Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 2 Agustus 2026
Lagi, Hiu Paus Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Yeh Kuning Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Seekor hiu paus kembali ditemukan mati dan terdampar di pinggir pantai Banjar Yeh Kuning Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana Minggu (15/10/2023) pagi.
Dari informasi yang didapat, ikan berukuran sekitar 7 meter ini diduga sebagai Hiu Paus atau yang dikenal sebagai hitu tutul. Terdamparnya ikan besar ini membuat warga sekitar penasaran dan ingin melihat secara langsung ke lokasi.
Penemuan ini tidak jauh dari ditemukannya ikan yang sama sekitar 1 km di sebelah timur tepatnya di Krematorium. Temuan ini kemudian dilaporkan ke Polsek Pekutatan lalu ditindaklanjuti oleh PSDKP Jembrana.
Menurut petugas PSDKP Jembrana Andre Purna Jatmiko, ikan hiu paus atau dikenal dengan hiu tutul diduga mati dan terdampar karena memburu makanan hingga di areal dangkal atau di pinggir, sehingga tidak bisa kembali ke dalam.
"Ini baru dugaan saja, karena tim dari dokter tidak melakukan pemeriksaan secara detail hiu paus ini mati karena memburu makanan terlalu ke pinggir. Karena tidak bisa kembali kemudian mati," jelas Andre.
Andre juga menjelaskan jika jenis ikan hiu paus ini sudah ditemukan sebanyak 2 kali di sekitar lokasi pantai yang sama. Selanjutnya hiu paus tersebut segera dikubur menggunakan alat berat dari BPBD Jembrana untuk menghindari pembusukan yang menimbulkan bau busuk.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 296 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 223 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 187 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun