Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 5 Agustus 2026
Semarak Imlek di Gianyar, Seperti Galungan di Bali
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Pasca-pandemi Covid-19 perayaan imlek kembali dilakukan penuh suka cita. Seperti yang terlihat di Gianyar, Bali.
Warga keturunan Tionghoa yang menetap di Gianyar melakukan persembahyangan imlek. Pada 15 hari kemudian, perayaan dilanjutkan dengan persembahyangan Cap Go Meh.
Salah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Kelurahan Gianyar, Kadek Agus Arimbawa mengatakan, perayaan imlek dilakukan seperti Galungan di Bali. Ia bersama keluarga bersembahyang di wihara atau konco dengan perlengkapan canang sari serta manisan.
"Canang sari, canang manisan, bedanya kita isi tehnya," ujar Agus.
Kata Agus, Imlek merupakan perayaan yang menandakan bahwa musim semi segera tiba, mengingat Imlek diperingati berdasarkan kalender lunar Cina.
"Secara harfiah, tahun baru cina diambil dari bahasa Tionghoa, yaitu Chunjie yang artinya Festival Musim Semi. Imlek juga menggambarkan suasana ketika musim semi tiba, yang berarti musim dingin telah usai," ujarnya.
Di Gianyar sendiri, persiapan Imlek diawali dengan membersihkan sarana alat persembahyangan, tempat ibadah seperti wihara, bio maupun rumah, seminggu sebelumnya.
Sehari sebelum Imlek atau pada hari Sabtu (21/1), warga Tionghoa melakukan persembahyangan tutup tahun di rumah masing - masing maupun di kongco atau wihara.
"Persembahyangan tutup tahun bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur karena telah diberikan kemudahan menjalani tahun sebelumnya," ujar Agus yang sudah lima generasi menetap di Gianyar.
Hari Minggu (22/1/), sudah memasuki tahun baru sesuai dengan sistem kalender cina. Seluruh warga Tionghoa melakukan persembahyangan ke tempat ibadah dan terutama di rumah yang ditujukan kepada leluhur. Dengan harapan diberikan kemudahan dan kesejahteraan untuk menempuh tahun mendatang.
"Setelah melakukan persembahyangan di rumah, biasanya mengunjungi rumah sanak saudara lainnya untuk bersilaturahmi dan juga membagi angpao kepada anak - anak sebagai ucapan rasa syukur, membagi rezeki," terangnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, saat 15 hari setelahnya. dikenal dengan Cap Go Meh. "Di hari ke-15 perayaan Imlek ditutup dengan persembahyangan menggunakan sarana lontong, sehingga dikenal sebutan lontong Cap Go Meh," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 2568 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1262 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 907 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 828 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 654 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun