Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Nekad Melaut Saat Angin Kencang
Pengambengan
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Seminggu belakangan ini, di Jembrana angin di laut bertiup cukup kencang. Sejumlah nelayan di Desa Pengambengan, Negara terpaksa mempertaruhkan nyawanya dengan melaut demi menyambung berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dari informasi yang dihimpun, pada awal angin kencang berhembus, para nelayan tidak berani melaut lantaran khawatir dengan kemungkinan resiko yang akan menimpanya di lautan. Angin kencang sangat berpotensi menyebabkan gelombang tinggi yang berimbas bagi keselamatan nelayan di laut.
Selain itu, kencangnya hembusan angin juga mengakibatkan sulit mendapatkan ikan lantaran jarang sekali ikan berada di dekat permukaan air laut. Namun, seminggu berarti menguras dana cadangan nelayan sehingga kian lama kian menipis.
Terlebih lagi bagi nelayan yang tidak memiliki pekerjaan sampingan seperti bertani atau beternak. Kondisi terjepit ini mengakibatkan mereka tidak punya pilihan lain selain melaut dengan menantang berbagai resiko yang mungkin menimpa mereka.
Perbekel Pengambengan, Asmuni Turyadi dihubungi, Selasa (14/7) membenarkan kalau nelayan yang mayoritas penduduknya tetap nekad melaut kendatipun angin berhembus cukup kencang.
Menurut Asmuni, nelayan tetap nekad melaut dan sadar kemungkinan resiko terburuk bisa menimpanya. “Kendatipun nekat melaut, mereka tetap waspada dan penuh dengan kehati-hatian,” tandasnya.
Asmuni juga mengungkapkan selama angin kencang berhembus belum ada nelayan yang mengalami petaka namun hasil tangkapan mereka masih jauh dari standar yang bisas mereka dapatkan. “Kalau melaut dengan perahu besar dalam kondisi normal, mereka bisa membawa 20 ton hingga 30 ton ikan. Kalau saat musim angin seperti sekarang ini, nelayan hanya bisa membawa pulang dua sampai lima ton ikan,” terang Asmuni.
Dengan minimnya hasil tangkapan ini, tambah Asmuni, nelayan tidak memperoleh keuntungan lantaran penjualan ikan hasil tangkapan hanya bisa menutup biaya operasional seperti pembelian solar dan membayar ABK. (dey)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan