Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 6 Mei 2026
Mirip Parade Budaya, Tak Ada Suasana Duka
Sesetan
Kamis, 16 Juli 2009,
23:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sebuah prosesi upacara ngaben atau pembakaran jenazah massal di gelar di Desa Sesetan Denpasar Bali (16/07). Upacara ngaben ini sedikit berbeda dibanding upacara sejenis lainnya di Bali karena disertai dengan aneka atraksi seni dan budaya.
Upacara ngaben massal yang dipusatkan di sekretariat perkumpulan seni GASES Bali ini diikuti oleh 28 keluarga. Sawa atau jenazah warga yang di-aben (kremasi) ini tak hanya berasal dari Desa Sesetan, tapi juga dari beberapa desa di sekitar Desa Sesetan seperti Pedungan dan Panjer.
Upacara yang dipimpin oleh 9 orang pendeta ini diawali dengan menaikkan jenazah atau sawa ke atas wadah berbentuk lembu dan menara tinggi yang disebut bade. Setelah diupacarai, puluhan wadah jenazah ini kemudian diarak ke setra atau kuburan Desa Adat Sesetan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari lokasi pemberangkatan di Sekretariat GASES Bali.
Selain arak-arakan wadah jenazah, dalam perjalanan menuju kuburan desa ini juga dipentaskan beberapa atraksi seni budaya mulai seni gambelan bleganjur, seni tari baris, hingga pawai patung ogoh-ogoh. Dengan adanya hiburan seni ini, ritual ngaben yang sebenarnya merupakan ritual kematian jauh dari suasana duka dan isak tangis.
“Ngaben disertai atraksi seni ini mempunyai makna khusus. Seni membuat orang senang, ketika senang akan muncul rasa iklas. Kalau sudah iklas, ritual ini akan menjadi utama. Disamping itu, kita semua juga pasti akan mati, jadi kalau sudah tahu akan mati, kenapa harus bersedih? Nikmati saja karena hidup ini adalah penebusan dosa,†kata Mangku Wayan Candra, Ketua Panitia Ngaben Massal ini.
“Dengan adanya ngaben massal ini, warga yang kurang mampu atau minus dalam hal ekonomi bisa dibantu, sehingga jenazah keluarganya yang sudah meninggal tidak terlalu lama tidak diaben karena bisa menjadi butha cuil, roh jahat yang bisa mengganggu kehidupan umat manusia,†imbuhnya.
Setibanya di kuburan Desa Adat Sesetan, seluruh wadah jenazah berbentuk lembu dan bade dibakar dengan menggunakan alat pembakar khusus yang disebut kompor jenazah. Abu dan sisa tulang jenazah yang diaben selanjutnya dibuang ke laut sebagai simbul kembalinya berbagai unsur pembentuk tubuh manusia pada alam atau buana agung. (bob)
Upacara ngaben massal yang dipusatkan di sekretariat perkumpulan seni GASES Bali ini diikuti oleh 28 keluarga. Sawa atau jenazah warga yang di-aben (kremasi) ini tak hanya berasal dari Desa Sesetan, tapi juga dari beberapa desa di sekitar Desa Sesetan seperti Pedungan dan Panjer.
Upacara yang dipimpin oleh 9 orang pendeta ini diawali dengan menaikkan jenazah atau sawa ke atas wadah berbentuk lembu dan menara tinggi yang disebut bade. Setelah diupacarai, puluhan wadah jenazah ini kemudian diarak ke setra atau kuburan Desa Adat Sesetan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari lokasi pemberangkatan di Sekretariat GASES Bali.
Selain arak-arakan wadah jenazah, dalam perjalanan menuju kuburan desa ini juga dipentaskan beberapa atraksi seni budaya mulai seni gambelan bleganjur, seni tari baris, hingga pawai patung ogoh-ogoh. Dengan adanya hiburan seni ini, ritual ngaben yang sebenarnya merupakan ritual kematian jauh dari suasana duka dan isak tangis.
“Ngaben disertai atraksi seni ini mempunyai makna khusus. Seni membuat orang senang, ketika senang akan muncul rasa iklas. Kalau sudah iklas, ritual ini akan menjadi utama. Disamping itu, kita semua juga pasti akan mati, jadi kalau sudah tahu akan mati, kenapa harus bersedih? Nikmati saja karena hidup ini adalah penebusan dosa,†kata Mangku Wayan Candra, Ketua Panitia Ngaben Massal ini.
“Dengan adanya ngaben massal ini, warga yang kurang mampu atau minus dalam hal ekonomi bisa dibantu, sehingga jenazah keluarganya yang sudah meninggal tidak terlalu lama tidak diaben karena bisa menjadi butha cuil, roh jahat yang bisa mengganggu kehidupan umat manusia,†imbuhnya.
Setibanya di kuburan Desa Adat Sesetan, seluruh wadah jenazah berbentuk lembu dan bade dibakar dengan menggunakan alat pembakar khusus yang disebut kompor jenazah. Abu dan sisa tulang jenazah yang diaben selanjutnya dibuang ke laut sebagai simbul kembalinya berbagai unsur pembentuk tubuh manusia pada alam atau buana agung. (bob)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 615 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 588 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 439 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 428 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026