Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Kurangi Emisi dan Wujudkan Ketahanan Energi Melalui Biogas Rumah (2-Habis)
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Koordinator Pengembangan Program Biogas Rumah Tangga (BIRU) Bali I Gde Suarja mengungkapkan pemanfaatan biogas di Indonesia hingga kini belum optimal. Buktinya hingga saat ini baru sekitar 15.000 rumah tangga di Indonesia yang memanfaatkan energi biogas untuk memenuhi kebutuhan energinya. Dengan jumlah usaha ternak yang cukup besar di Indonesia paling tindak seharusnya jumlah pengguna biogas di Indonesia mencapai jutaan rumah tangga.
Gde Suarja mengatakan belum optimalnya pemanfaatan biogas oleh rumah tangga selama ini karena program pengembangan pemanfaatan energi biogas yang dilakukan pemerintah hanya bersifat proyek percontohan. “Seharusnya pengembangan pemanfaatan biogas dilakukan melalui program kemitraan dengan masyarakat’ kata Gde Suarja
Menurut Gde Suarja, belum optimalnya pemanfaatan biogas menyebabkan banyaknya kasus pembuangan kotoran ternak ke saluran perairan, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.
“makanya konsep kami bukan semata-mata energinya tetapi bagaimana mengolah limbah menjadi berkah, berkahnya apa? Satu secara energi mendapatkan gas yang ramah lingkungan, dari sisi pertaniannya 50 persen dari biogas ini manfaatnya untuk pupuk organik sehingga dua hal itu bisa di jawab”tegasnya.
Ia menyebutkan hingga akhir Mei 2013, sudah lebih dari 430 rumah tangga di Bali telah memanfaatkan biogas dan pupuk organik hasil olahan limbah ternak mereka melalui Program BIRU. Rumah tangga pemanfaat program BIRU tersebut tersebar di sekitar 39 kecamatan di 9 kabupaten/kota di Bali ini.
Program BIRU dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Energi. Program ini adalah program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Belanda. Dimulai pada Mei 2009, program BIRU dirintis oleh Hivos, sebuah lembaga kemanusiaan untuk kerjasama pembangunan yang berbasis di Belanda, bermitra dengan Kementerian ESDM Republik Indonesa melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE).
Melalui program BIRU, para peternak yang berminat akan memberikan subsidi senilai Rp. 2 juta per reaktor yang berupa peralatan dan pendampingan (after sales service), bukan berupa uang tunai. Pelatihan perawatan reaktor BIRU dan pengolahan ampas menjadi pupuk organik juga akan diberikan oleh Program BIRU ini.
BIRU dalam pelaksanaan programnya bermitra dengan sejumlah organisasi lokal seperti LSM, koperasi, maupun pihak swasta lainnya yang berperan sebagai mitra pembangun. Di Bali, program ini menggandeng 7 mitra pembangun yaitu Yayasan BOA, Yayasan Manikaya Kauci, Yayasa IDEP, Koperasi MUK dan Kelompok Tukang yang berbasis di Klungkung, bernama Masons Group Abadi dan Dewata, serta Yayasan Padma Bhakti Pertiwi. BIRU juga sedang menjajagi kemitraan dengan lembaga keuangan mikro untuk penyediaan kredit berbunga rendah bagi masyarakat calon pengguna BIRU yang memiliki keterbatasan dalam berswadaya.
Program ini menargetkan untuk membangun 10.000 unit reaktor hingga akhir tahun 2013 di beberapa provinsi potensi di Indonesia. Hingga kini, BIRU telah terbangun 9.030 unit yang tersebar di 8 Provinsi Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Lampung, dan Sulawesi Selatan.
Sedangkan Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali Ir. Putu Agus Budiana, M.Si mengakui pemanfaatan biogas masih minim karena masyarakat masih berpikir praktis, sehingga cenderung untuk memilih menggunakan elpiji. Pemerintah provinsi Bali sendiri kini mulai mengembangkan pemanfaatan biogas melalui program sistem pertanian terintegrasi (simantri).
“ Simantri otomatis itu mengadopsi biogas tetapi kalau tidak salah ini dalam bentuk paket, kalau simantri itu sudah ada paketnya, kita inginkan masuk kesana, jadi suatu program harus di dukung oleh berbagai pihak”ungkap Ir. Putu Agus Budiana, M.Si
Simantri merupakan sebuah program yang mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada. Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food, feed, fertilizer dan fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (feces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan bio pestisida.
Budhiana mengakui pemanfaatan biogas dalam kelompok Simantri selama ini belum optimal, mengingat letak rumah anggota kelompok berjauhan. Dengan letak rumah yang berjauhan menyebabkan hanya beberapa anggota kelompok yang dapat menikmati manfaat biogas. Berbeda dengan konsep BIRU, yang istalasi biogasnya tersedia di setiap. “yang terpenting ada upaya dulu untuk memanfaatkan energi ramah lingkungan dan sejalan dengan upaya pengurangan emisi. Kan target pemerintah tahun 2025, 25 persen pemanfaatan energy berasal dari energy terbarukan” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Bali hingga April 2013 jumlah gabungan kelompok tani (gapoktan) yang menjadi bagian dari Simantri mencapai 400 kelompok. Dimana setiap kelompok memiliki satu instalasi biogas. Ditargetkan terdapat 1000 simantri di Bali untuk menjadikan pulau Bali sebagai Pulau Organik dan sekaligus mewujudkan green province. (mlt)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3905 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 3018 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2070 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2040 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1822 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun