Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Puluhan Hektar Sawah Kekeringan, Petani Merana

jembrana

Senin, 16 September 2013, 10:03 WITA Follow
Beritabali.com

google.com/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Beritabali.com. Mendoyo.  Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi di tahun 2013 ini mengakibatkan  puluhan hektar tanaman padi di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring mengalami kekeringan. Untuk mendapatkan air, petani terpaksa menyedot air sumur dengan menggunakan mesin penyedot air. Hal ini tentu saja menyebabkan biaya produksi petani meningkat dua kali lipat.

Musim kemarau yang menyebabkan debit air menurun, kekeringan di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring tersebut juga disebabkan karena sebagian besar petani menanam padi sebelum musim tanam. Akibatnya pasokan air subak tidak dapat dialirkan ke subak tersebut.

Menurut sejumlah petani di subak setempat, seharusnya pada saat ini di Subak Telepud adalah masa menanam palawija. Namun
berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya menanam palawija hasilnya kurang paksimal, mereka lebih memilih menanam padi. Dengan harapan saat menanam padi hujan akan turun sehingga bisa mengaliri padi mereka.

“ Tapi kenyataannya meleset, dari awal tanam sampai umur padi sebulan belum pernah turun hujan. Jadinya ya seperti
ini, padi saya kekurangan air,” ujar Made Adi Sutama (43) petani setempat (16/9/2013).

Lantaran kekurangan air, tanaman padi miliknya seluas 80 are padinya menjadi kerdil. Bukan hanya itu, tanahnya juga retak-retak.

“ Kondisinya semua seperti ini. Di sini ada sekitar 20 hektar lebih padi kekurangan air," terangnya.

Agar tidak gagal panen, Sutama dan sejumlah petani lainnya terpaksa menyedot air sumur yang sengaja dibuat di sawah dengen menggunakan mesin pompa penyedot air.“ Saya dan petani lainnya nyedot air setiap hari 24 jam agar padi tidak mati dan itu biayanya tidak sedikit," imbuhnya.

Pengakuan Sutama dari mulai menanam hingga padi berumur  satu bulan, dia telah menghabiskan biaya Rp 500 ribu lebih khusus untuk membeli bensin untuk mesin penyedot air.

“ Baru sebulan saja biayanya sudah segitu, apalagi sampai panen nanti. Mudah-mudahan saja saya tidak rugi,” harapnya.
Namun menurut Sutama, petani yang memiliki mesin pompa air masih bisa bertahan walaupun biayanya cukup besar. Sedangkan bagi petani yang tidak memiliki mesin pompa air, mereka memilih membiarkan saja padi mereka mati. Karena untuk menyewa mesin sudah pasti akan merugi. Disamping itu mereka juga kesulitan menyewa mesin pompa air.(Jsp)

 

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami