Beritabali.com, Tabanan. Tiga warga
Tabanan yakni I Gusti Putu Sujana (65), I Nengah Mungkrig (65), dan I Made Sutanaya (55) asal Desa Gubug, Kecamatan Tabanan suspects terjangkit bakteri Meningitis Streptococcus Suis. Kini ketiganya dirawat di masing-masing rumah sakit yakni RS Sangglah Denpasar, RS Wismaprasanti Tabanan dan BRSUD Tabanan.
[pilihan-redaksi]
Ni Made Mastri (54), yang sedang menunggu suaminya I Made Sutanaya (55) menjalani perawatan di BRSU
Tabanan, Senin (13/3) mengatakan sebelum suaminya dirawat di BRSU
Tabanan sempat menjalani pengobatan dokter. Namun obat yang diberikan dokter tidak mempan. Mastri mengaku kalau suaminya suka makan lawar babi dan kuah barak. Bahkan hampir setiap minggu membuat lawar di rumahnya.
Puncaknya saat ada upacara keagamaan di rumah tetangganya, suaminya makan lawar babi. Dua minggu berselang, tiba-tiba suhu badan korban panas, disertai sakit kepala dan muntah-muntah.
“Saya sempat periksakan ke dokter, namun tidak kunjung sembuh,” jelasnya.
Oleh dokter, suaminya disarankan menjalani pengobatan dan perawatan di BRSU
Tabanan. Setelah menjalani perawatan hingga lima hari keadaannya berangsur membaik, muntah-muntah serta panas badan sudah hilang. Hanya saja sisa dari efek tersebut menyebabkan Sutanaya tidak bisa mendengar.
"Dari empat hari lalu, saya sempat panggil-panggil kok tidak mau nyahut, ternyata suami saya tidak bisa mendengar," tambah Mastri.
Sementara, agar bisa berkomunikasi, Mastri menggunakan kode dan tulisan. Ia tidak menyangka suaminya tidak bisa mendengar, padahal sebelumnya tidak ada riwayat tuli.
"Mudah-mudahan cepat sembuh, terutama pendengaran bisa pulih," harapnya.
Direktur BRSU
Tabanan dr Nyoman Susila yang didampingi dr Spesialis syaraf BRSU
Tabanan Ni Ketut Sudiarani membenarkan pihaknya merawat salah satu pasien suspect MMS. Dikatakanya, Meningitis merupakan peradangan yang mennyelubungi otak.
"Bisa menyebabkan kejang, mengingat pasien datang pertama dalam kondisi kejang, serta saat ini sisa efeknya pasien tidak bisa mendengar," ungkapnya.
dr Sudiarani pun menambahkan, karena gejala penyakit yang disebabkan sama dengan bakteri MSS, pihaknya telah melakukan pengambilan spisemen darah dan cairan otak sebanyak 3 cc pada Jumat (10/3). Belum bisa dipastikan pakan terjangkit bakteri Streptococcus karena hasil lab masih berada di RS Sanglah.
"Kami di BRSU
Tabanan tidak punya mikro biologi hanya bisa memeriksa rutin dan mengetahui sampai di infeksi. Dan infeksi karena apa itu, kami tidak tahu makanya masih menunggu hasil lab," terang dr Sudiarani.
[pilihan-redaksi2]
Ketua Komisi IV DPRD
Tabanan I Made Dirga sempat menjenguk Made Sutanaya di BRSU
Tabanan. Ia sempat memintai keterangan dari dokter yang merawat Sutanaya. Setelah Dirga, Sutanaya juga dijenguk oleh Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya. Sanjaya berpesan agar pihak BRSU
Tabanan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien Sutanaya.
“Masyarakat yang ingin mengkonsumsi daging babi yang sudah dimasak. Jangan yang masih mentah ataupun setengah matang, “ jelas Wabup Sanjaya. [nod/wrt]