Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 27 September 2026
Menggunakan Kebaya Transparan Dinilai Tidak Etis Saat Bersembahyang
Minggu, 8 Juli 2018,
18:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Mengggunakan kain cukup tinggi hingga memperlihatkan paha ataupun menggunakan kebaya yang transparan dinilai tidak etis pada saat sembahyang karena pastinya konsentrasi akan terganggu sebab tujuan bersembahyang tujuannya mencari keheningan
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut diungkapkan narasumber Tude Togog bersama Cok Abi saat workshop pakaian ke pura dan pakaian pengantin yang di gelar pada ajang PKB XL, Sabtu (8/7) di Gedung Ksir Arnawa.
Hal tersebut diungkapkan narasumber Tude Togog bersama Cok Abi saat workshop pakaian ke pura dan pakaian pengantin yang di gelar pada ajang PKB XL, Sabtu (8/7) di Gedung Ksir Arnawa.
"Pastinya konsentrasi akan terganggu kalau melihat gaya busana yang demikian," ucapnya.
Menurutnya, penggunaan kain "kamen" yang benar itu adalah pas di mata kaki dan kain yang melilit panjangnya sejajar hingga ujung terakhir yang menutup dari arah kiri.
"Demikian juga dengan kebaya sebaiknya menggunakan model kebaya kartini dengan ciri khas bagian depan tertutup. Jika menggunakan kebaya dari kain brokat, diupayakan yang bermotif rapat sehingga tidak memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh," ucapnya.
Maka dari itu, ia mengaku manfaat dari workshop yang dilaksanakan selama ini benar-benar telah dirasakan oleh seluruh masyarakat di Bali. Hal ini dapat dilihat tidak ada lagi masyarakat yang berpakaian kain sampai di lutut dan memakai kebaya lengan pendek saat ke pura.
Sementara untuk tata rambut, ujar dia, bagi anak-anak dan remaja putri dicirikan dengan "pusungan gonjer" yang dicirikan dengan setelah diikat dan digulung ada juntaian rambut ke bawah, sedangkan bagi wanita yang sudah berkeluarga dengan jenis "pusungan tagel".
"Untuk busana ke pura bagi kaum laki-lakinya pada intinya terdiri atas destar, saput, kamen, kemeja, dan umpal. Kain kamen harus dibuat ujungnya mengarah ke bawah sebagai simbolis menuju ibu pertiwi," ujarnya.
Sedangkan destar atau ikat kepala, kata dia, kedua ujungnya harus mengarah ke atas. Yang tidak kalah penting perpaduan "saput" dan kamen harus terlihat, jangan sampai tertumpuk.
"Laki-laki ataupun perempuan dalam penggunaan bunga segar di kepala supaya secukupnya saja. Yang wanita, sangat cocok jika di atas pusungan rambut diisi bunga segar sebanyak tiga hingga lima kuntum. Bagi pria, bunga segar bisa ditaruh di telinga," kata Tude Togog.
Belakangan ini banyak terjadi penyimpangan cara berpakaian adat ke pura dan pakain pengantin sudah tidak sesuai dengan pakem yang ada. Bahkan berpakaian adat ke pura sudah tidak sesuai dengan estetika seperti memakai kain kamen selutut. Tentunya ini harus mendapatkan perhatian serius sehingga tidak terus menyimpang.
Untuk itu workshop pakaian ke pura dan pakaian pengantin yang di gelar pada ajang PKB XL, Sabtu (8/7) di Gedung Ksir Arnawa mendapatkan sambutan baik dari seluruh PKK Kabupaten/Kota se-Bali.
Seperti Kota Denpasar yang menampilkan pakaian pengantin khas Denpasar dan menampilkan pakaian ke pura untuk anak remaja dan dewasa. Kadis Kebudayaan Kota Denpasar I Gusti Ngurah Mataram yang menjadi salah satu peserta parade pakaian ke pura mewakili PKK Kota Denpasar mengaku sangat terkesan dengan pengalaman untuk mengikuti parade pakaian ke pura di ajang PKB.
“Ini bagai kami merupakan pengalaman berharga karena dapat menampilkan bagaimana berpakaian ke pura sesuai dengan pakemnya,” ujarnya.
[pilihan-redaksi2]
Di Kota Denpasar sendiri menurut Ngurah Mataram sering dilaksanakan workshop pakaian pakaian sehingga sekarang sebagian besar masyarakat di Kota Denpasar memahami bagaimana berpakaian sesuai dengan pakemnya. Dengan semakin sering dilaksanakan workshop diharapkan masyarakat semakin paham untuk berpakaian adat sehingga tidak melenceng norma.
Di Kota Denpasar sendiri menurut Ngurah Mataram sering dilaksanakan workshop pakaian pakaian sehingga sekarang sebagian besar masyarakat di Kota Denpasar memahami bagaimana berpakaian sesuai dengan pakemnya. Dengan semakin sering dilaksanakan workshop diharapkan masyarakat semakin paham untuk berpakaian adat sehingga tidak melenceng norma.
“Kami harapkan kedepannya tidak ada lagi masyarakat kalau ke pura berpakaian kain sampai di lutut,” ujarnya.
Sedangkan warna kebaya berdasarkan kesepakatan sosial beberapa tahun terakhir, cenderung menggunakan warna kuning dan putih yang melambangkan kesucian.
"Berbeda halnya dengan zaman dulu, masyarakat kita lebih memilih menggunakan warna-warna cerah sesuai dengan ciri khas warna Bali. Memang sejauh ini tidak ada pakem khusus dan harus menggunakan warna tertentu," ucapnya. (bbn/rlsdps/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8480 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5829 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3653 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2482 Kali
05
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026