Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Mengapa Pilgub Bali "Adem Ayem" ?
Rabu, 27 Juni 2018,
10:25 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Banyak kawan yang bertanya mengapa saya tidak berkomentar tentang Pilgub Bali di lini masa medsos, sebagaimana yang saya lakukan ketika Pilpres dan PilGub Jakarta silam. Meski diikuti oleh dua pasang kandidat, yang pada umumnya memantik polaritas pilihan, hajatan Bali saat ini masih saja ‘adem-ayem’. Mengapa demikian?
Setidaknya, ada empat tesis yang bisa saya kemukakan yang menjadi penyebab fenomena yang tidak biasa ini.
[pilihan-redaksi]
Pertama, dominasi isu nasional membuat kontestasi di tingkat lokal inferior. Hal ini sebagai subkonkuensi atas kebijakan sentralisasi media televisi, penyuplai informasi primer masyarakat Indonesia tak terkecuali Bali, yang (tentu lebih banyak) menayangkan isu nasional daripada hajatan lokal. Sosok Ahok (Jakarta), Ridwan Kamil (Bandung) atau Risma (Surabaya) yang media darling bisa jadi lebih dikenal masyarakat Bali dibandingkan dengan Wayan Koster ataupun Rai Mantra yang berlaga dalam perhelatan kali ini.
Pertama, dominasi isu nasional membuat kontestasi di tingkat lokal inferior. Hal ini sebagai subkonkuensi atas kebijakan sentralisasi media televisi, penyuplai informasi primer masyarakat Indonesia tak terkecuali Bali, yang (tentu lebih banyak) menayangkan isu nasional daripada hajatan lokal. Sosok Ahok (Jakarta), Ridwan Kamil (Bandung) atau Risma (Surabaya) yang media darling bisa jadi lebih dikenal masyarakat Bali dibandingkan dengan Wayan Koster ataupun Rai Mantra yang berlaga dalam perhelatan kali ini.
Kedua, apatisme masyarakat atas program kandidat. Kedua kandidat sama-sama mengusung program populis yang sudah banyak didengungkan sedari awal era pilkada langsung tanpa kejelasan realisasi. Akibatnya, masyarakat lebih melihat program kerja hanya sebagai syarat administratif atau pajangan spanduk daripada hutang yang harus dibayar.
Ketiga, divergensi isu sentral. Isu reklamasi teluk Benua yang selama ini menjadi polemik dalam 2 tahun terakhir, tidak muncul sebagai isu sentral sedari penetapan calon dan baru mengemuka sekitar 2 bulan sebelum pencoblosan. Akibatnya, soliditas kelompok yang anti dan pro reklamasi tidak terkapitalisasi menjadi pilihan politik dan cenderung terdistribusi secara sporadis. Bisa jadi, keterlambatan kemunculan isu reklamasi ini sebagai hasil kompromi para pihak pada paslon pengusung. Selain itu, kelompok media yang selama ini menjadi pengusung utama anti-reklamasi ditengarai sudah ‘masuk angin’. Akibatnya, penetrasi isu reklamasi di tingkat masyarakat sangat dangkal, hanya ramai dibicarakan pada saat debat kandidat saja.
[pilihan-redaksi2]
Keempat, tidak berkembangnya politik identitas. Tidak seperti Pilgub Jakarta, dimana politik identitas sangat kental, Pilgub Bali tidak diwarnai dengan isu primordial ini. Meski celah penggunaan isu soroh yang menjadi bahaya laten masyarakat Bali sangat terbuka lebar, kedua kandidat nampak tidak tertarik masuk ke ranah ini. Hal ini tentu patut kita apresiasi sebagai sebuah kedewasaan politik.
Keempat, tidak berkembangnya politik identitas. Tidak seperti Pilgub Jakarta, dimana politik identitas sangat kental, Pilgub Bali tidak diwarnai dengan isu primordial ini. Meski celah penggunaan isu soroh yang menjadi bahaya laten masyarakat Bali sangat terbuka lebar, kedua kandidat nampak tidak tertarik masuk ke ranah ini. Hal ini tentu patut kita apresiasi sebagai sebuah kedewasaan politik.
Kondisi ‘adem-ayem’ ini justru sangat baik dari sisi stabilitas (ekonomi, politik dan keamanan) di tingkat lokal. Selain itu, ‘adem-ayem’ adalah sebuah indikator bahwa masyarakat tengah berada dalam pemahaman dimana PilGub merupakan hajatan politik yang rutin yang tidak perlu disikapi secara berlebihan. Dengan demikian, masyarakat Bali dapat menentukan pilihannya dengan lebih rileks, bebas tanpa tekanan, meski peluang penyimpangan dari kondisi ideal itu selalu ada.
Selamat memilih Baliku. Semoga Pilgub hari ini menghasilkan pemimpin Bali yang mumpuni dan masyarakat yang makin cerdas, makin maju dalam pembangunan manusia dan budaya.
Penulis: Sadwika Salain | Koordinator Akademisi Muda Bali
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5938 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4653 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2622 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2279 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2221 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026