Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 8 Mei 2026
"Penguasa" Marah Karena Tabuh Rah Dilarang
Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Nama Tibu Sempit sudah cukup dikenal oleh masyarakat Negara khususnya warga Lingkungan Satria, Pendem, Jembrana. Tibu Sempit yang terletak di satu bagian Sungai ijogading ini terkenal karena seringnya memakan korban manusia akibat tenggelam.
Made Gunarsa (72), pemangku di Pura Taman Sari yangetaknya persis di pinggir Tibu Sempit ini, Sabtu (7/9) menceritakan seringnya Tibu Sempit ini memakan korban jiwa membuat para warga di sekelilingnya berupaya secara niskal dengan memohon petunjuk dari "penguasa" Tibu Sempit. Akhirnya, lanjutnya, diperoleh petunjuk kalau "penguasa" Tibu Sempit marah karena
karena tabuh rah yang biasa digelar di pelataran pura Taman Sari tidak pernah diadakan akibat dilarang karena sudah menjurus judi atau tajen.
"Kemarahan penguasa tibu sempit itu disampaikan lewat pawisik yang mengatakan "Bes demit ne be pang rasaange, bes mekelo sing baanga ngidih getih ( Karena terlalu pelit, biar tahu rasa, sudah sangat lama tidak diberi minta darah)," ujar Gunarsa menirukan pewisik tersebut.
Setelah mendengar pawisik seperti itu, akhirnya warga kembali menggelar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari. Sejak saat itu Tibu Sempit tidak lagi memakan korban manusia. "Sekitar 20 tahun sudah Tibu Sempit tidak memakan korban lagi sejak digelarnya tabuh rah tersebut dan wargapun sudah merasa tenang," terangnya.
Namun kondisi berubah sejak polisi gencar menertibkan judi termasuk tajen yang digelar di pelataran Pura Taman Sari, sehingga bebotoh menjadi takut dan tabuh rahpun berhenti digelar. Seperti kejadian 20 tahun lalu, akhirnya "penguasa" Tibu Sempit marah dan kembali meminta tumbal manusia. "Setelah 20 tahun, akhirnya kembali Tibu Sempit meminta korban. Sejak 2 tahun belakangan mulai meminta tumbal manusia. Tahun ini saja sudah 2 orang yang meninggal tenggelam di sana," ungkapnya.
Melihat kejadian ini, warga kembali resah dan berharap diberi kelonggaran agar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari bisa tetap digelar. "Tabuh rah di sana harus tetap digelar agar "penguasa" Tibu Sempit tidak marah kemudian minta tumbal manusia," harapnya. Lanjut Ginarsa, ketika korban terakhir
tenggelam di Tibu Sempit, usaha pencarian yang dilakukan warga dengan membunyikan baleganjur dan penyelaman yang dilakukan polairud cukup lama tidak membuahkan hasil. "Akhirnya setelah digelar tajen digelar mayat korban
berhasil ditemukan,"ujarnya.(dey)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 796 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 694 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 515 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 495 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik