Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 28 September 2026
Penjor Sebagai Wujud Rasa Syukur Kepada Tuhan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Penjor adalah perwujudan rasa syukur atau terima kasih dan rasa bakti kepada Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa atas segala anugrah yang diberikan.
[pilihan-redaksi]
Bentuknya berupa persembahan beranekaragam phala wija, phala gantung, phala bungkah, dan lain sebagainya yang selalu menghiasi keindahan sebuah penjor.
Demikian terungkap dalam sebuah artikel yang berjudul “Komodifikasi Penjor Galungan Sebagai Media Komunikasi di Banjar Adat/Pakraman Siladan, Desa Tamanbali Bangli” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Vidya Samhita, Volume III, nomor 2 tahun 2017.
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa penjor merupakan simbol Gunung Agung sebagai gunung tertinggi yang memberikan keselamatan dan kesuburan, serta digambarkan sebagai Naga Basukih.
Berbeda halnya pemahaman orang beragama Bali Asli/Bali Age, seperti di Trunyan dan Tenganan misalnya, berpandangan bahwa nilai filosofis isi penjor tersebut dipersembahkan kepada leluhurnya, sebab leluhur-leluhurnya bersthana di Gunung Agung.
Penulis artikel I Wayan Wirta dari Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar menuliskan jika penjor dapat dikelompokkan menjadi beberapa pengertian.
Pertama, Penjor adalah perkataan dalam Bahasa Bali asli, yang berasal dari “pe-enyor” atau “penyor” kemudian berubah menjadi “penjor”, maksudnya penggambaran wujud bhakti atau pemujaan yang ditujukan/diperuntukkan kehadapan Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa sehubungan perayaan galungan.
[pilihan-redaksi2]
Kedua, Penjor dalam wujud fisiknya adalah sebatang bambu yang dihias dengan janur dari bawah sampai ke atas, kemudian diisi hasil bumi, baik berupa buah maupun berupa umbi-umbian yang digantung pada penjor, sebagai persembahan terhadap leluhur dan Tuhan yang bersathana di puncak gunung tertinggi, dalam hal ini Gunung Agung.
Kemudian ketiga, penjor singkatan dari kata “pring salojor” artinya sebatang bambu yang yang melengkung dihias sedemikian rupa sebagai media untuk mengungkapkan rasa bhakti terhadap Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Jadi penjor tidak semata-mata ditunjukkan dengan unsur estetis/ keindahan, namun terkandung penuh makna di dalamnya.
Dalam perkembanganya simbol penjor sudah mengalami perubahan, yaitu perubahan nilai, bukan hanya sekedar bentuk persembahan secara ritual-material, tetapi lebih kepada bagaimana umat Hindu sendiri mampu mempersembahkan sesuatu yang bernilai spiritual.
Dimana sudah terjadi komodifikasi penjor galungan, yang awalnya memiliki nilai guna menjadi memiliki nilai tukar yang dapat dijual/ dipasarkan. Sebuah penjor yang bagus harga jualnya sampai mencapai empat atau lima jutaan rupiah.
Adapun biaya yang dibutuhkan untuk membuat sebuah penjor yang tergolong utama/lebay sekitar tiga jutaan rupiah. [bbn/ Vidya Samhita/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8495 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5838 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3661 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2490 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar