Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Viral Siswi Kuasai 4 Bahasa Asing, Ortu Sempat Bilang Tak Waras
BERITABALI.COM, NTB.
Anggun Fitriani (16 tahun), siswi kelas 1 SMA di Kecamatan Sape, Kabupaten Bima viral di media sosial. Dia menyedot perhatian warganet karena kemampuannya menggunakan empat bahasa asing sekaligus.
Dalam video yang beredar di media sosial, Anggun Fitriani memperkenalkan diri dalam 4 bahasa sekaligus yakni Jerman, Jepang, Korea dan Inggris. Dari empat bahasa tersebut, Bahasa Jerman disebut-sebut sebagai bahasa yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi.
Tapi tidak bagi Anggun, yang terdengar begitu fasih mengenalkan dirinya dalam sebuah video. Anggun memperkenalkan diri diambil dalam suatu kegiatan.
Hingga saat ini, video yang berdurasi 1 menit 56 detik itu telah dibagikan secara berantai oleh netizen sebanyak 417 kali, mendapat 339 like, dengan puluhan komentar positif.
Viralnya Anggun Fitriani membuat bangga kedua orang tuanya. Sebab dia viral karena melakukan sesuatu yang positif, bukan tindakan negatif. Kebanggaan itu dirasakan pasangan Herman Prasetyo dan Endang Fitriani, orang tua Anggun.
Mereka bersyukur video yang viral bukan aksi joget-joget atau perbuatan yang tercela, tapi unjuk kemampuan sang anak menggunakan 4 bahasa asing sekaligus.
"Iya, kaget juga lihat anak viral di medsos. Yang penting bukan yang aneh-aneh," ujarnya saat diwawancarai wartawan via ponsel.
Menurut sang ayah, anaknya tersebut sudah menunjukkan ketertarikan pada bidang bahasa sejak masih duduk di bangku kelas VI SD.
"Sering-sering dengar lagu luar negeri gitu," ungkapnya.
Herman juga menceritakan, dirinya pernah mengomeli sang anak lantaran kerap bernyanyi menggunakan bahasa yang tidak ia pahami tengah malam.
"Saya pikir dia tidak waras, jadi sering saya omelin. Ternyata dia nyanyi itu untuk belajar bahasa," akunya.
Meski telah viral, Herman meminta kepada anaknya untuk tidak lekas puas dengan kemampuan yang dimiliki. Bahkan Herman mengaku, ingin anaknya mengikuti kelas atau kursus bahasa agar kemampuan yang dimiliki saat ini lebih terasah. Hanya saja secara ekonomi, ia dan istri tidak mampu jika harus membayar kelas khusus.
"Kami hanya pedagang kecil. Pergi pagi, pulang sore dengan pendapatan pas-pasan untuk sehari-hari," akunya, dikutip Tribun Lombok.
Ia berharap, ada perhatian pemerintah dengan potensi dan bakat yang dimiliki sang anak sehingga mendapatkan bantuan pendidikan khusus.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6018 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2349 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2243 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan