Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 12 Agustus 2026
'Kebanyakan' Minta, Jerman Ogah Kirim Jet Tempur ke Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Harapan Ukraina untuk mendapatkan persenjataan yang lebih canggih dari sekutu Barat untuk digunakan melawan Rusia mendapat ganjalan dari Jerman. Kanselir Jerman Olaf Scholz menegaskan kembali bahwa Jerman tidak akan mengirim jet tempur ke Ukraina.
Baca juga:
Ini Alasan Erdogan Tolak Swedia Ikut NATO
Adapun, Scholz baru-baru ini untuk mengirim 14 tank Leopard 2 ke Ukraina dan mengizinkan negara-negara Eropa lainnya untuk mengirim tank mereka, setelah perdebatan sengit selama berminggu-minggu dan tekanan yang meningkat dari sekutu.
"Saya hanya dapat menyarankan untuk tidak terus-menerus melakukan perang penawaran dalam hal sistem persenjataan," kata Scholz dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Tagesspiegel, dikutip AFP, Senin (30/1/2023).
"Jika, segera setelah keputusan (tentang tank) dibuat, debat berikutnya dimulai di Jerman, itu tidak dianggap serius dan merusak kepercayaan warga terhadap keputusan pemerintah."
Sebelumnya, keputusan Scholz untuk memberi lampu hijau pengiriman tank disertai dengan pengumuman AS bahwa mereka akan mengirim 31 tank Abrams.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berterima kasih kepada Berlin dan Washington atas langkah tersebut, yang dipandang sebagai terobosan dalam upaya mendukung negara yang dilanda perang itu.
Tetapi Zelensky segera menekankan bahwa Ukraina membutuhkan lebih banyak senjata berat dari sekutu NATO untuk menangkis pasukan Rusia, termasuk jet tempur dan rudal jarak jauh.
Scholz dalam wawancara tersebut memperingatkan agar tidak meningkatkan "risiko eskalasi", dengan Moskow telah mengecam keras janji tank tersebut.
"Tidak ada perang antara NATO dan Rusia. Kami tidak akan membiarkan eskalasi seperti itu," katanya.
Kanselir menambahkan bahwa "perlu" untuk terus berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Panggilan telepon terakhir antara para pemimpin terjadi pada awal Desember.
"Saya akan berbicara dengan Putin melalui telepon lagi," kata Scholz.
"Tapi tentu saja juga jelas bahwa selama Rusia terus mengobarkan perang dengan agresi yang tidak mereda, situasi saat ini tidak akan berubah."(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4495 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2306 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1900 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1583 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1029 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun