Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Penjor Sebagai Wujud Rasa Syukur Kepada Tuhan

Senin, 24 Desember 2018, 10:00 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Penjor adalah perwujudan rasa syukur atau terima kasih  dan rasa bakti kepada Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa atas segala anugrah yang diberikan.

[pilihan-redaksi]
Bentuknya berupa persembahan beranekaragam phala wija, phala gantung, phala bungkah, dan lain sebagainya yang selalu menghiasi keindahan sebuah penjor. 

Demikian terungkap dalam sebuah artikel yang berjudul “Komodifikasi Penjor Galungan Sebagai Media Komunikasi di Banjar Adat/Pakraman Siladan, Desa Tamanbali Bangli” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Vidya Samhita, Volume III, nomor 2 tahun 2017.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa penjor merupakan simbol Gunung Agung sebagai gunung tertinggi yang memberikan keselamatan dan kesuburan, serta digambarkan sebagai Naga Basukih.

Berbeda halnya pemahaman orang beragama Bali Asli/Bali Age, seperti di Trunyan dan Tenganan misalnya, berpandangan bahwa nilai filosofis isi penjor tersebut dipersembahkan kepada leluhurnya, sebab leluhur-leluhurnya bersthana di Gunung Agung.

Penulis artikel I Wayan Wirta dari Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar menuliskan jika penjor dapat dikelompokkan menjadi beberapa pengertian.

Pertama, Penjor adalah perkataan dalam Bahasa Bali asli, yang berasal dari “pe-enyor” atau “penyor” kemudian berubah menjadi “penjor”, maksudnya penggambaran wujud bhakti atau pemujaan yang ditujukan/diperuntukkan kehadapan Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa sehubungan perayaan galungan.

[pilihan-redaksi2]
Kedua, Penjor dalam wujud fisiknya adalah sebatang bambu yang dihias dengan janur dari bawah sampai ke atas, kemudian diisi hasil bumi, baik berupa buah maupun berupa umbi-umbian yang digantung pada penjor, sebagai persembahan terhadap leluhur dan Tuhan yang bersathana di puncak gunung tertinggi, dalam hal ini Gunung Agung.

Kemudian ketiga, penjor singkatan dari kata “pring salojor” artinya sebatang bambu yang yang melengkung dihias sedemikian rupa sebagai media untuk mengungkapkan rasa bhakti terhadap Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi Wasa.  

Jadi penjor tidak semata-mata ditunjukkan dengan unsur estetis/ keindahan, namun terkandung penuh makna di dalamnya.

Dalam perkembanganya simbol penjor sudah mengalami perubahan, yaitu perubahan nilai, bukan hanya sekedar bentuk persembahan secara ritual-material, tetapi lebih kepada bagaimana umat Hindu sendiri mampu mempersembahkan sesuatu yang bernilai spiritual.

Dimana sudah terjadi komodifikasi penjor galungan, yang awalnya memiliki nilai guna menjadi memiliki nilai tukar yang dapat dijual/ dipasarkan. Sebuah penjor yang bagus harga jualnya sampai mencapai empat atau lima jutaan rupiah.

Adapun biaya yang dibutuhkan untuk membuat sebuah penjor yang tergolong utama/lebay sekitar tiga jutaan rupiah. [bbn/ Vidya Samhita/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami