Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Sosok Ni Ketut Parmiani, Penari Tenun Pertama di Bali
Menari Tenun Membawa Parmiani Melanglang Buana Bersama Presiden Sukarno
Sabtu, 16 Juni 2018,
08:45 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com,Badung. Seolah-olah seluruh tubuhnya telah dialiri darah seni tari membuat tubuh wanita ini tidak ingin berhenti meliak-liuk, untuk terus menari dan menari. Sosok penari tersebut adalah Ni Ketut Parmiani yang menari sejak berusia 8 tahun hingga saat ini di usia senjanya.
[pilihan-redaksi]
Berbagai macam tarian tradisional Bali telah mampu dikuasai saat belia, sehingga membawa dirinya menari dari Istana Presiden Jakarta dan Bogor bahkan sampai melanglang buana bersama sang Presiden Indonesia pertama Bung Karno ke luar negeri.
Berbagai macam tarian tradisional Bali telah mampu dikuasai saat belia, sehingga membawa dirinya menari dari Istana Presiden Jakarta dan Bogor bahkan sampai melanglang buana bersama sang Presiden Indonesia pertama Bung Karno ke luar negeri.
Adapun Dunia tari Parmiani tidak lepas dari sosok sang paman yang ikut menginspirasi. Sang Paman, I Nyoman Ridet merupakan sosok pencipta salah satu seni tari tradisional Bali yaitu, tari Tenun.

"Ada beberapa tahapan-tahapan dalam kegiatan menenun yang pada saat paman saya mencipta tari Tenun tersebut, didampingi sang istri dari paman saya di Banjar Campuhan," kenang Wanita berusia 73 tahun ini saat ditemui langsung di kediamannya di daerah Kerobokan, Badung.
Pada tahun 1957, ia mengingat bagaimana proses penciptaan dan menarikan tari Tenun pertama kali dihadapan Khalayak. Parmiani juga sempat menarikannya ke Istana Negara bersama beberapa teman dari Bali dan ke mancanegara seperti negara Mesir dan Afrika bersama Presiden RI Bung Karno. Menurutnya saat menari tari Tenun pertama kali sama sekali tidak ada kesulitan yang berarti.
"Saya rasa tidak ada kesulitan dalam membawakan tari Tenun ciptaan dari Paman saya tersebut. Ya, mungkin itu disebabkan karena, saya sudah terbiasa menari dari sejak kecil," kenangnya sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Hingga sampai saat ini dirinya menari, Parmiani masih ingat dengan sangat baik tiap gerak tahapan tari Tenun tersebut.
[pilihan-redaksi2]
"Jika saya tidak menari malah membuat badan ini terasa sakit. Jika saat ini saya disuruh menarikan kembali tari Tenun tersebut, saya masih ingat dengan sangat baik semua gerak dalam setiap tahap tarian tersebut," paparnya sembari mengelus rambutnya yang terlihat mulai memutih.
"Jika saya tidak menari malah membuat badan ini terasa sakit. Jika saat ini saya disuruh menarikan kembali tari Tenun tersebut, saya masih ingat dengan sangat baik semua gerak dalam setiap tahap tarian tersebut," paparnya sembari mengelus rambutnya yang terlihat mulai memutih.
Wanita yang sempat menjadi penyiar di RRI Bali ini merasa sangat sedih, karena sampai saat ini belum begitu banyak generasi muda yang mau meneruskan tari Tenun tersebut.
"Sampai saat ini belum ada generasi muda yang benar-benar mau meneruskan untuk belajar menari tarian Tenun ini. Memang ada, akan tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak yang mau belajar. Ya, harapan saya ada banyak generasi penerus kedepanya yang mau belajar tari Tenun," harap nenek tiga cucu ini. (bbn/aga/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026