Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Pertamakali Dipentaskan Dalam Sejarah PKB

Rabu, 17 Juni 2009, 19:21 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Untuk pertamakalinya dalam sejarah penyelenggaraan PKB, dan baru menginjak yang ke-31, seni gamelan gambang ini mendapatkan kesempatan tampil. Seperti Rabu (17/6) tadi pagi, Sekaa gambang Candra Metu Banjar Kuanji Mengwi Badung mendapat jatah pertama tampil di kalangan Angsoka.

 



Meski penontonnya tidak begitu membludak, tapi untuk ukuran seni tradisional yang baru pertama kali tampil, mampu menyedot ratusan pengunjung PKB. Musik tradisional ala Bali yang memiliki 7 nada ini mampu menghibur penonton. Menurut Ketua Sekka Gambang Candra Metu Kwanji Mengwi, Made Ganda, belakangan ini fungsi seni gambangnya tidak hanya untuk keperluan pitra yadnya (ngaben), tapi juga belakangan sudah kian beragam, misalnya juga untuk upacara manusia yadnya seperti pernikahan, dan juga ngayah di Pura.


"Juga pernah ngayah di Besakih, dan pada upacara pemelaspasan Pura di Pemda Badung," ujar Made Ganda, di sela-sela pertunjukan gambangnya di arena PKB. Sekka gambangnya, kata Ganda, tidak hanya disewa di seputaran Badung saja, tapi juga hampir di seluruh kabupaten di Bali.



Ganda mengakui, selama ini pihaknya kesulitan mencari tukang gamelnya, pasalnya untuk menguasai keterampilan ini relatif sulit, bahkan seni gambang ini termasuk yang paling sulit di antara jenis gamelan lainnya.


"Tapi syukurlah sekarang saya sudah punya 11 orang penabuh," ujar Ganda dengan nada bangga. Dilihat dari usianya, di atas 30 tahun sampai 65 tahun. Sebelumnya, dia mengaku sangat sulit mencetak penabuh sampai terampil.



Menurut Ganda, untuk bisa terampil menguasai gamelan ini setidaknya dibutuhkan waktu 2 bulan, itupun kalau dilakukan serius. Dari 7 nada yang dimiliki gamelan ini, tidak semua nada bisa dihidupkan untuk setiap jenis tabuh. "Dua nada pasti mati untuk setiap jenis tabuh," jelas Ganda yang pensiunan guru ini. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/sin



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami