Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 5 Mei 2026
Peneliti: ODHA Mulai Resisten Terhadap ARV
Nusa Dua
Senin, 10 Agustus 2009,
20:36 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Hasil penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengidentifikasi beberapa pasien HIV/AIDS di Jakarta telah resisten terhadap obat antiretroviral (ARV) lini satu. Hasil penelitian di Jakarta menunjukkan, sekitar 5 persen ODHA di wilayah ini telah resisten terhadap ARV.
Peneliti HIV/AIDS dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Prof. Samsuridjal Djauzi pada keteranganya di Nusa Dua, Senin (10/8) mengungkapkan pada dasarnya semakin lama dan banyak obat dipakai maka akan menimbulkan resistensi. Hal ini terjadi akibat mutasi yang dilakukan oleh virus.
Menurut Samsuridjal, bagi ODHA yang mengalami resistensi terhadap ARV lini satu dapat diberikan ARV lini dua. Namun ARV lini dua harganya sangat tinggi dan memiliki efek samping yang cukup buruk.
“Maka obat yang kedua ini harganya lebih mahal, lebih dari 10 kali lipat dari obat pertama, yang kedua cara penggunaanya lebih susah dan efek samping jangka panjangnya lebih banyak,†jelas Prof. Samsuridjal Djauzi.
Samsuridjal Djauzi memperkirakan, resistensi yang sama juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Begitu juga persentasenya diprediksikan sekitar 5 persen. Apalagi target pemerintah untuk mendistribusikan ARV pada sekitar 3 juta ODHA pada 2005 gagal dan hanya menjangkau 1,5 juta ODHA. (mlt)
Peneliti HIV/AIDS dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Prof. Samsuridjal Djauzi pada keteranganya di Nusa Dua, Senin (10/8) mengungkapkan pada dasarnya semakin lama dan banyak obat dipakai maka akan menimbulkan resistensi. Hal ini terjadi akibat mutasi yang dilakukan oleh virus.
Menurut Samsuridjal, bagi ODHA yang mengalami resistensi terhadap ARV lini satu dapat diberikan ARV lini dua. Namun ARV lini dua harganya sangat tinggi dan memiliki efek samping yang cukup buruk.
“Maka obat yang kedua ini harganya lebih mahal, lebih dari 10 kali lipat dari obat pertama, yang kedua cara penggunaanya lebih susah dan efek samping jangka panjangnya lebih banyak,†jelas Prof. Samsuridjal Djauzi.
Samsuridjal Djauzi memperkirakan, resistensi yang sama juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Begitu juga persentasenya diprediksikan sekitar 5 persen. Apalagi target pemerintah untuk mendistribusikan ARV pada sekitar 3 juta ODHA pada 2005 gagal dan hanya menjangkau 1,5 juta ODHA. (mlt)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 411 Kali
02
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 360 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 352 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026