Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
Puluhan Hektar Sawah Kekeringan, Petani Merana
jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Beritabali.com. Mendoyo. Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi di tahun 2013 ini mengakibatkan puluhan hektar tanaman padi di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring mengalami kekeringan. Untuk mendapatkan air, petani terpaksa menyedot air sumur dengan menggunakan mesin penyedot air. Hal ini tentu saja menyebabkan biaya produksi petani meningkat dua kali lipat.
Musim kemarau yang menyebabkan debit air menurun, kekeringan di Subak Telepud, Kelurahan Tegalcangkring tersebut juga disebabkan karena sebagian besar petani menanam padi sebelum musim tanam. Akibatnya pasokan air subak tidak dapat dialirkan ke subak tersebut.
Menurut sejumlah petani di subak setempat, seharusnya pada saat ini di Subak Telepud adalah masa menanam palawija. Namun
berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya menanam palawija hasilnya kurang paksimal, mereka lebih memilih menanam padi. Dengan harapan saat menanam padi hujan akan turun sehingga bisa mengaliri padi mereka.
“ Tapi kenyataannya meleset, dari awal tanam sampai umur padi sebulan belum pernah turun hujan. Jadinya ya seperti
ini, padi saya kekurangan air,” ujar Made Adi Sutama (43) petani setempat (16/9/2013).
Lantaran kekurangan air, tanaman padi miliknya seluas 80 are padinya menjadi kerdil. Bukan hanya itu, tanahnya juga retak-retak.
“ Kondisinya semua seperti ini. Di sini ada sekitar 20 hektar lebih padi kekurangan air," terangnya.
Agar tidak gagal panen, Sutama dan sejumlah petani lainnya terpaksa menyedot air sumur yang sengaja dibuat di sawah dengen menggunakan mesin pompa penyedot air.“ Saya dan petani lainnya nyedot air setiap hari 24 jam agar padi tidak mati dan itu biayanya tidak sedikit," imbuhnya.
Pengakuan Sutama dari mulai menanam hingga padi berumur satu bulan, dia telah menghabiskan biaya Rp 500 ribu lebih khusus untuk membeli bensin untuk mesin penyedot air.
“ Baru sebulan saja biayanya sudah segitu, apalagi sampai panen nanti. Mudah-mudahan saja saya tidak rugi,” harapnya.
Namun menurut Sutama, petani yang memiliki mesin pompa air masih bisa bertahan walaupun biayanya cukup besar. Sedangkan bagi petani yang tidak memiliki mesin pompa air, mereka memilih membiarkan saja padi mereka mati. Karena untuk menyewa mesin sudah pasti akan merugi. Disamping itu mereka juga kesulitan menyewa mesin pompa air.(Jsp)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 726 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 664 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 487 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 468 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik