Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 29 Oktober 2026
Terobsesi Patung Naga Sebagai Pemersatu Keluarga dan Bakti Orang Tua
Nyoman Eriawan, Konseptor Patung Naga Sanga Amurwa Bhumi
Rabu, 14 November 2018,
13:40 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Nyoman Eriawan, konseptor patung Naga Sanga Amurwa Bhumi tidak pernah terbesit berapa biaya yang dihabiskan untuk membuat patung berbahan dasar perak seberat 720 Kg, panjang 20 meter dan tinggi 1,8 meter selama 5 tahun. Kekagumannya pada sosok Naga ingin ia ekspresikan sebagai pemersatu keluarga dan bakti kepada orang tuanya.
Naga dalam kisah legenda digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan dahsyat dan di satu sisi dianggap jahat, namun di sisi sebaliknya juga dipuja sebagai penyelamat dan kemakmuran manusia. Sedangkan konsep 9 naga yang berhubungan, menurut Eriawan disimbolkan sebagai refleksi nilai seni yang berkaitan satu sama lain. Keterkaitan inilah yang ia ingin cerminkan dalam keluarga agar tetap harmonis dalam mewarisi usaha.
Selain itu, karya monumental yang meraih Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori patung terberat dan terbesar ini juga persembahkan sebagai wujud bakti kepada kedua orang tua yakni almarhum ayahanda, I Wayan Kantor dan ibunda Ni Wayan Rupet. Mereka diakui telah banyak memberikan bimbingan dan doa kepada anak-anaknya sehingga dapat memberikan keseimbangan dan kebersamaan untuk menjadi keluarga yang utuh dan saling menyayangi satu sama lain.
"Kedua orang tua kami berpesan kalau kamu sudah bisa menghasilkan uang, kamu harus punya nilai lebih yang bisa diwariskan kepada generasi keluarga berikutnya," ungkap Eriawan yang terinspirasi dari kata-kata tersebut dalam berkarya, Senin (12/11) saat peresmian patung Naga Amurwa Bhumi di museum UC Silver & Gold, Batubulan, Gianyar.
Proses penggarapan patung 9 naga yang dimulai pada 12 Maret 2013 hingga 21 September 2018 ini juga dihubungkan dengan konsep pengider atau 9 arah mata angin dan mempunyai makna kekuatan kemakmuran dan kesejahteraan. Konsep ini juga tidak terlepas dari konsep Sri Bala Jaya Hita; Sri melambangkan kecantikan dan kemakmuran, Bala melambangkan kekuatan, Jaya berarti kemenangan dan Hita yang bermakna kebaikan dan kebahagiaan.
Melalui garapan 25 seniman terampil asal Banjar Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, ia juga ingin mengangkat potensi daerahnya asalnya itu di mata dunia, terkait karyanya dipandang dari sebuah destinasi wisata baru. Eriawan menceritakan awalnya merintis usaha silver pada tahun 1989 hanya berbekal keahlian, kesenangan dan kegigihan dalam berkarya membuka toko kecil silver di pojok lapangan Ubud bernama Ubud Corner (UC) dengan karakter produk uniknya, Sweet Dragonfly.
Nama inilah yang kemudian menjadi cikal bakal nama galeri perhiasan terbesar di Gianyar, workshop, museum dan kini dilengkapi restauran UC Silver & Gold yang memperkerjakan 300 lebih karyawan. Kedepan berbekal nilai warisan orang tuanya, Eriawan ingin melestarikan tradisi untuk membukukan ornamen khas tradisonal Bali dan menduplikasi perhiasan Bali kuno yang ditemukan di desa atau duwe puri.
Berita Gianyar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5964 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4663 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2649 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2300 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2232 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026