Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Mengapa Pilgub Bali "Adem Ayem" ?
Rabu, 27 Juni 2018,
10:25 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Banyak kawan yang bertanya mengapa saya tidak berkomentar tentang Pilgub Bali di lini masa medsos, sebagaimana yang saya lakukan ketika Pilpres dan PilGub Jakarta silam. Meski diikuti oleh dua pasang kandidat, yang pada umumnya memantik polaritas pilihan, hajatan Bali saat ini masih saja ‘adem-ayem’. Mengapa demikian?
Setidaknya, ada empat tesis yang bisa saya kemukakan yang menjadi penyebab fenomena yang tidak biasa ini.
[pilihan-redaksi]
Pertama, dominasi isu nasional membuat kontestasi di tingkat lokal inferior. Hal ini sebagai subkonkuensi atas kebijakan sentralisasi media televisi, penyuplai informasi primer masyarakat Indonesia tak terkecuali Bali, yang (tentu lebih banyak) menayangkan isu nasional daripada hajatan lokal. Sosok Ahok (Jakarta), Ridwan Kamil (Bandung) atau Risma (Surabaya) yang media darling bisa jadi lebih dikenal masyarakat Bali dibandingkan dengan Wayan Koster ataupun Rai Mantra yang berlaga dalam perhelatan kali ini.
Pertama, dominasi isu nasional membuat kontestasi di tingkat lokal inferior. Hal ini sebagai subkonkuensi atas kebijakan sentralisasi media televisi, penyuplai informasi primer masyarakat Indonesia tak terkecuali Bali, yang (tentu lebih banyak) menayangkan isu nasional daripada hajatan lokal. Sosok Ahok (Jakarta), Ridwan Kamil (Bandung) atau Risma (Surabaya) yang media darling bisa jadi lebih dikenal masyarakat Bali dibandingkan dengan Wayan Koster ataupun Rai Mantra yang berlaga dalam perhelatan kali ini.
Kedua, apatisme masyarakat atas program kandidat. Kedua kandidat sama-sama mengusung program populis yang sudah banyak didengungkan sedari awal era pilkada langsung tanpa kejelasan realisasi. Akibatnya, masyarakat lebih melihat program kerja hanya sebagai syarat administratif atau pajangan spanduk daripada hutang yang harus dibayar.
Ketiga, divergensi isu sentral. Isu reklamasi teluk Benua yang selama ini menjadi polemik dalam 2 tahun terakhir, tidak muncul sebagai isu sentral sedari penetapan calon dan baru mengemuka sekitar 2 bulan sebelum pencoblosan. Akibatnya, soliditas kelompok yang anti dan pro reklamasi tidak terkapitalisasi menjadi pilihan politik dan cenderung terdistribusi secara sporadis. Bisa jadi, keterlambatan kemunculan isu reklamasi ini sebagai hasil kompromi para pihak pada paslon pengusung. Selain itu, kelompok media yang selama ini menjadi pengusung utama anti-reklamasi ditengarai sudah ‘masuk angin’. Akibatnya, penetrasi isu reklamasi di tingkat masyarakat sangat dangkal, hanya ramai dibicarakan pada saat debat kandidat saja.
[pilihan-redaksi2]
Keempat, tidak berkembangnya politik identitas. Tidak seperti Pilgub Jakarta, dimana politik identitas sangat kental, Pilgub Bali tidak diwarnai dengan isu primordial ini. Meski celah penggunaan isu soroh yang menjadi bahaya laten masyarakat Bali sangat terbuka lebar, kedua kandidat nampak tidak tertarik masuk ke ranah ini. Hal ini tentu patut kita apresiasi sebagai sebuah kedewasaan politik.
Keempat, tidak berkembangnya politik identitas. Tidak seperti Pilgub Jakarta, dimana politik identitas sangat kental, Pilgub Bali tidak diwarnai dengan isu primordial ini. Meski celah penggunaan isu soroh yang menjadi bahaya laten masyarakat Bali sangat terbuka lebar, kedua kandidat nampak tidak tertarik masuk ke ranah ini. Hal ini tentu patut kita apresiasi sebagai sebuah kedewasaan politik.
Kondisi ‘adem-ayem’ ini justru sangat baik dari sisi stabilitas (ekonomi, politik dan keamanan) di tingkat lokal. Selain itu, ‘adem-ayem’ adalah sebuah indikator bahwa masyarakat tengah berada dalam pemahaman dimana PilGub merupakan hajatan politik yang rutin yang tidak perlu disikapi secara berlebihan. Dengan demikian, masyarakat Bali dapat menentukan pilihannya dengan lebih rileks, bebas tanpa tekanan, meski peluang penyimpangan dari kondisi ideal itu selalu ada.
Selamat memilih Baliku. Semoga Pilgub hari ini menghasilkan pemimpin Bali yang mumpuni dan masyarakat yang makin cerdas, makin maju dalam pembangunan manusia dan budaya.
Penulis: Sadwika Salain | Koordinator Akademisi Muda Bali
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2937 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2014 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026