Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Produksi Tembakau Tidak Maksimal
Baktiseraga
BERITABALI.COM, BULELENG.
Potensi pengembangan tembakau di Kabupaten Buleleng sangatlah potensial, hampir setiap lahan di Bali Utara, khususnya di Buleleng tengah ditanami tembakau. Namun, lantaran kesuburan tanahnya berkurang, berakibat pada produksi tembakau yang tidak maksimal.
Daerah ini potensial untuk mengembangkan tembakau. Namun, lahan yang ada belum sepenuhnya dikembangkan oleh petani karena adanya beberapa faktor yang menyebabkan petani ataupun perusahaan tembakau hanya melirik lahan di wilayah perkotaan saja,ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng, Ir. Komang Gede Yasa.
Karena pengembangan yang sudah cukup lama dan terpusat di sekitar perkotaan, kesuburan tanah menjadi turun, sehingga produksi tembakau menjadi turun. Terbukti dari hasil panen yang dilakukan hanya mencapai 1,8 ton tiap hektar lahan, padahal sebelumnya dalam setiap panen bisa menghasilkan tembakau kering 2,200 ton.
Kadishutbun Buleleng, Komang Gede Yasa mengatakan, tembakau dikembangkan mulai tahun 1971 silam hingga sekarang hanya dikembangkan di dekat wilayah perkotaan, sedangkan wilayah yang agak ke pinggir kota malah tidak ditanami tembakau. Penanaman tembakau yang berlangsung terus menerus itulah membuat kesuburan tanah menjadi turun.
Ini diakibatkan pemakaian pupuk kimia yang berlebihan, sehingga unsur hara tanah menjadi terkikis dan jika dipaksakan ditanami tembakau maka dipastikan produksinya tak maksimal,papar Komang Gede Yasa.
Nyoman Suyasa dan I Gusti Made Artana dari Desa Baktiseraga, petani yang bergerak dalam tembakau mengakui tidak melirik penanaman tembakau di pedesaan karena alasan biaya produksi yang begitu tinggi.
Ongkos transportasi jika pengembangan tembakau di pedesaan lebih besar dibandingkan di perkotaan, tenaga kerja yang diperlukan lebih banyak termasuk ongkosnya pun jauh lebih tinggi, papar Suyasa dan Artana.
Jika diperkotaan upah tenaga kerja Rp 17.000 per hari, sedangkan di pedesaan upahnya lebih tinggi yakni Rp 25.000 per hari. Tingginya biaya operasional inilah membuat petani dan pengusaha hanya melirik pengembangan di perkotaan saja meskipun produksinya masih minim.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5837 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2564 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2208 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2192 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan