Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 7 Mei 2026
Jalan Macet dan Sampah, Wisatawan Mulai Tinggalkan Bali
Rabu, 21 Juni 2017,
11:51 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Akibat kemacetan dan sampah, wisatawan asing kini perlahan mulai meninggalkan Bali sebagai tujuan wisata mereka. Wisatawan mulai mengalihkan tujuan wisata mereka ke wilayah NTB dan NTT.
Peringatan serius ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra, saat menyambut kedatangan wisatawan Jepang dengan pesawat carteran Japan Airline (JAL), di terminal kedatangan internasional, Bandara Ngurah Rai, Selasa malam (20/6/2017).
"Persoalan kemacetan dan sampah menjadi penyebab kenapa wisatawan asing mulai meninggalkan Bali menuju daerah sekitar Bali, seperti ke Gili Trawangan di NTB dan Labuan Bajo di NTT," ujarnya.
[pilihan-redaksi]
Menurut Agung, wisatawan asing bergeser dari Bali ke Gili Trawangan dan Labuan Bajo karena di sana belum seramai dan macet seperti di Bali.
"Di Bali saat ini, kalau dari bandara ke Ubud saja bisa dua atau tiga jam karena jalan yang macet. Belum lagi persoalan sampah yang belum ditangani dengan baik. Jika persoalan ini tidak segera diatasi, pasti Bali akan ditinggalkan," ujarnya.
Masa tinggal wisatawan asing di Bali saat ini, jelas Agung, juga semakin berkurang. Dari rata-rata 6 hari masa tinggal sebelumnya, kini hanya jadi 3 hari.

"Bali kini seperti menjadi tempat transit saja bagi wisatawan asing, sebelum menuju ke daerah wisata lainnya di luar Bali. Dulu masa tinggal di Bali rata-rata 6 hari, sekarang wisatawan hanya tinggal di Bali 3 hari sebelum balik ke negaranya," ucapnya.
[pilihan-redaksi2]
Persoalan ini, kata Agung harus segera dicari solusinya. Untuk persoalan kemacetan, harus segera diurai dengan membangun jalan yang bebas macet. Karena harga tanah di Bali yang mahal, maka solusinya adalah jalan fly over atau jalan layang.
"Jalan fly over solusi yang tepat, jalan bisa dibangun di atas sawah ataupun di atas laut, pemandangannya bagus, sawah petani tetap utuh terpelihara. Jika masalah kemacetan ini tidak diurai, kita pasti akan ditinggalkan," ujarnya.
Untuk mengurai persoalan kemacetan ini , pihak Dinas Pariwisata Propinsi Bali kini juga mengembangkan destinasi wisata di 9 kabupaten kota yang ada di Bali dengan cara membuka desa wisata.
"Yang sudah mulai meninggalkan Bali kebanyakan wisatawan Eropa karena mereka lebih suka wisata yang alami seperti di Gili Trawangan Lombok. Oleh karena itu kita akan lebih banyak mengembangkan pariwisata budaya yang berwawasan lingkungan seperti agro tourism dan desa tourism, sehingga orang Eropa dan wisatawan asing dari negara lainnya bisa tertarik lagi berkunjung ke Bali," pungkasnya. [bbn/psk]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 631 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 594 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 444 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 433 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026