Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
Eks Penyidik KPK Ungkap Pengaruh Kedekatan PDIP dengan Jokowi Hambat Kasus Hasto
bbn/dok beritabali/Eks Penyidik KPK Ungkap Pengaruh Kedekatan PDIP dengan Jokowi Hambat Kasus Hasto.
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Eks Penyidik KPK, Ronald Paul Sinyal, mengungkapkan adanya pengaruh politik yang kuat antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Presiden RI ke-7 Joko Widodo yang sempat menghambat proses hukum terhadap Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam kasus suap terkait Harun Masiku.
Ronald mengklaim bahwa kedekatan antara PDIP dan Presiden Jokowi membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) enggan untuk menetapkan Hasto sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
"Kita lihat sendiri sebelumnya, era saat kepemimpinan kemarin, antara PDIP dengan Presiden Jokowi masih kompak, ada faktor (takut) seperti itu," ungkap Ronald dalam sebuah wawancara pada Senin (30/12/2024).
Hal ini menurutnya memengaruhi keputusan KPK dalam menangani kasus Harun Masiku, terutama terkait dengan penetapan Hasto sebagai tersangka.
Ronald juga menambahkan bahwa kedekatan Ketua KPK Firli Bahuri dengan PDIP turut menjadi salah satu hambatan dalam proses hukum. "Mas Rossa (penyidik kasus Harun Masiku) dan rekan-rekan penyidik lainnya di penyidikan itu sangat kental sekali hal tersebut," jelasnya.
Hambatan-hambatan ini, kata Ronald, sering kali dibicarakan oleh para penyidik pasca-peristiwa Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang mengakibatkan pemecatan sejumlah penyidik KPK.
Sebagai informasi, Hasto Kristiyanto, yang merupakan Sekjen PDIP, baru saja ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus hukum, yakni suap dan perintangan penyidikan (obstruction of justice), terkait dengan kasus Harun Masiku. Penetapan tersebut terjadi setelah proses penyidikan yang berlangsung selama lima tahun. Pada 23 Desember 2024, Hasto resmi menjadi tersangka dalam perkara tersebut.
Meskipun PDIP dan Jokowi pernah memiliki hubungan politik yang erat, hubungan itu mulai merenggang setelah Jokowi memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024, sementara PDIP memilih untuk mendukung Ganjar Pranowo. Terbaru, PDIP juga telah memutuskan untuk memecat Jokowi karena dinilai melakukan pelanggaran etik berat yang mencederai demokrasi. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 651 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 609 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 458 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 445 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik