Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 26 Mei 2026
Dua Negara Dihantui Kematian Gegara Gangguan Ginjal Akut
BERITABALI.COM, DUNIA.
Gangguan ginjal akut menjadi perhatian usai puluhan anak Indonesia dan Gambia meninggal dunia akibat penyakit ini. Berikut penjelasan mengenai gangguan gagal ginjal akut di Indonesia dan Gambia.
1. Gambia
Pejabat medis di Gambia pertama kali mendeteksi kasus gagal ginjal akut pada Juli lalu. Per 14 Oktober, pemerintah Gambia sudah melaporkan 70 anak-anak meninggal karena gagal ginjal akut.
Gagal ginjal ini diduga berkaitan dengan penggunaan obat sirop buatan India. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pun menyatakan pihaknya melakukan uji coba terhadap sirop obat batuk buatan perusahaan farmasi India, Maiden Pharmaceuticals.
WHO lalu menemukan sejumlah obat batuk sirop mengandung dietilen glikol dan etilen glikol dalam jumlah yang tak bisa diterima. Jika dikonsumsi, obat itu akan menyebabkan keracunan dan bisa berakibat fatal.
Obat sirop itu di antaranya Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup, dan Magrip N Cold Syrup.
Direktur Pelayanan Kesehatan Gambia, Mustapha Bittaye, kemudian menyatakan pemerintah telah melarang produk obat tersebut. Meski demikian, obat itu masih dijumpai di sejumlah lokasi.
"Bagaimana pun, sampai sekarang, beberapa sirop masih terjual di klinik swasta dan rumah sakit," kata Bittaye, seperti dikutip Reuters.
Di tengah kepanikan ini, Presiden Gambia Adama Barrow mengatakan bahwa pemerintah akan membahas krisis tersebut. Sementara itu, pemerintah juga melakukan investigasi terkait penyebab kematian akibat gangguan ginjal akut tersebut.
Pemerintah juga membentuk komisi penyelidikan baru untuk menangani para pasien gagal ginjal yang lain.
2. Indonesia
Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Muhammad Syahril mengatakan petugas mendeteksi 206 kasus per 18 Oktober. Dari jumlah itu, 99 di antaranya meninggal.
Jumlah kasus tersebut merupakan akumulasi dari laporan di 20 provinsi di Indonesia.
"Sebanyak 206 kasus dari 20 provinsi yang melaporkan, dengan tingkat kematian 99 kasus atau 48 persen," kata Syahril saat konferensi pers secara daring pada Rabu (19/10).
Syahril mengatakan hingga kini penyebab penyakit gangguan ginjal akut progresif aptikal belum bisa teridentifikasi. Namun, ia memastikan penyakit tersebut tak berkaitan dengan pemberian vaksin Covid-19.
"Kemenkes dan IDAI saat ini membentuk tim untuk melakukan penelusuran lebih jauh soal kasus ini," ujar Syahril.
Menanggapi jumlah kematian yang terus meningkat, Kemenkes dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membentuk tim guna melakukan penelusuran lebih lanjut.
Kemenkes juga menginstruksikan semua apotek agar berhenti menjual obat sirop sementara. Mereka juga meminta tenaga kesehatan tak meresepkan obat sirop sampai pemerintah mengeluarkan pengumuman resmi terkait hal tersebut.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2169 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 2018 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1495 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1383 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli