Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 30 Oktober 2026
Inilah Bahaya Abu Vulkanik Bagi Penerbangan
Selasa, 3 Oktober 2017,
06:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Gunung Agung di Bali kini tengah bergejolak. Gunung berapi aktif setinggi 3.014 mdpl itu kini sedang berstatus 'Awas' dan diberi warna kuning oleh Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).
Aktivitas gunung berapi yang sedang bergejolak itu bisa mempengaruhi transportasi, baik darat maupun udara. Penerbangan misalnya, akan diminta untuk tidak melewati wilayah gunung berapi tersebut sebab debu vulkaniknya berpotensi merusak pesawat.
[pilihan-redaksi]
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubugan Agus Santoso dalam siaran persnya mengatakan bahwa debu vulkanik bisa berakibat fatal pada penerbangan, seperti merusak bilah turbin jika masuk ke dalam mesin.
"Debu vulkanik yang meleleh akan membeku pada bilah turbin, menggumpal dan melapisinya sehingga menghalangi aliran udara normal. Dengan begitu mesin akan kehilangan tenaga atau mati," kata Agus.
Dampak lain, gumpalan debu vulkanik juga dapat melapisi sistem sensor suhu bahan bakar. Akibatnya, sensor akan memberikan informasi palsu, membuat indikator yang salah dengan menyatakan mesin dalam kondisi dingin. Pemakaian bahan bakar meningkat, terjadi kenaikan panas dan berujung pada kerusakan turbin dan kematian mesin.
Agus juga menjelaskan bahwa debu vulkanik dapat merusak kaca kokpit pesawat dengan konturnya yang tajam. Kondisi ini bisa terjadi saat pesawat melaju dengan kecepatan di atas 500 mil/jam. Pandangan pilot yang sangat terbatas akan membuat penerbangan menjadi berbahaya.
"Bila debu masuk ke dalam tabung pengukur kecepatan, membuat kerusakan dan kekeliruan dalam membaca data kecepatan pesawat," ungkap Agus mengungkapkan dampak lain.
Gunung Agung sudah 54 tahun tidak mengalami erupsi. Diharapkan, aktivitas yang terjadi di Pulau Dewata itu lebih kecil dibandingkan saat erupsi pada tahun 1963.
Kini, warga yang tinggal di sektor barat daya, selatan, tenggara, timur laut, utara, dari Gunung Agung seluas 12 km telah direlokasi untuk mencegah dampak buruk gunung berapi.[bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5998 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4679 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2658 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2320 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2235 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026