Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Kurangi Emisi dan Wujudkan Ketahanan Energi Melalui Biogas Rumah (1)
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Biogas merupakan salah satu energi ramah lingkungan. Potensi biogas di Indonsia juga sangat besar. Selain sebagai energi ramah lingkungan dan murah, pemanfaatan biogas juga memberi kontribusi dalam upaya pengurangan gas emisi. Pada sisi lain, pemanfaatan biogas akan berkontribusi bagi pengurangan pembuangan limbah ke alam. Kenyataanya pemanfaatan biogas masih sangat terbatas di Indonesia.
Wayan Sudarmi (37 tahun), seorang Ibu Rumah Tangga yang melakoni usaha rumahan berupa pembuatan kripik tradisional berbahan dasar beras kini menjadi salah satu warga yang menikmati manfaat menggunakan biogas. Ibu dua anak yang berdomisili di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali tidak lagi merasakan kendala yang berarti walaupun harga BBM dan LPG mengalami kenaikan. Berbeda dengan ibu rumah tangga lainnya yang harus menata ulang pengelolaan keuangan rumah tangganya akibat dampak kenaikan harga BBM dan LPG.
Sejak memiliki reaktor Biogas Rumah (BIRU) di belakang dapur mereka, dekat kandang babi peliharaan keluarga, mereka telah berhasil mencapai penghematan biaya bahan bakar rumah tangga hingga setara dengan 2 tabung LGP ukuran 12 kg tiap bulannya. Sudarmi (29/7/2013) mengakui sejak menggunakan biogas mengalami peningkatan keuntungan hingga 50% dari keuntungan normal yang mereka dapatkan selama ini.
”Dulunya, kami membutuhkan LPG ukuran 12 kg antara 6 hingga 7 tabung. Namun sekarang, mereka cukup hanya membeli 3 hingga 4 tabung saja setiap bulannya, ” ujar Sudarmi.
Selain tidak lagi tergantung dengan naik turunnya harga LPG di pasaran, keluarga ini pun sudah dapat menikmati kembali segarnya udara sekitar karena aroma kotoran babi yang selama ini mengurangi kesegaran udara tersebut telah berangsur menghilang seiring diolahnya kotoran tersebut ke dalam reaktor BIRU untuk dijadikan biogas.
”Biogas BIRU tidak hanya berguna untuk bahan bakar memasak, namun juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar lampu penerangan yang mirip petromak. Penghematan biaya listrik pun akhirnya di dapat pula,” tegas Wayan Sudana(37 tahun) suami Wayan Sudarmi.
Keuntungan dari penggunaan biogas juga dirasakan seorang pengusaha ternak babi asal Sanur, I Nyoman Brandi (56 tahun). Menurutnya, dengan memanfaatkan kotoran ternak babi menjadi biogas, ia kini tidak lagi dikompalin oleh masyarakat karena pembuangan kotoran ternak ke saluran perairan. Dengan pemanfaatan kotoran ternak babi menjadi biogas juga sangat membantu dalam melakukan efisiensi penggunaan energy.
“hampir 50 persen kami bisa menghemat daripada energi yang kami siapkan, kalau semula tanpa ada biogas dari kayu kami beli, kayu bakar dan juga elpiji, kalau kayu bakar tidak mungkin kita dapatkan sekarang gratisan, sekarang itu sudah tidak, kami bisa memanfaatkan biogas,” ungkap I Nyoman Brandi.
Brandi menambahkan masyarakat masih kurang berminat memanfaatkan biogas karena tingginya biaya pembangunan instalasi biogas yang mencapai Rp. 7,5 juta hingga Rp. 10 juta untuk satu instalasi biogas. “ketika memulai membangun instalansi yang sangat berat, bagi masyarakat menengah kebawah biayanya sangat tinggi,” paparnya. (bersambung...) (mlt)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3018 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2070 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2040 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1822 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun