Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 5 Mei 2026
Psikolog Ungkap Tanda Tubuh Tengah Alami Stres
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tak ada orang yang bisa terhindar dari stres, baik orang dewasa bahkan anak-anak. Stres sendiri bisa dipicu oleh beragam hal mulai dari gaya hidup, tekanan batin, masalah sosial hingga masalah keuangan.
Psikolog dari RSPI Sulianti Saroso Barita Ulina Sianturi, P.Si menjelaskan, stres sebenarnya merupakan alarm bahwa tubuh dalam masalah dan ada sesuatu yang dianggap mengancam.
Setiap orang bisa mengalami stres yang berbeda-beda, sekalipun berada dalam satu peristiwa atau kondisi yang sama.
"Reaksi orang itu akan berbeda tingkat karena setiap orang punya karakter yang berbeda, latar belakang hidup yang berbeda," jelas Barita dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin (22/2/2021).
Secara medis, kata Barita, tingkat stres bisa diukur dengan menggunakan alat tertentu. Meski demikian, Barita mengatakan masyarakat awam juga bisa mengidentifikasi tingkatan stres berdasarkan gejala yang dialaminya.
Tingkat stres sendiri terbagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang, berat. Jika gejala masih berupa sakit kepala yang hilang timbul selama beberapa saat juga masalah bisa diatasi maka itu masih termasuk gejala stres ringan.
Tetapi jika gejala mulai meningkat hingga memengaruhi napsu makan selama berhari-hari, Barita mengingatkan agar mewaspadai gejala tersebut.
"Kalau sudah berhari-hari stres, tidak ada keinginan untuk makan atau keinginan makannya menurun, badannya lesu, lemas, pikirannya kacau, tidak bisa konsentrasi itu mungkin sudah masuk ke tahap sedang," jelasnya.
Sementara tingkat stres berat akan menyebabkan seseorang mengalami gejala fisik juga psikis hingga berminggu-minggu. Bahkan gejala fisik juga bisa berakibat pada gangguan pencernaan, kata Barita.
"Mulai terganggu organ-organ tubuh tertentu itu sudah masuk kategori stres berat. Sudah harus ditangani, baik dokter maupun konsultasi kepada psikologi klinis atau psikiater. Atau bisa kepada orang yang percaya untuk membantu mengurangi stres atau menyelesaikan masalah," tutupnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 405 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 356 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 350 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang