Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 8 Juli 2026
Sejarah Nasi Jinggo, Berawal Dari Terminal Suci Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Bali mempunyai kuliner khas yakni Nasi Jinggo. Hampir semua warga Bali mengenalnya. Wisatawan yang datang ke Bali juga kerap mencobanya. Bagaimana sejarah asal-usul nama nasi Jinggo?
Menurut pemerhati kuliner Bali, Ketut "Gogonk" Pramana, sejarah nasi Jinggo berawal dari kawasan Suci Kota Denpasar. Lokasi ini kini menjadi sentra penjualan perhiasan emas dan parkir bawah tanah.
Pada akhir tahun 70-an, tempat ini masih merupakan terminal angkut khusus untuk bemo roda tiga. Nama terminal angkut tersebut adalah Penambangan Suci.
"Kala itu, pada malam harinya, Terminal Suci dipakai warga sekitar sebagai pasar "senggol", area untuk menjual beraneka makanan dan minuman. Pada salah satu sudut Senggol Suci, ada 2 perempuan yang menjual nasi bungkus siap saji dengan ukuran mini,"ujar Ketut.
Nasi bungkus ukuran mini berisi lauk serondeng kacang, ayam siwir, tempe goreng, dan yang tak terlupakan sambal tomat pedas. Nasi bungkus itu dibungkus dengan daun pisang beralas secarik koran bekas dan diikat dengan karet gelang.
Warung ini adalah satu-satunya tempat dimana nasi bungkus seperti itu bisa ditemui di seantero Denpasar.
2 perempuan tersebut menjual beberapa keranjang nasi bungkus mini setiap malamnya dan kebanyakan pelanggannya adalah anak anak muda yang suka bepergian pada malam hari.
Nasi bungkus mini dengan cita rasa pedas ini bisa dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Khusus untuk yang dibawa pulang, 2 penjual perempuan itu tidak lupa menambahkan ekstra sambal pedas sebagai bonus.
Asal Kata Jinggo
Di sekitar tahun yang sama, di salah satu bioskop ternama di Denpasar sedang diputar film cowboy yang dibintangi oleh Franco Nero berjudul "Jango" (baca jenggo).
Film ini wajib ditonton oleh anak muda kala itu. Entah siapa yang memulai, nasi bungkus mini di "Penambangan" (terminal) Suci Denpasar ini kemudian diberi nama "Nasi Jango", karena nasi bungkus ini dianggap mewakili gaya cowboy mereka. Kurang lebih istilah cowboy kala itu adalah "keren merakyat " (cool).
Setelah Terminal Suci dibangun dan kondisinya berubah seperti sekarang, 2 perempuan penjual nasi "Jango" itu tak ada kabarnya. Tahun 80-an cerita nasi Jinggo kemudian berpindah ke jalan Gajah Mada Denpasar.
Kali ini nasi Jinggo versi jalan Gajah Mada dibungkus dengan daun pisang segar walau isianya kurang lebih sama seperti nasi Jinggo versi Terminal Suci.
"Kala itu anak muda Denpasar tidak menamakan nasi bungkus tersebut dengan nasi Jango atau Jinggo, tapi nasi "Gang Bronx", dan kebetulan nasi itu dijual di gang-gang yang ada di depan pasar Kumbasari. Istilah Bronx diambil dari film breakdance yang berkisah tentang kehidupan anak muda di daerah Bronx Amerika Serikat.
Kini nasi Jinggo sudah lebih berkembang. Isinya pun lebih variatif, terbukti ada nasi jinggo babi kecap, nasi jinggo sela (ketela) , nasi jinggo rendang, nasi jinggo super dan lainnya.
Penulisan Jango pun berubah. Mungkin atas pertimbangan strategi pemasaran sehingga ada yang menulis nasi Jenggo, Jinggo, bahkan nasi Jenggot.
Selamat menikmati Nasi Cowboy Jango. (sumber: Ketut "Gogonk" Pramana)
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3619 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1184 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1035 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 972 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun