Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Gorda Penyandang Disabilitas Lihai Mainkan Wayang Kulit

Sabtu, 18 Maret 2017, 11:00 WITA Follow
Beritabali.com

ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Beritabali.com, Buleleng. Kondisi Gede Yudi Gorda Mahendra (15) memang tak sempurna. Namun, dengan segala keterbatasan, tak disangka diusianya yang masih teramat muda, Gorda lihai bermain Wayang Kulit.

Gorda sendiri telah memiliki cacat bawaan sejak lahir. Kondisi fisiknya terbatas, kakinya tak bisa difungsikan normal. Walau demikian, putra sulung pasangan Kadek Yuliani dan Made Edi Sudarnawan tetap terlihat bersemangat menjalani aktivitas.

[pilihan-redaksi]
Terlebih ketika Ia bermain wayang kulit. Bahkan, kelihaiannya ini tak sekedar hobi, suatu hari Ia ingin menjadi seorang dalang. Tak jarang pula warga sekitar mengundangnya untuk mementaskan wayang ketika mereka sedang menggelar ritual keagamaan.

Ketika ditemui, Gede Yudi Gorda Mahendra sedang berada di rumah sang kakek, Nyoman Gede Mendra di Banjar Bangkang
Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng.

Gorda tengah bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Gorda sendiri maaih mengenyam pendidikan di SMP di Yayasan So Rehab Bali. Ia tercatat sebagai pelajar dan masih duduk di Kelas VII. Yayasan So Rehab Bali So Rehab sendiri didirikan oleh orang Belanda dan keberadaannya khusus diperuntukkan bagi mereka yang mengalami keterbatasan fisik atau biasa disebut penyandang disabilitas.

Seperti diungkapkan kakeknya, Nyoman Gede Mendra yang mengatakan bahwa Gorda memang terlahir prematur. Ia lahir pada usia kandungan memasuki umur enam bulan dan memiliki berat badan 2800 gram.

Kondisi kelahiran prematur itu akhirnya mendorong Gorda harus di inkubasi. Saat itu, ia melihat kondisi Gorda sama seperti bayi lainnya. Gorda terlihat sehat, dan normal.

Perubahan itu terjadi saat Gorda menginjak usia dua tahun. Pertama, gejala aneh yang dirasakannya yakni, ketika itu Gorda belum bisa duduk seperti bocah seusianya.

Tak kehilangan akal, ia pun rutin membawa Gorda berobat ke RSUP Sanglah. Bocah malang itu pun mendapatkan penanganan intensif, namun tidak ada perubahan yang cukup berarti. Kondisi kesehatan Gorda masih saja seperti semula.

Upaya dan usaha sang kakek akhirnya berbuah manis, saat itu ia bertemu dengan seorang turis yang mengaku berasal dari Negara Korea. Setelah ditangani dan menjalani pengobatan dari orang asing tersebut, Gorda pun sudah mulai bisa duduk, namu kesulitan untuk berjalan.

“Saya lupa namanya, orang dari Korea yang membantu mengobati Gorda hingga bisa duduk, berjalan masih sulit. Memakai tongkat biasanya agar bisa berjalan,” kata Mahendra sang kakek, Jumat (17/3).

Seiring pertumbuhan, ternyata Gorda memiliki potensi terpendam. Ia memiliki minat yang besar untuk belajar memainkan wayang di tengah segala keterbatasannya yang dialaminya.

Kala itu, Gorda terlihat mulai tertarik dengan wayang dan sering menonton tayangan wayang di televisi. Melihat keseriusan itu, sang kakek selalu memberikan oleh-oleh wayan yang terbuat dari kertas karton yang dibelinya dari penjual wayang yang biasa mangkal di emperan jalan.

Potensi itu terlihat saat dirinya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Kala itu, Gorda terlihat mulai tertarik dengan wayang dan sering menonton wayang di televisi.

Hingga akhirnya, Ia dibelikan wayang karton setiap bertemu penjual wayang.

Sejak itu, Gorda pun terlihat rajin berlatih. Ia belajar secara otodidak, latihan itu dilakukan saat dirinya pulang sekolah. Berkat tekad dan keinginan besar tersebut, Gorda pun sangat lihai membuat memainkan wayang-wayang tersebut layaknya seorang dalang. Karena kemampuannya itu, ia sering didatangi oleh teman sebayanya yang ingin menontonnya memainkan wayang di rumahnya. Hingga kemudian Gorda dijuluki dalang cilik oleh teman seusianya.

“Biasanya saya belikan wayang dari kertas karton. Jumlah koleksi wayangnya sekarang cukup banyak, sekitar 50 lakon wayang. Apalagi saat ada pameran HUT Kota Singaraja saya paling sering belikan wayang disana,” ungkapnya.

Setelah tahu cucunya memiliki niat besar untuk belajar menjadi dalang. Mahendra langsung membantu membuatkan kelir yang ia buat dari kain kanvas. Sedangkan Gedog tempat wayang pun juga ia buatkan untuk cucunya. Inspirasi dalam memainkan wayang, Gorda dapatkan lantaran dirinya rutin menonton VCD Wayang Cenk Blonk.

“Karena banyak yang tahu dia bisa memainkan wayang untuk seusianya memang agak langka sampai-sampai dia sering diundang untuk memainkan wayang hingga ke luar desa seperti Desa Panji, Desa Selat. Orangnya yang perlu langsung datang kesini,” terang Mahendra.

[pilihan-redaksi2]
Menjadi seorang dalang tidak hanya harus pintar memainkan wayang saja.Tetapi harus bisa diselingi dengan tembang kekidungan. Bagi Gorda itu bukan persoalan yang terlalu sulit, lantaran dirinya telah ditempa aneka kekidungan sedari kecil oleh sang kakek yang berprofesi menjadi seorang tenaga pendidik Agama Hindu dan memiliki keahlian di bidang geguritan.

“Saat pentas ngewayang, masih menggunakan bahasa Bali. Gorda belum belum busa melafalkan Bahasa Kawi. Begitupun lakon yang diambil paling yang sederhana saja dulu yang penting bisa dimaikan,” jelasnya.

Ditanya soal tokoh wayang favorit, Gorda menyatakan bahwa tokoh Tualen adalah tokoh yang paling disukainya. Menurutnya Tualen adalah tokoh yang sakti dan unik.

Sementara, saat ini Gorda memiliki keinginan untuk bisa tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) dengan memainkan wayang miliknya. [bbn/wrt]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami