Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 17 Mei 2026
BPBD Jabar Ungkap Kerusakan Besar Akibat Tornado Bandung
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat merilis kerusakan akibat angin tornado atau puting beliung yang menerpa kawasan Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang terjadi pada Rabu (21/2) sore.
Dari hasil pendataan, untuk di wilayah Kabupaten Bandung, ada tiga wilayah yang terdampak angin puting beliung, meliputi Kecamatan Cicalengka, Kecamatan Cileunyi dan Kecamatan Rancaekek.
Sementara di Kabupaten Sumedang ada dua kecamatan terdampak, diantaranya Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung.
"Untuk di Kabupaten Sumedang, 13 unit bangunan pabrik terdampak dan 10 rumah warga mengalami rusak sedang. Sementara di Kabupaten Bandung ada empat pabrik terdampak, 47 rumah rusak ringan, 13 rusak sedang dan 26 rumah warga rusak berat," kata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat, saat dikonfirmasi, Kamis (22/2).
Untuk wilayah Kabupaten Sumedang, warga yang terdampak masih dalam pendataan. Namun BPBD mencatat di Kabupaten Sumedang Jabar ada 12 orang mengalami luka-luka.
Sementara untuk di Kabupaten Bandung, korban luka sebanyak 19 orang. Mereka mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Cicalengka dan RSKK.
"Jiwa terdampak masih dalam pendataan dan validasi," katanya.
Angin tornado alias puting beliung terjadi di Jatinangor atau daerah perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang, Jawa Barat, Rabu (21/2) sore.
Angin puting beliung terjadi di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sekitar jam 16.00 WIB. Kejadian ini menyebabkan sejumlah kerusakan, di antaranya atap beberapa rumah di Jatinangor berterbangan; dan merobohkan pagar PT Kahatex yang berada di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Deputi Bidang meteorologi BMKG Guswanto menyebut hujan ekstrem terjadi di sekitar wilayah Jatinangor menurut pantauan radar.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia menyebut sejumlah faktor menjadi dalang di balik cuaca ekstrem ini, di antaranya kondisi suhu muka laut sekitar wilayah Indonesia.
"Suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia relatif hangat, mendukung penambahan suplai uap air ke wilayah Indonesia termasuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, selaras dengan kelembapan udara di lapisan 850-500 mb yang relatif basah yakni antara 45-95 persen," ujar Rakhmat.
Selain itu, Rakhmat menyebut sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Pulau Sumatera mengakibatkan terbentuknya area netral poin dengan area pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) serta belokan angin (shearline) berada di sekitar wilayah Jawa Barat.
Kondisi ini disebut mampu meningkatkan pertumbuhan awan di sekitar wilayah konvergensi dan belokan angin tersebut.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1488 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1119 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 965 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 857 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik