Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Inilah Bahaya Abu Vulkanik Bagi Penerbangan
Selasa, 3 Oktober 2017,
06:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Gunung Agung di Bali kini tengah bergejolak. Gunung berapi aktif setinggi 3.014 mdpl itu kini sedang berstatus 'Awas' dan diberi warna kuning oleh Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).
Aktivitas gunung berapi yang sedang bergejolak itu bisa mempengaruhi transportasi, baik darat maupun udara. Penerbangan misalnya, akan diminta untuk tidak melewati wilayah gunung berapi tersebut sebab debu vulkaniknya berpotensi merusak pesawat.
[pilihan-redaksi]
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubugan Agus Santoso dalam siaran persnya mengatakan bahwa debu vulkanik bisa berakibat fatal pada penerbangan, seperti merusak bilah turbin jika masuk ke dalam mesin.
"Debu vulkanik yang meleleh akan membeku pada bilah turbin, menggumpal dan melapisinya sehingga menghalangi aliran udara normal. Dengan begitu mesin akan kehilangan tenaga atau mati," kata Agus.
Dampak lain, gumpalan debu vulkanik juga dapat melapisi sistem sensor suhu bahan bakar. Akibatnya, sensor akan memberikan informasi palsu, membuat indikator yang salah dengan menyatakan mesin dalam kondisi dingin. Pemakaian bahan bakar meningkat, terjadi kenaikan panas dan berujung pada kerusakan turbin dan kematian mesin.
Agus juga menjelaskan bahwa debu vulkanik dapat merusak kaca kokpit pesawat dengan konturnya yang tajam. Kondisi ini bisa terjadi saat pesawat melaju dengan kecepatan di atas 500 mil/jam. Pandangan pilot yang sangat terbatas akan membuat penerbangan menjadi berbahaya.
"Bila debu masuk ke dalam tabung pengukur kecepatan, membuat kerusakan dan kekeliruan dalam membaca data kecepatan pesawat," ungkap Agus mengungkapkan dampak lain.
Gunung Agung sudah 54 tahun tidak mengalami erupsi. Diharapkan, aktivitas yang terjadi di Pulau Dewata itu lebih kecil dibandingkan saat erupsi pada tahun 1963.
Kini, warga yang tinggal di sektor barat daya, selatan, tenggara, timur laut, utara, dari Gunung Agung seluas 12 km telah direlokasi untuk mencegah dampak buruk gunung berapi.[bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2947 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2016 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026