Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 5 Mei 2026
Ngurah Pemecutan Segera Terbitkan Buku
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Lukisan sidik jari terancam kehilangan generasi penerusnya. Pasalnya hingga saat ini pelukisnya hanya ada satu-satunya di bahkan di dunia yang sekaligus juga sebagai perintisnya, yakni Gusti Ngurah Gede Pemecutan (73).
Ngurah Pemecutan sendiri mengaku belum ada orang lain yang mau menekuni karya lukis yang proses pembuatannya dibuat dengan sentuhan atau tekanan ujung jari tangan. Padahal model atau corak lukisan ini sangat unik dan langka, dan dijamin sulit dipalsu oleh oknum-oknum yang suka melecehkan hak cipta. Menyadari terancam musnahnya lukisan sidik jari di masa-masa datang, Ngurah Pemecutan pun punya kiat jitu dalam mewariskan ilmu melukis dengan sidik jari tersebut.
"Saya segera akan menerbitkan buku tentang 'Cara Belajar Melukis dengan Sidik Jari'," ujar Ngurah Pemecutan, Rabu (24/6). Saat ini, buku itu dalam proses penyelesaian. Bahkan dia sudah mengusahakan mendapatkan sambutan dari Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Rektor ISI Denpasar, dan Dekan Seni Rupa ISI Denpasar, untuk dimuat di dalam buku tersebut.
Ngurah Pemecutan yakin, dengan media buku itu, seseorang yang benar-benar serius ingin belajar dan menguasai ilmu melukis dengan sidik jari akan dengan mudah mempelajarinya. "Kuncinya asal belajarnya serius, pasti bisa," tandas Ngurah, yang ratusan karyanya dikoleksi orang-orang penting di luar negeri termasuk juga di dalam negeri, antara lain mantan Ibu Negara Filipina, Imelda Marcos. "Lukisan yang dibeli Ibu Imelda berjudul 'Tari Teruna'," ujar Ngurah Pemecutan yang mulai melukis dengan sidik sejak 1967. Berapa harganya? Pemecutan tak mau menyebut angkanya. Bagi dia, harga karya-karyanya tidak dipatok seperti produk massal pabrikan.
"Saya jual lukisan tergantung siapa yang beli. Artinya, apakah dia benar-benar senang atau sekadar beli," terangnya.
Bagaimana kisah lahirnya lukisan sidik jari? Kata Pemecutan, sejak awal sama sekali tak ada rencana melukis dengan sidik jari, tapi hanya kebetulan saja yang muncul dari keisengan ketika merasa gagal melukis Tari Baris. Saat itu, kenang Ngurah Pemecutan, secara iseng menyentuh-nyentuhkan ujung jari telunjuknya yang sudah dilumuri cat ke atas lukisan Tari Baris yang dianggap gagal itu. Tapi sesaat kemudian, setelah istirahat, dia menemukan sesuatu yang indah dan unik dalam lukisan tersebut.
"Jadi lukisan sidik jari sesungguhnya lahir dari kegagalan yang berhasil," kenang Ngurah Pemecutan sambil tertawa.
Lukisan sidik jari diakui relatif rumit, butuh kesabaran, ketelitian dan waktu penyelesaian yang lebih lama. Salah satu lukisannya berjudul 'Perang Puputan Badung' berukuran 3 meter x 1,5 dikerjakan selama 18 bulan. Untuk menyelesaikannya, Ngurah Pemecutan setidaknya harus melakukan sentuhan atau tekanan jari sebanyak 7.500 kali.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 419 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 363 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 354 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang