Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 29 Agustus 2026
Ustadz Khalid Basalamah Sebut Wayang Haram, Dikecam DPR
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Ustadz Khalid Basalamah yang mengeluarkan fatwa haram terhadap wayang dikecam Ketua Badan Anggaran DPR RI MH Said Abdullah. Ia menuturkan bahwa kehidupan keagamaan seolah tidak henti dirundung berbagai fatwa agama yang tanpa konteks.
“Sedemikian mudahnya agamawan meluncurkan fatwa yang berakibat segregasi sosial makin menguat. Agama, apalagi Islam diturunkan kepada manusia di muka bumi bukan untuk membuat permusuhan,” katanya, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (15/2/2022) dikutip dari Warta Ekonomi.
Lebih lanjut Ia menjelaskan bila agama malah menuntun manusia untuk berbuat baik secara transendensi maupun antroposentri. Untuk kesekian kalinya kita dikejutkan, di usik dengan atas pengharaman fatwa oleh seorang ustad.
“Barangkali Ustad Basamalah kurang membaca riwayat syiar Islam para wali, khususnya Wali Songo di tanah Jawa,” ucapnya.
Ia menuturkan bahwa Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan lembut, menghargai eksistensi kebudayaan Jawa yang memang sudah matang.
Jawa pra Islam telah menjadi kebudayaan tinggi, banyak karya agung mulai Candi Borobudur dan Prambanan yang merupakan simbol kerukunan Hindu dan Budha. Saat ini juga dikenal banyak maha karya susastra, seperti Negarakertagama, Pararaton, Sutasoma, Arjunawiwaha, dan lain lain adalah wujud Jawa pra Islam sudah matang sebagai entitas kebudayaan.
Saat Islam masuk ke nusantara, khususnya Jawa pada abada 11 Masehi melalui hubungan internasional leluhur kita di berbagai bidang; perdagangan, politik, kasusastraan, dll, tidak dengan serta merta mengabaikan berbagai kebudayaan tinggi yang tumbuh di Jawa.
Bahkan ketika Kerajaan Demak berdiri, sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, para wali menempatkan kebudayaan Jawa di tempat yang tinggi. Mereka tidak dengan mudah melarang petik laut, sedekah bumi, hingga berbagai kesenian seperti wayang.
Bahkan melalui berbagai kebudayaan itu para wali meletakkan Islam dalam proses inkulturasi, memasukkan ketauhidan Islam melalui berbagai kebudayaan yang tumbuh di tengah tengah masyarakat.
Malah dengan kreatif, Sunan Kalijaga menciptakan berbagai tembang tembang Jawa sebagai sarana mengenalkan Islam dengan lembut, agar mudah dipahami dan diterima di tanah Jawa. Misalnya saja kita mengenal tembang tombo ati, lir ilir, turi putih, mampir ngombe, dll, kesemuanya diterima dengan baik dan menjadi ruang dakwah kultural yang menyentuh hati.
Sunan Kalijogo pun menggunakan wayang kulit untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat di Tuban dan sekitarnya. Jika wayang pra Islam tidak mengenai eksistensi Sang Hyang Tunggal, Sunan Kalijogo mengenalkan eksisten Sang Hyang Tunggal dalam kisah pewayangan. Islam menjadi mudah dipahami, tanpa harus mengganggu eksistensi liyan.
Seiring bergulirnya waktu, para pendakwah Islam di nusantara harusnya lebih bijak dan bajik. Sayangnya banyak pihak memahami Islam tanpa konteks. Menganggap pemahamannya paling benar, dan ditawarkan secara kasar ditengah tengah masyarakat.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4725 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2533 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2173 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1790 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1215 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun