Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 2 November 2026
Perajin Tikar Pandan di Negara Terkendala Bahan Baku
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Perajin tikar pandan tetap mempertahankan nilai tradisi di Kabupaten Jembrana meski kesulitan menemukan bahan baku yang berduri di pinggir pantai ataupun kebun.
Tikar pandan yang masuk dalam suku pandanaceae memiliki fungsi bunga jantan pandan yang sangat bagus bila dilestarikan terutama baik untuk pengharum ruangan, pakaian, dan minyak wangi. Bahkan, varietas buahnya dapat dimakan. Sedangkan daunnya dimanfaatkan membuat kerajinan topi dan tikar.
Perajin tikar pandan Ni Made Suartini (51) warga Banjar Puana, Desa Tegalbadeng Barat, Kecamatan Negara menceritakan sudah 40 tahun menggeluti usaha tikar pandan dari sejak sekolah dasar. Hal ini dilakukan turun temurun hingga saat ini ia telah dikaruniai dua anak. Dimana yang pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih sekolah.
"Bahan pandan dibeli dari pemilik tanaman pandan yang ada di Jembrana. Kemudian bahan dibersihkan durinya dan digulung setelah itu dijemur sampai kering. Kurang lebih 3 minggu, itu pun tergantung cerahnya sinar matahari," ujarnya.
Proses pengayamannya pun dilakukan secara tradisional. Dalam satu hari, ia bisa mengerjakan tikar pandan 2-3 lembar. Dengan ukuran panjang 1,5 meter dan lebar 1,25 meter. Harganya terbilang lumayan murah dan yang penting kualitas barang terjamin. Rata-rata pelanggannya banyak di Pasar Negara.
"Yang sangat disayangkan pandemi Covid-19 ini justru pemesan tikar lontar menurun drastis. Karena jarang ada pesanan dan bahan juga sulit dicari. Karena banyak sekitar pinggiran pantai atau pinggir kali kini bahan pandan sulit mencari. Bahkan harga sebelum Pandemi Covid-19 itu satu tikar pandan 20 ribu rupiah, tapi kini dijual dengan banting harga cuman 10 ribu rupiah," katanya.
Meski demikian, Suartini mengaku tidak putus asa dengan tetap menjalani usaha demi menghidupkan keluarga, karena suaminya hanyalah pekerja serabutan. Ia tetap mensyukuri apa pun hasil yang ada karena ia anggap hidup adalah sebuah tantangan.
"Harapan terutama untuk perajin tikar pandan agar pemerintah daerah juga ikut mendukung usaha ini. Sehingga gairah sebagai perajin tikar pandan mendapatkan angin segar dalam menjalankan usaha," pungkasnya.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 480 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 391 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 324 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan