Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 14 Juli 2026
Nekad Melaut Saat Angin Kencang
Pengambengan
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Seminggu belakangan ini, di Jembrana angin di laut bertiup cukup kencang. Sejumlah nelayan di Desa Pengambengan, Negara terpaksa mempertaruhkan nyawanya dengan melaut demi menyambung berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dari informasi yang dihimpun, pada awal angin kencang berhembus, para nelayan tidak berani melaut lantaran khawatir dengan kemungkinan resiko yang akan menimpanya di lautan. Angin kencang sangat berpotensi menyebabkan gelombang tinggi yang berimbas bagi keselamatan nelayan di laut.
Selain itu, kencangnya hembusan angin juga mengakibatkan sulit mendapatkan ikan lantaran jarang sekali ikan berada di dekat permukaan air laut. Namun, seminggu berarti menguras dana cadangan nelayan sehingga kian lama kian menipis.
Terlebih lagi bagi nelayan yang tidak memiliki pekerjaan sampingan seperti bertani atau beternak. Kondisi terjepit ini mengakibatkan mereka tidak punya pilihan lain selain melaut dengan menantang berbagai resiko yang mungkin menimpa mereka.
Perbekel Pengambengan, Asmuni Turyadi dihubungi, Selasa (14/7) membenarkan kalau nelayan yang mayoritas penduduknya tetap nekad melaut kendatipun angin berhembus cukup kencang.
Menurut Asmuni, nelayan tetap nekad melaut dan sadar kemungkinan resiko terburuk bisa menimpanya. “Kendatipun nekat melaut, mereka tetap waspada dan penuh dengan kehati-hatian,” tandasnya.
Asmuni juga mengungkapkan selama angin kencang berhembus belum ada nelayan yang mengalami petaka namun hasil tangkapan mereka masih jauh dari standar yang bisas mereka dapatkan. “Kalau melaut dengan perahu besar dalam kondisi normal, mereka bisa membawa 20 ton hingga 30 ton ikan. Kalau saat musim angin seperti sekarang ini, nelayan hanya bisa membawa pulang dua sampai lima ton ikan,” terang Asmuni.
Dengan minimnya hasil tangkapan ini, tambah Asmuni, nelayan tidak memperoleh keuntungan lantaran penjualan ikan hasil tangkapan hanya bisa menutup biaya operasional seperti pembelian solar dan membayar ABK. (dey)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3676 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1350 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1229 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1075 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1050 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun