Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 4 November 2026
UNAIR Dorong Herbal Penglipuran Jadi Produk Bernilai Ekonomi
BERITABALI.COM, BANGLI.
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) mendorong pengembangan pengetahuan tradisional tentang bahan alam menjadi produk herbal bernilai ekonomi. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, pada 24 Oktober 2026.
Kegiatan bertema “Optimalisasi Pemanfaatan dan Pengembangan Produk Herbal sebagai Komoditas Kesehatan Bernilai Ekonomi bagi Masyarakat Penglipuran, Bali dalam Upaya Melestarikan Kearifan Lokal” ini dipimpin Prof apt Tutik Sri Wahyuni MSi PhD.
Sebanyak 30 peserta dari unsur Karang Taruna dan pelaku UMKM mengikuti edukasi serta praktik di Balai Desa Panglipuran. Program didukung pendanaan RKAT FF UNAIR tahun 2026 melalui skema program kemitraan masyarakat dengan nomor kontrak 3704/B/DST/UN3.FF/PM.01.01/2026.
Kegiatan turut melibatkan IAI Cabang Denpasar, Balai Besar POM Denpasar, dan Universitas Bali Internasional (UNBI).
Kembangkan Produk tanpa Meninggalkan Tradisi
Wakil Dekan I Fakultas Farmasi UNAIR, Prof apt Helmy Yusuf PhD, dalam sambutannya menekankan pentingnya mengembangkan pengetahuan lokal menjadi produk bernilai dengan tetap memperhatikan mutu, keamanan, dan keberlanjutan.
Inovasi, menurut pendekatan kegiatan tersebut, bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan menjadi cara agar pengetahuan dan kekayaan lokal tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketua kegiatan, Prof apt Tutik Sri Wahyuni MSi, juga menyoroti potensi warisan pemanfaatan bahan alam di Bali yang perlu dirawat dan dikembangkan. Melalui kolaborasi lintas institusi, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memahami pentingnya menjaga kualitas.
Peserta Praktik Membuat Produk Aromaterapi
Dalam sesi praktik yang disampaikan Dr Suciati, peserta diperkenalkan dengan pembuatan parfum padat atau solid perfume dan roll-on aromatherapy.
Produk aromaterapi dengan bentuk praktis tersebut menjadi contoh pengolahan bahan aromatik menjadi produk yang menarik dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha.
Peserta juga mempelajari tahapan pengolahan dan formulasi sederhana. Pengembangan produk diharapkan dapat memperluas pemanfaatan tanaman herbal, dari penggunaan tradisional menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Identitas budaya Penglipuran juga berpotensi menjadi ciri khas dalam pengembangan produk lokal.
Alat Destilasi Dukung Pembelajaran
Selain praktik formulasi, masyarakat mendapat pengenalan teknologi destilasi dan penyerahan alat destilasi. Teknologi ini digunakan dalam proses memperoleh minyak atsiri dari bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan produk pewangi dan aromaterapi.
Pengoperasian alat perlu disertai pemilihan bahan yang tepat, kebersihan proses, serta pengendalian mutu agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Loloh Cemcem Jadi Contoh Inovasi Produk Lokal
Kegiatan turut mengangkat loloh cemcem, minuman tradisional Bali, sebagai contoh pengembangan produk yang berakar pada pengetahuan dan kuliner lokal.
Tim dari UNBI menyampaikan materi inovasi produk untuk memperlihatkan peluang pengembangan warisan lokal agar lebih dikenal dan memiliki daya tarik bagi konsumen.
Dalam pengembangannya, aspek kebersihan produksi, pemilihan bahan baku, konsistensi formulasi, dan keamanan konsumsi tetap menjadi perhatian. Nilai tradisional diharapkan dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan peningkatan kualitas.
Edukasi Legalitas dan Keamanan Produk
Peserta juga memperoleh materi mengenai regulasi dan registrasi produk pangan olahan serta obat bahan alam, termasuk sertifikasi dan ketentuan perizinan sesuai kategori produk. Materi disampaikan oleh Ketua Tim Sertifikasi dan Informasi Komunikasi Balai Pengawas Obat dan Makanan Denpasar.
Pemahaman mengenai mutu, keamanan, pelabelan, dan perizinan menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin memasarkan produk secara bertanggung jawab.
Dorong Pengembangan Usaha Berkelanjutan
Rangkaian kegiatan mencakup edukasi, praktik pembuatan produk, pengenalan dan penyerahan alat destilasi, serta penguatan pemahaman tentang legalitas usaha.
Prof Dr Djoko Agus Purwanto MS selaku tim pengabdian kepada masyarakat menyampaikan peluang dan potensi produk dalam memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Tahap lanjutan dapat diarahkan pada pendampingan formulasi, pengendalian mutu, pengemasan, perhitungan biaya produksi, penguatan identitas produk lokal, dan pemasaran.
Melalui kegiatan ini, pelestarian kearifan lokal di Penglipuran diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka ruang kreativitas dan pengembangan usaha berbasis bahan alam.
Kegiatan tersebut berkontribusi terhadap IKU 2 dan IKU 5 serta SDG 3 (Good Health and Well-Being) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). (sumber: unair.ac.id)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 582 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 453 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan