Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Suasana berbeda terlihat di Pura Masceti, Desa Sayan, Ubud, Minggu (29/3), saat ratusan krama subak dari Desa Sayan dan Desa Singakerta berkumpul dalam tradisi sakral Perang Tipat.
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual seremonial, melainkan wujud rasa syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah selama enam bulan terakhir. Pura Masceti yang berfungsi sebagai Pura Ulun Suwi menjadi pusat pelaksanaan tradisi yang diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas dan empat desa adat.
Pemangku pura, Jero Mangku Made Ngastra, menjelaskan bahwa Perang Tipat memiliki makna spiritual yang mendalam dalam menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.
“Ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan terakhir,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Tradisi ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya tiga hari setelah nyineb piodalan yang bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung. Sejak pagi hari, krama subak telah memadati area pura dengan membawa pepranian berupa banten berisi tipat kelanan.
Menariknya, hanya sebagian tipat yang dihaturkan dalam persembahyangan, sementara sisanya dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga sebagai berkah.
Usai prosesi persembahyangan, suasana yang sebelumnya khusyuk berubah menjadi meriah. Diiringi tabuhan baleganjur, krama dari berbagai usia saling melempar tipat yang telah melalui proses upacara.
Meski disebut “perang”, tradisi ini berlangsung penuh keceriaan tanpa adanya konflik. Tawa dan kebersamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tersebut.
Di balik kemeriahan itu, masyarakat meyakini bahwa tradisi ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Tidak dilaksanakannya ritual ini dipercaya dapat berdampak buruk, seperti munculnya hama yang mengganggu pertanian.
Baca juga:
Tradisi Perang Tipat-Bantal
Selain Perang Tipat, para petani juga melaksanakan ritual nunas ulam bawi. Sarana upacara ini kemudian ditempatkan di palinggih yang ada di area persawahan sebagai simbol perlindungan.
"Ritual ini bertujuan memohon kesuburan tanaman padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari berbagai halangan hingga masa panen," imbuh Jro Mangku Made Ngastra.
Tradisi Perang Tipat di Desa Sayan menjadi bukti kuat bagaimana kearifan lokal Bali tetap terjaga, sekaligus mempererat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas di tengah perkembangan zaman.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 644 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 607 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 453 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 443 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik