Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Peneliti: ODHA Mulai Resisten Terhadap ARV
Nusa Dua
Senin, 10 Agustus 2009,
20:36 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Hasil penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengidentifikasi beberapa pasien HIV/AIDS di Jakarta telah resisten terhadap obat antiretroviral (ARV) lini satu. Hasil penelitian di Jakarta menunjukkan, sekitar 5 persen ODHA di wilayah ini telah resisten terhadap ARV.
Peneliti HIV/AIDS dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Prof. Samsuridjal Djauzi pada keteranganya di Nusa Dua, Senin (10/8) mengungkapkan pada dasarnya semakin lama dan banyak obat dipakai maka akan menimbulkan resistensi. Hal ini terjadi akibat mutasi yang dilakukan oleh virus.
Menurut Samsuridjal, bagi ODHA yang mengalami resistensi terhadap ARV lini satu dapat diberikan ARV lini dua. Namun ARV lini dua harganya sangat tinggi dan memiliki efek samping yang cukup buruk.
“Maka obat yang kedua ini harganya lebih mahal, lebih dari 10 kali lipat dari obat pertama, yang kedua cara penggunaanya lebih susah dan efek samping jangka panjangnya lebih banyak,†jelas Prof. Samsuridjal Djauzi.
Samsuridjal Djauzi memperkirakan, resistensi yang sama juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Begitu juga persentasenya diprediksikan sekitar 5 persen. Apalagi target pemerintah untuk mendistribusikan ARV pada sekitar 3 juta ODHA pada 2005 gagal dan hanya menjangkau 1,5 juta ODHA. (mlt)
Peneliti HIV/AIDS dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Prof. Samsuridjal Djauzi pada keteranganya di Nusa Dua, Senin (10/8) mengungkapkan pada dasarnya semakin lama dan banyak obat dipakai maka akan menimbulkan resistensi. Hal ini terjadi akibat mutasi yang dilakukan oleh virus.
Menurut Samsuridjal, bagi ODHA yang mengalami resistensi terhadap ARV lini satu dapat diberikan ARV lini dua. Namun ARV lini dua harganya sangat tinggi dan memiliki efek samping yang cukup buruk.
“Maka obat yang kedua ini harganya lebih mahal, lebih dari 10 kali lipat dari obat pertama, yang kedua cara penggunaanya lebih susah dan efek samping jangka panjangnya lebih banyak,†jelas Prof. Samsuridjal Djauzi.
Samsuridjal Djauzi memperkirakan, resistensi yang sama juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Begitu juga persentasenya diprediksikan sekitar 5 persen. Apalagi target pemerintah untuk mendistribusikan ARV pada sekitar 3 juta ODHA pada 2005 gagal dan hanya menjangkau 1,5 juta ODHA. (mlt)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2936 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2013 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026