Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 24 September 2026
Pengerupukan Jelang Nyepi Sebagai Bentuk Kebersamaan Wujudkan Keharmonisan Alam
Selasa, 5 Maret 2019,
06:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Pengerupukan Jelang pelaksanaan Nyepi oleh umat Hindu di Bali memiliki arti sebagai upaya bersama dalam mewujudkan keharmonisan alam. Mengingat saat pengerupukan umat Hindu Bali melakukan kegiatan "nyomya" atau tindakan agar semua unsur alam termasuk buta kala kembali pada tatananya yang benar.
[pilihan-redaksi]
"Pengerupukan itu lebih dekat dengan makna "ngeropok" yaitu secara bersama-sama atau beramai-ramai melakukan upaya pengusiran buta kala" ujar pemerhati budaya Bali Made Nurbawa saat dikonfirmasi pada Selasa (5/3).
"Pengerupukan itu lebih dekat dengan makna "ngeropok" yaitu secara bersama-sama atau beramai-ramai melakukan upaya pengusiran buta kala" ujar pemerhati budaya Bali Made Nurbawa saat dikonfirmasi pada Selasa (5/3).
Pria satu putri ini menegaskan Istilah "pengrupukan" ada bertepatan dengan hari Tawur yaitu sehari sebelum Nyepi. Istilah "pengrupukan" itu lebih dekat dengan makna pengendalian atau menghalau buta kala yang kemudian muncul tradisi ogoh-ogoh yang menyimbulkan sifat-sifat buruk buta kala.
"Yang jelas pengrupukan adalah hari suci. Tidak ada hubungannya dengan membuat kerupuk, juga bukan hari ngoreng kerupuk," tegas Nurbawa.
[pilihan-redaksi2]
Nurbawa mengungkapkan istilah buta kala yang dimaksud dalam pengerupukan adalah sifat alam baik buana agung atau buana alit (diri manusia) pada waktu tertentu. Dimana Nyepi merupakan siklus waktu dalam putaran kalender Caka. Sifat dalam diri manusia yang dipenuhi keserakahan ini kemudian disimbolkan dengan ogoh-ogoh. Dimana ogoh-ogoh cenderung dipersepsikan dengan perawakan besar dengan wajah yang menyeramkan.
Nurbawa mengungkapkan istilah buta kala yang dimaksud dalam pengerupukan adalah sifat alam baik buana agung atau buana alit (diri manusia) pada waktu tertentu. Dimana Nyepi merupakan siklus waktu dalam putaran kalender Caka. Sifat dalam diri manusia yang dipenuhi keserakahan ini kemudian disimbolkan dengan ogoh-ogoh. Dimana ogoh-ogoh cenderung dipersepsikan dengan perawakan besar dengan wajah yang menyeramkan.
Nurbawa menambahkan bahwa dalam tradisi di Bali banyak nilai nilai pengetahuan dan kearifan yang dikemas dalam bahasa simbol. Butuh sebuah kearifan dalam mengupasnya dan mengimplementasikan. [bbn/mul]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8328 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5759 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3601 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2433 Kali
05
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026