Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 29 September 2026
Dukungan Alokasi Anggaran Pusat untuk Desa Adat Terus Mengalir
Selasa, 26 Maret 2019,
20:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Wacana untuk memberikan penguatan kepada Desa Adat di Bali terus bergulir. Setelah sebelumnya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani memberi angin dengan mendukung agar Desa Adat di Bali mendapatkan alokasi anggaran melalui APBN, hal yang nyaris serupa juga tercetus dari presiden RI Joko Widodo dalam simakrama atau tatap muka dengan tokoh agama dan adat di Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Jumat (22/3) malam.
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut terlihat dari respon Presiden Jokowi setelah mendengarkan permintaan Bendesa Adat Desa Mundeh Kauh, Nyoman Gede Arsa yang berharap masing-masing desa adat mendapat bantuan APBN karena desa adat merupakan benteng budaya Bali.
Hal tersebut terlihat dari respon Presiden Jokowi setelah mendengarkan permintaan Bendesa Adat Desa Mundeh Kauh, Nyoman Gede Arsa yang berharap masing-masing desa adat mendapat bantuan APBN karena desa adat merupakan benteng budaya Bali.
"Ya, ya, saya setuju," tutur presiden setelah mendengar permintaan Gede Arsa yang dalam kesempatan tersebut diundang menuju podium oleh Presiden Jokowi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani menyatakan mendukung dan siap membahas lebih lanjut inisiatif untuk memberikan alokasi anggaran APBN bagi desa adat di Bali.
“Kalau saya mendukung, bahkan mendukung 1000 % untuk itu. Saya memahami dan mengingat pentingnya keberadaan desa adat terutama Bali dalam menjaga kelestarian, saya bersama Pak Gubernur untuk yang satu itu. Tinggal sekarang caranya bagaimana,” jelas Sri Mulyani di hadapan bendesa adat se-Bali dalam acara bertajuk ‘Tatap Muka Menteri Keuangan Bersama Bendesa Adat se-Bali’ di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar Kamis (14/3) lalu.
Namun dalam kesempatan tersebut Menkeu juga menyampaikan ada tata cara yang harus dipenuhi, agar alokasi anggaran untuk Desa Adat secara regulasi hukum bisa berjalan. Dalam UU Desa sendiri disebutkan, yang disebut desa dan mendapatkan alokasi anggaran dari APBN adalah desa administratif yang diakui oleh Kementrian Dalam Negeri, yang secara historis berbeda dengan desa adat.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan bagaimana pentingnya peran Desa Adat sebagai warisan dari leluhur dalam menjaga adat istiadat, tradisi dan budaya di Bali selama berabad-abad.
“Desa adat ini terbentuk dari proses sosiologis oleh masyarakat, jadi bukan dibentuk oleh negara tapi oleh masyarakat adat. Jadi sangat otonom dan terpelihara dengan baik. Bali tidak punya emas perak, batubara, tembaga atau gas tapi Bali punya adat istiadat dan budaya yang kaya dan unik. Kalau diberdayakan secara ekonomi tidak akan habis-habisnya dan desa adat punya peranan paling penting untuk menjaganya,“ jelas Koster.
“Bali punya faktor lain yang membedakan dengan daerah lain yang disebut faktor Niskala, yang membawa aura yang kuat. Itulah yang dijaga oleh para bendesa adat ini. Sayangnya para bendesa ini banyak yang tidak mendapatkan apa-apa, murni pengabdian dibandingkan tugasnya yang luar biasa. Ini yang saya upayakan agar benar-benar berdaya di Bali,” tambahnya.
Dalam kesempatan berbeda, Bendesa Adat Penida Kaja, Tembuku, Kabupaten Bangli I Wayan Sugita yang ditemui langsung mendukung upaya pemerintah provinsi agar keberadaan Desa Adat di Bali eksistensinya diakui secara nasional.
[pilihan-redaksi2]
“Kalau saya pribadi mewaliki krama desa tentunya sangat mengapresiasi jika ada bantuan alokasi anggaran bagi Desa Adat apalagi bagi desa adat yang tidak punya destinasi wisata. Satu hal karena upacara keagamaan yang cukup banyak, sehingga jika ada tambahan bantuan tentunya akan lebih meringankan masyarakat namun tentu saja tanpa mengurangi keikhlasan kami di desa adat untuk ngayah seperti yang sudah selama ini terjaga turun-temurun,” tutur Sugita.
“Kalau saya pribadi mewaliki krama desa tentunya sangat mengapresiasi jika ada bantuan alokasi anggaran bagi Desa Adat apalagi bagi desa adat yang tidak punya destinasi wisata. Satu hal karena upacara keagamaan yang cukup banyak, sehingga jika ada tambahan bantuan tentunya akan lebih meringankan masyarakat namun tentu saja tanpa mengurangi keikhlasan kami di desa adat untuk ngayah seperti yang sudah selama ini terjaga turun-temurun,” tutur Sugita.
Sugita juga menekankan bahwa dirinya beserta prajuru desa lain serta segenap krama sejatinya sudah cukup bersyukur dengan bantuan yang diberikan pemerintah daerah berupa bansos ataupun bantuan Keuangan khusus (BKK).
“Manfaatnya amat dirasakan masyarakat. Tapi seperti yang dikatakan Pak Gubernur, prajuru desa punya peranan khusus untuk kehidupan sosial budaya serta adat seperti contohnya mengurus upacara kematian warga misalnya, dimana kematian ‘kan tidak kenal waktu, cakupannya berbeda dengan Desa Administrasi,” sebutnya. (bbn/humasbali/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: Humas Bali
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8518 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5862 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3680 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2510 Kali
05
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026