Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Kesedihan, Kehampaan, dan Suara Kematian dalam Luka Batin
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang mahasiswi berusia 20 tahun, berinisial NH datang dengan wajah lesu dan sedih. Ia mengeluhkan perasaan sesak, hampa sejak SMA.
Ada rasa kesedihan, dan rasa bersalah terhadap keluarga. Keluhan memberat akibat tekanan akademik, banyak remedial, serta konflik dengan sahabatnya mengenai keterlambatan dan tanggung jawab. Prestasi akademiknya dirasakan cenderung menurun dan kemampuan menghadapi stres menjadi terganggu.
Ia mengatakan ada ide bunuh diri tapi tanpa rencana pasti, disertai perilaku menyilet tangan. Ia menyatakan ingin lulus dahulu untuk menyenangkan orang tua sebelum meninggal agar mereka sedih. Terdapat pula riwayat melukai paha dan tangan tanpa niat mengakhiri hidup.
Ia melaporkan ada suara berulang yang menyuruhnya mati, dirasakan di kepala dan terkadang telinga, serta pengalaman melihat sosok lelaki tua dan dua perempuan berambut panjang yang mengajaknya berbicara, terutama ketika lelah.
Ia sulit tidur tanpa obat, tetapi pernah tidak tidur hingga dua hari sambil merasa sangat bahagia dan aktif. Saat bersemangat, ia mampu menyelesaikan tugas skripsinya dalam dua hari dan mengikuti berbagai lomba. Keluhan tambahan berupa gatal hilang timbul selama beberapa hari.
Ia cenderung menarik diri karena takut disakiti serta mendiamkan orang lain ketika marah. Hubungan keluarga belakangan ini dirasakan membaik, tetapi belum sepenuhnya ia bisa memaafkan atas apa yang telah terjadi. Ia mengalami konflik keluarga dan kurangnya kebersamaan dengan orang tua sejak masa sekolah.
Ia sering menyaksikan pertengkaran orang tua yang disertai teriakan dan pembicaraan mengenai perceraian, sehingga merasa stres di rumah. Ia lebih banyak tinggal bersama kakak dan keluarga besarnya, sementara kebersamaan dengan ibu terbatas pada masa liburan. Ia merasa sendiri dan kurang didampingi, terutama ketika tidak ada anggota keluarga yang bersedia mengambil rapornya. Ia juga melaporkan tindakan memukul tangan dalam keluarga.
Menurut teman seangkatannya yang tidak terlalu dekat, mengatakan ia tinggal sendiri di kos dan dikenal ceria. Tidak terdapat riwayat penggunaan alkohol, rokok, atau zat tanpa resep. Ia mengatakan ibunya memiliki penyakit jantung dan ayahnya menderita limfoma. TIdak ada riwayat gangguan jiwa di keluarganya sepengetahuan dia.
Memahami luka dan kerentanan yang terjadi
Seorang mahasiswi berusia 20 tahun, datang membawa kesedihan yang tidak seluruhnya terlihat oleh lingkungannya. Di mata seorang teman, ia dikenal ceria. Namun, dalam penuturannya, terdapat perasaan hampa sejak SMA, kesepian, rasa bersalah, kesulitan tidur, serta keinginan mengakhiri hidup. Perbedaan ini mengingatkan kita bahwa penampilan sosial tidak selalu mencerminkan keadaan batin seseorang. Seseorang dapat mengikuti kegiatan, menyelesaikan tugas, dan tersenyum, sementara pada saat yang sama berjuang menghadapi penderitaan yang sulit diungkapkan.
Apa yang dialami NH perlu dipahami melalui hubungan antara keadaan dirinya, perjalanan keluarga, kehidupan akademik, dan makna yang dilekatkan pada keberhasilan. Riwayatnya menunjukkan pengalaman keluarga yang patut didengarkan dengan sungguh-sungguh.
Pertengkaran orang tua, teriakan, pembicaraan mengenai perceraian, serta keterbatasan kebersamaan dapat mengurangi rasa aman seorang anak. Pengalaman ketika tidak ada keluarga yang bersedia mengambil rapor mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi baginya dapat bermakna bahwa pencapaian dan keberadaannya kurang diperhatikan.
Remedial dan konflik dengan sahabat dapat dialami sebagai masalah akademik atau interpersonal, sekaligus mengaktifkan kembali perasaan tidak cukup baik, ditolak, atau ditinggalkan. Adanya pengalaman-pengalaman tersebut dapat membentuk kerentanan ketika tekanan baru muncul. Kesedihan, kehampaan, rasa bersalah, gangguan tidur, penurunan fungsi akademik, dan ide bunuh diri mengarahkan perhatian pada kemungkinan adanya gangguan depresif.
Hubungan keluarga yang kini membaik merupakan peluang pemulihan, tetapi tidak otomatis menghapus pengalaman sebelumnya. Ia dapat menyayangi keluarganya sekaligus masih marah dan terluka. Kedua perasaan tersebut dapat hadir bersamaan. Meminta dirinya segera memaafkan justru berisiko membuat pengalaman emosionalnya kembali tidak mendapat tempat.
Pendampingan perlu membuka ruang bagi rasa ambivalensi, sambil membantu keluarga memahami bahwa pemulihan kepercayaan membutuhkan konsistensi, kehadiran, dan kesediaan mendengarkan. Pengalaman mendengar suara dan melihat sosok memerlukan penggalian fenomenologis yang teliti.
Suara yang terasa di kepala tidak otomatis merupakan pikiran biasa, sebagaimana suara yang terasa di telinga tidak langsung memastikan gangguan psikotik tertentu. Hubungannya dengan perubahan suasana perasaan, pengalaman disosiatif, kondisi medis, dan penggunaan obat juga perlu diperiksa. Pendekatan budaya dapat memperluas pemahaman dan akses pertolongan, bukan menunda penanganan penderitaan yang membahayakan.
Riwayat melukai paha dan tangan tanpa niat mati perlu dibedakan dari tindakan yang disertai niat mengakhiri hidup. Demikian juga dengan pernyataan ingin lulus untuk menyenangkan orang tua sebelum meninggal agar mereka sedih memperlihatkan ambivalensi yang mendalam. Terdapat keterikatan, kebutuhan akan pengakuan, dan kemungkinan kemarahan yang belum menemukan bahasa aman.
Tinggal sendiri di kos perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dukungan, terutama ketika kondisi memburuk. Dengan persetujuan NH, perlu melibatkan orang yang benar-benar dipercaya, termasuk saudara, teman dekat, atau pendamping kampus. Keterangan teman yang tidak terlalu dekat tetap berguna, tetapi terbatas untuk menggambarkan kehidupan pribadi maupun perubahan suasana perasaannya. Kesan ceria tidak membatalkan penderitaan yang disampaikan.
Dukungan akademik juga merupakan bagian intervensi. Penyesuaian tenggat, pendampingan belajar, atau pengurangan beban sesuai kebutuhan dan kebijakan kampus. Tujuannya memulihkan kemampuan belajar tanpa memperkuat keyakinan bahwa nilai diri hanya ditentukan oleh prestasi. Pendampingan psikologis dapat membantu mengenali emosi, mengembangkan cara menghadapi konflik, dan mengganti perilaku melukai diri dengan respons yang lebih aman.
Ide bunuh diri dan suara kematian
NH bukanlah pribadi yang sudah hancur, melainkan seorang perempuan muda yang sedang mengalami penderitaan psikologis berat dengan gangguan pada beberapa aspek fungsi dirinya. Istilah hancur mungkin menggambarkan pengalaman batinnya, tetapi bukan kesimpulan klinis mengenai keseluruhan dirinya maupun kemungkinan pemulihannya.
Kemampuannya mengungkapkan pengalaman, mempertahankan tujuan akademik, dan menginginkan hubungan yang lebih baik menunjukkan adanya kapasitas yang masih dapat diperkuat dalam proses pemulihan. Namun, kapasitas tersebut tidak meniadakan kebutuhan untuk menjaga keselamatannya. Kalau kita tinjau aspek psikopatologisnya, tampak pada suasana perasaan, isi pikir, kemungkinan gangguan persepsi, regulasi emosi, dan fungsi sehari-hari.
Pada suasana perasaan dan afek, kesedihan, kehampaan, rasa bersalah, serta wajah lesu mengarah pada gejala depresif. Meskipun demikian, durasi, kesinambungan, dan kelengkapan gejalanya masih perlu diperiksa sebelum menentukan sindrom tertentu. Pada aspek isi pikir, ide bunuh diri dan gagasan meninggal setelah lulus menunjukkan bahwa kematian telah menjadi bagian dari gambaran masa depannya.
Rasa bersalah terhadap keluarga juga perlu dieksplorasi untuk memahami apakah masih proporsional, sudah berlebihan, atau berkaitan dengan perasaan bahwa dirinya menjadi beban. Pada aspek persepsi, pengalaman mendengar suara yang menyuruhnya mati dan melihat sosok tertentu menimbulkan dugaan gangguan persepsi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pengalaman tersebut perlu dibedakan dari pikiran intrusif, fenomena terkait tidur, pengalaman disosiatif, maupun pengalaman yang memiliki makna budaya atau spiritual baginya. Kesulitan regulasi emosi dan perilaku terlihat dari tindakan melukai diri, kecenderungan menarik diri karena takut disakiti, serta mendiamkan orang lain ketika marah.
Perilaku tersebut mungkin merupakan cara menghadapi emosi yang terasa sulit ditanggung, tetapi fungsinya harus ditanyakan langsung. Tindakan melukai diri tanpa niat mengakhiri hidup perlu dibedakan dari tindakan dengan niat bunuh diri, karena niat dapat berbeda pada setiap kejadian. Perilaku ini tidak sepatutnya langsung disebut manipulatif ataupun dianggap sebagai bukti gangguan kepribadian.
Gangguan tidur serta riwayat tidak tidur selama dua hari sambil merasa sangat bahagia dan aktif juga memerlukan perhatian. Perlu dibedakan apakah NH mengalami kesulitan tidur meskipun lelah atau benar-benar merasa kebutuhan tidurnya berkurang. Peningkatan energi dan produktivitas harus dinilai bersama perubahan perilaku lainnya, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan.
Sementara itu, ketakutan disakiti, kesepian, dan pengalaman konflik keluarga mengisyaratkan kesulitan membangun rasa aman dalam hubungan. Kehampaan yang dialaminya perlu dipahami lebih jauh, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan gangguan identitas. Penurunan prestasi akademik dan kemampuan menghadapi stres menunjukkan bahwa penderitaannya telah berdampak pada fungsi adaptasi sehari-hari.
Aspek yang paling mendesak adalah kombinasi ide bunuh diri, perilaku melukai diri, dan suara yang memerintahkan kematian. Tidak adanya rencana pasti serta keinginan lulus terlebih dahulu tidak dapat dijadikan jaminan keselamatan. Jika ia merasa akan bertindak atau tidak mampu menolak perintah suara, ia perlu didampingi ke IGD dan tidak ditinggalkan sendiri selama krisis. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan dan keselamatan individual sebagai dasar penanganannya.
Dengan demikian, dapat dipahami ia sedang kesulitan mempertahankan rasa aman, nilai diri, dan harapan di tengah penderitaan yang menumpuk. Gejala yang dialaminya tidak menghapus identitas, potensi, atau kapasitasnya untuk pulih. Ia membutuhkan perlindungan, pemahaman, dan hubungan terapeutik yang konsisten agar dapat mengenali pengalaman emosionalnya, membangun hubungan yang lebih aman, serta menemukan cara menghadapi penderitaan tanpa melukai dirinya.
Bangkit dari penderitaan psikologis
Upaya untuk bangkit dari penderitaan psikologis perlu dimulai dengan pemahaman bahwa pemulihan bukan tuntutan untuk segera kuat, melupakan masa lalu, atau memaksakan diri kembali berprestasi. Pemulihan merupakan proses bertahap untuk memperoleh rasa aman, memahami pengalaman emosional, dan membangun kembali kehidupan yang bermakna. Dalam hal ini mencakup penanganan kondisi klinis sekaligus perbaikan dukungan relasional dan lingkungan.
Langkah pertama adalah memastikan keselamatan. Adanya ide bunuh diri, perilaku melukai diri, dan suara yang menyuruhnya mati memerlukan asesmen psikiatri segera apabila masih berlangsung. Bersama tenaga kesehatan dan orang yang dipercaya, ia perlu menyusun rencana keselamatan yang memuat tanda memburuknya kondisi, cara menghadapi dorongan melukai diri, orang yang dapat dihubungi, serta akses pertolongan darurat.
Akses terhadap benda atau obat yang berpotensi digunakan untuk melukai diri perlu dibatasi secara kolaboratif. Jika ia merasa akan bertindak atau tidak mampu menolak perintah suara, ia perlu didampingi ke IGD dan tidak ditinggalkan sendiri selama krisis.
Setelah keselamatan ditangani, ia membutuhkan hubungan terapeutik yang membuatnya merasa didengar tanpa dihakimi. Ia perlu memiliki ruang untuk mengungkapkan kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, dan kekecewaan tanpa disebut lemah atau kurang bersyukur. Pemeriksaan menyeluruh membantu menentukan penanganan yang sesuai, termasuk psikoterapi dan, apabila diperlukan, pengobatan. Riwayat perubahan suasana perasaan, gangguan tidur, dan pengalaman suara harus diperjelas agar penanganan tidak hanya berfokus pada kesedihan yang tampak.
Melalui pendampingan psikologis, ia dapat belajar mengenali hubungan antara situasi, pikiran, emosi, dan tindakannya. Misalnya, konflik dengan sahabat mungkin memunculkan pikiran bahwa dirinya selalu mengecewakan orang, kemudian diikuti kesedihan dan dorongan menyakiti diri. Pola tersebut perlu dieksplorasi, bukan diasumsikan. Ia dapat dibantu mengembangkan keterampilan menenangkan diri, menoleransi emosi yang intens seperti memecahkan masalah, dan menyampaikan kebutuhan secara lebih langsung. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh emosi tidak nyaman, melainkan memperluas pilihan respons yang aman.
Pemulihan juga memerlukan pengalaman relasional yang lebih mendukung. Dengan persetujuannya, keluarga dapat dilibatkan untuk belajar mendengarkan, mengakui pengalaman yang menyakitkan, dan menunjukkan kehadiran secara konsisten. Namun, keterlibatan keluarga harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan dirinya.
Ia tidak perlu dipaksa memaafkan sebelum siap. Apabila keluarga belum dapat menjadi sumber dukungan, hubungan dengan saudara, teman dekat, atau pendamping kampus yang dipercaya dapat diperkuat. Dukungan tidak berarti mengawasi setiap geraknya, tetapi memastikan bahwa ia tidak menghadapi penderitaan sendirian.
Dalam kehidupan sehari-hari, langkah kecil yang realistis lebih bermanfaat daripada tuntutan perubahan besar. Ia dapat dibantu membangun keteraturan tidur, makan, aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan kegiatan yang memberinya rasa nyaman. Beban akademik dapat disesuaikan bersama pihak kampus, dengan menjaga kerahasiaan informasi pribadinya.
Pencapaian pemulihan tidak hanya diukur melalui nilai atau produktivitas, tetapi juga melalui kemampuan meminta bantuan, menjaga diri, dan kembali menjalani kegiatan tanpa tekanan berlebihan. Yang perlu dibangun adalah pengalaman bahwa dirinya diterima sebagai manusia, bukan hanya dihargai ketika berhasil memenuhi harapan keluarga.
Pada akhirnya, bangkit berarti membantu menemukan bahwa kehidupannya layak dipertahankan bahkan ketika ia sedang gagal, marah, atau belum mampu merasa bahagia. Proses ini mungkin mengalami kemajuan dan kemunduran. Karena itu, kesinambungan pendampingan menjadi penting agar ketika penderitaan kembali meningkat, ia mempunyai keterampilan, hubungan, dan akses pertolongan untuk melewatinya dengan lebih aman. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4183 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1957 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1782 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1491 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1105 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan