Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 2 Agustus 2026
Mertua Balas Tikam Menantu
BERITABALI.COM, GIANYAR.
I Nyoman Sudiasa (38) asal Banjar Kalah, Batubulan, Sukawati, Gianyar, terkapar bersimbah darah. Lambungnya ditusuk pisau oleh mertuanya, I Wayan Cenol (60) , Kamis (28/5).
Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan di TKP, kejadian ini terjadi lantaran sang mertua marah, karena sang menantu Sudiasa melempar dirinya dengan celurit.
“ Karena marah bapak langsung menusuk suami saya memakai pisau, “ jelas Ni Ketut Wari, istri korban.
Menurut istri korban, saat kejadian bapaknya sedang memotong daun nangka di bale daje (bangunan sisi utara rumah). Tiba-tiba entah apa yang menyulut suaminya, Sudiasa alias Sorog memukul pintu kamar dengan menggunakan besi hingga bolong.
“Nah pada saat inilah bapak menasehati suami saya. Bukannya damai, suami saya malah marah–marah dan melempar bapak dengan sabit, akibatnya bapak marah dan menikam lambung suami saya dengan pisau,” jelas istri korban.Akibat tikaman mertua, Sorog terkapar bersimbah darah dan segera di bawa ke RSUP Sanglah untuk mendapatkan perawatan.
Pasca kejadian, jajaran kepolisian Polsek Sukawati melakukan olah TKP. Polisi juga menggelandang I Wayan Cenol dan istri korban, Ni Ketut Wari untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kapolsek Sukawati, Bernad Mosak seijin Kapolres Gianyar, AKBP I Nyoman Astawa membenarkan kejadian ini. “ Korban masih dirawat di RSUP Sanglah, “ jelasnya.
Reporter: bbn/art
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 286 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 214 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 183 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun