Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah

Senin, 30 Maret 2026, 16:36 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali/Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Suasana berbeda terlihat di Pura Masceti, Desa Sayan, Ubud, Minggu (29/3), saat ratusan krama subak dari Desa Sayan dan Desa Singakerta berkumpul dalam tradisi sakral Perang Tipat.

Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual seremonial, melainkan wujud rasa syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah selama enam bulan terakhir. Pura Masceti yang berfungsi sebagai Pura Ulun Suwi menjadi pusat pelaksanaan tradisi yang diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas dan empat desa adat.

Pemangku pura, Jero Mangku Made Ngastra, menjelaskan bahwa Perang Tipat memiliki makna spiritual yang mendalam dalam menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.

“Ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan terakhir,” ujarnya singkat namun penuh makna.

Tradisi ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya tiga hari setelah nyineb piodalan yang bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung. Sejak pagi hari, krama subak telah memadati area pura dengan membawa pepranian berupa banten berisi tipat kelanan.

Menariknya, hanya sebagian tipat yang dihaturkan dalam persembahyangan, sementara sisanya dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga sebagai berkah.

Usai prosesi persembahyangan, suasana yang sebelumnya khusyuk berubah menjadi meriah. Diiringi tabuhan baleganjur, krama dari berbagai usia saling melempar tipat yang telah melalui proses upacara.

Meski disebut “perang”, tradisi ini berlangsung penuh keceriaan tanpa adanya konflik. Tawa dan kebersamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tersebut.

Di balik kemeriahan itu, masyarakat meyakini bahwa tradisi ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Tidak dilaksanakannya ritual ini dipercaya dapat berdampak buruk, seperti munculnya hama yang mengganggu pertanian.

Selain Perang Tipat, para petani juga melaksanakan ritual nunas ulam bawi. Sarana upacara ini kemudian ditempatkan di palinggih yang ada di area persawahan sebagai simbol perlindungan.

"Ritual ini bertujuan memohon kesuburan tanaman padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari berbagai halangan hingga masa panen," imbuh Jro Mangku Made Ngastra.

Tradisi Perang Tipat di Desa Sayan menjadi bukti kuat bagaimana kearifan lokal Bali tetap terjaga, sekaligus mempererat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas di tengah perkembangan zaman.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami