Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Mengenang 2 Pejuang Asal Jepang di Monumen Cakra Bioha Panca Bakthi
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sebagai bentuk penghormatan dan juga apresiasi kepada para pahlawan pejuang kemerdekaan dalam mengusir penjajah, umumnya dilakukan dengan mengenang aksi nasionalisme dan patriotisme mereka melalui pembangunan monumen perjuangan.
Dikutip dari beritabali.id, di Bali sendiri terdapat beberapa monumen yang tersebar di beberapa wilayah yang dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan. Salah satu monumen perjuangan yang memiliki keunikan dan sedikit berbeda dengan monumen lainnya adalah Monumen Cakra Bioha Panca Bakthi.
Nilai keunikan tersebut dapat dilihat dari dibangunnya 2 buah patung pria di sekitar tugu pahlawan. Sebanyak 2 buah patung tersebut merepresentasikan 2 pejuang asal Jepang yang turut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kedua pejuang asal Jepang tersebut bernama I Wayan Sukra (Mutsushiso) dan I Made Sukri (Haraka).
Monumen Cakra Bioha Panca Bakthi yang terletak di Banjar Saren, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal merupakan sebuah monumen yang dibangun untuk menghormati perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang pernah berjuang di wilayah Badung.
Pada monumen tersebut tertulis nama-nama pahlawan pejuang kemerdekaan yang berjumlah sebanyak 147 orang. Selain itu, di areal monumen juga dibangun sebuah pura yang bernama Pura Pucak Sangkur.
Awalnya, I Wayan Sukera (Mutsushiso) dan I Made Sukri (Haraka) menyerahkan diri di Desa Penarungan, Kabupaten Badung karena pada saat itu Jepang telah kalah melawan Belanda.
Mereka pun bergabung dan ikut membela perjuangan kemerdekaan masyarakat Bali dan berperan dalam memberikan pelatihan kepada para pejuang, khususnya dalam penggunaan senjata. Pada saat itu, di kawasan Desa Blumbungan dibangun sebuah markas yang diprakarsai oleh tokoh pejuang yang bernama I Wayan Likes.
Pembangunan markas tersebut bertujuan untuk melatih mental dan fisik para pejuang kemerdekaan. Pada markas inilah I Wayan Sukra (Mutsushiso) dan I Made Sukri (Haraka) menyumbangkan senjata yang mereka miliki.
Selain itu, I Wayan Sukra (Mutsushiso) dan I Made Sukri (Haraka) juga ikut serta dalam mengusir penjajah di berbagai pertempuran, termasuk pertempuran yang berlangsung di Puputan Margarana, dimana pada pertempuran tersebut mereka gugur dalam melawan penjajah.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4466 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2255 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1566 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1014 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 949 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun