercaya. 

Ia perlu menjauh dari ajakan berjudi di kantor dan, jika memungkinkan, mencari dukungan atasan atau unit kesehatan kerja dengan tetap mempertimbangkan kerahasiaan serta keamanan pekerjaannya. Niat berhenti penting, tetapi sistem perlindungan eksternal dibutuhkan ketika kontrol internal sedang rapuh.

Langkah kedua adalah membuka seluruh kenyataan. Tidak boleh ada lagi utang yang baru diketahui kemudian. Bersama pasangan dan pendamping keuangan yang independen, semua kewajiban perlu dipetakan, berapa jumlah pokok, bunga, cicilan, jangka waktu, agunan, dan prioritas kebutuhan keluarga. 

Pembayaran utang merupakan perjalanan administratif dan emosional, bukan tindakan heroik satu malam. Kebutuhan dasar anak dan keluarga harus diamankan, sementara restrukturisasi dibicarakan secara legal dengan lembaga keuangan terkait. Meminjam dari sumber baru untuk menutup utang lama tanpa rencana realistis hanya memindahkan krisis.

Kejujuran juga harus dilakukan dengan cara yang aman. Pertemuan keluarga sebaiknya difasilitasi profesional karena istri berhak marah dan takut, tetapi interogasi, ancaman, atau penghinaan tidak akan memulihkan kepercayaan. 

Terapi keluarga dapat membantu membangun aturan baru berupa transparansi finansial, batas komunikasi, pembagian tanggung jawab, perlindungan anak dari konflik orang tua, dan jadwal evaluasi yang jelas. Kepercayaan tidak kembali melalui janji, melainkan melalui konsistensi perilaku selama waktu yang panjang.

Evaluasi psikiatri segera dibutuhkan untuk menilai gangguan berjudi, depresi, kecemasan, kualitas tidur, penggunaan zat, impulsivitas, dan risiko bunuh diri. Walaupun ia menyangkal keinginan bunuh diri, pertanyaan tersebut harus diulang secara terbuka pada setiap fase krisis, terutama setelah penagihan, konflik keluarga, atau kabar buruk mengenai pekerjaan. Apabila muncul pikiran untuk mati, rencana menyakiti diri, perasaan tidak mampu bertahan, atau perilaku perpisahan, keluarga harus segera membawanya ke IGD atau menghubungi layanan darurat setempat.

Pada akhirnya, membayar utang bukan hanya mengembalikan uang. Ia adalah proses membangun kembali identitas sebagai suami, ayah, saudara, dan pekerja. Hidup memang merupakan perjalanan untuk memenuhi tanggung jawab, namun hidup setelah judi mungkin tidak segera kembali seperti sebelumnya. 

Pendapatan akan terbatas, kepercayaan pulih perlahan, dan konsekuensi finansial dapat berlangsung bertahun-tahun. Namun, masa depan yang berat tidak sama dengan masa depan yang telah berakhir. Mencegah kesalahan yang sama diwariskan kepada anak merupakan kewajiban yang jauh lebih mendasar.

Ia tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupnya dalam satu hari. Hari ini tugasnya mungkin hanya tidak memasang taruhan, mengatakan satu kebenaran yang selama ini disembunyikan, datang ke konsultasi, atau menyusun satu halaman daftar utang. Besok ia mengulangi langkah tersebut. 

Kemenangan yang sebenarnya bukan memperoleh kembali Rp3,5 miliar melalui taruhan terakhir, melainkan merebut kembali kemampuan memilih dan sedikit demi sedikit menjalani kehidupan tanpa harus bersembunyi. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami