Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Teknologi Digital Jembatan JAPFA Perkenalkan Program ke Generasi Muda

Rabu, 8 Juli 2026, 09:45 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/ Teknologi Digital Jembatan JAPFA Perkenalkan Program ke Generasi Muda

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Seorang guru di salah satu SD penerima program JAPFA for Kids di Kabupaten Jembrana, Bali, tak lagi sibuk mencatat angka berat dan tinggi badan muridnya di atas kertas lusuh. Ia cukup membuka aplikasi di ponselnya, memasukkan data, dan dalam hitungan detik status gizi anak tersebut sudah tersimpan rapi di sistem. Angka itu bukan sekadar deretan digit. Ia adalah potret nyata generasi muda Indonesia, yang kelak menjadi dasar keputusan penting bagi keberlangsungan sebuah program besar bernama JAPFA for Kids.

Delapan belas tahun sudah program JAPFA for Kids berjalan. Apa yang dimulai sebagai inisiatif sosial sederhana untuk mengatasi masalah gizi anak di Indonesia, kini telah bertransformasi menjadi gerakan yang menyentuh lebih dari 201 ribu siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Namun yang menarik perhatian bukan sekadar angka capaiannya. Di balik program pemberian protein hewani harian berupa telur selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi itu, JAPFA secara perlahan namun konsisten membangun ekosistem digital yang menjadi jembatan untuk memperkenalkan program ini kepada generasi muda Indonesia.

Pemantauan berat dan tinggi badan siswa yang dulu dilakukan manual kini beralih ke aplikasi digital. Setiap bulan, data antropometri ratusan hingga ribuan siswa direkam, diperbarui, dan dipetakan sehingga tim program dapat langsung mengetahui siswa mana yang membutuhkan intervensi gizi lebih intensif. Cara kerja ini menjadi tulang punggung dari strategi terintegrasi JAPFA for Kids, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi kurang gizi, hingga pembiasaan pola hidup sehat lewat program Hari Sehat JAPFA.

“Kalau dulu kami mencatat satu per satu di buku. Sekarang tinggal memasukkan data ke aplikasi dan hasilnya langsung terlihat. Kami jadi tahu anak mana yang perlu mendapat perhatian lebih cepat,” ujar Ni Komang Trisna, guru SD di Kabupaten Jembrana.

Pemanfaatan aplikasi digital untuk memantau status gizi siswa menjadi salah satu terobosan yang memungkinkan intervensi program dilakukan secara lebih terukur dan tepat sasaran. Data yang terkumpul secara real-time memungkinkan tim di lapangan mengidentifikasi anak-anak dengan status gizi kurang dan segera memberikan pendampingan.

Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA, mengungkapkan bahwa program ini tidak lagi mengandalkan pendekatan konvensional. “Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani setiap hari, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA,” ujarnya.

Hasilnya pun terlihat nyata. Pada tahun 2024, dari 1.479 siswa yang teridentifikasi mengalami malagizi, sebanyak 762 anak atau 51,5 persen berhasil mencapai status gizi normal setelah mengikuti program. Angka ini meningkat pada 2025, di mana 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen mengalami perbaikan status gizi.

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA, menegaskan bahwa pendekatan digital menjadi kunci dalam menjangkau generasi muda yang tumbuh di era serba digital.

“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” kata Rachmat.

Namun tantangan gizi anak di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5-12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk. Data internal JAPFA dari sembilan lokasi program pada 2025 juga menunjukkan 1.034 dari total 15.498 siswa, atau sekitar 6,6 persen, masih tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk.

Kondisi inilah yang mendorong JAPFA terus berinovasi dalam pendekatan edukasi publik. Program ini tidak hanya berhenti pada pemberian asupan protein, tetapi juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, dan pendampingan orang tua. Seluruh elemen itu kini didukung oleh infrastruktur digital yang memungkinkan pemantauan dan evaluasi berkelanjutan.

Selain aplikasi pemantauan gizi, JAPFA juga merapatkan diri ke generasi muda lewat jalur digital lain: pendaftaran beasiswa yang seluruhnya dilakukan daring, kanal media sosial resmi perusahaan, hingga ajang Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA yang pendaftaran dan pengumpulan karyanya pun mengandalkan formulir digital. Bagi banyak pelajar dan mahasiswa, titik pertama perkenalan dengan nama JAPFA justru datang dari unggahan di linimasa, tautan pendaftaran beasiswa yang dibagikan lewat grup sekolah, atau berita daring yang mereka baca di sela waktu senggang.

Pola ini menegaskan pergeseran cara sebuah program tanggung jawab sosial menjangkau khalayaknya. Jika dulu kedekatan dibangun lewat tatap muka dan kegiatan lapangan semata, kini teknologi informasi menjadi jembatan yang mempercepat penyebaran informasi sekaligus mempermudah generasi muda mengakses program-program yang relevan dengan kebutuhan mereka, tanpa harus menunggu sosialisasi tatap muka yang memakan waktu.

Dosen Sistem Informasi di Universitas Primakara Denpasar, Bali, Dr. Ir. Eddy Muntina Dharma, S.T., M.T., menjelaskan pentingnya transformasi digital di era saat ini.

“Digitalisasi memungkinkan pemantauan ribuan siswa secara serentak yang sebelumnya sulit dilakukan melalui pencatatan manual. Yang terpenting bukan aplikasinya, tetapi kemampuan menghasilkan data yang cepat sehingga intervensi gizi dapat dilakukan sebelum kondisi anak semakin memburuk,” jelas Eddy Muntina di kampus Primakara, Denpasar, Rabu (8/7/2026).

Pengamatan selama pelaksanaan program menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program sosial seperti JAPFA for Kids tidak lagi diukur semata dari jumlah telur yang dibagikan atau jumlah siswa yang didata. Keberhasilan itu juga ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan infrastruktur digital melalui aplikasi pemantauan, pelatihan berbasis teknologi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Kemampuan memanfaatkan teknologi membuat pemantauan gizi menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan memudahkan sekolah maupun tim pelaksana menentukan intervensi bagi siswa yang membutuhkan.

Selama delapan belas tahun, data menunjukkan semakin banyak anak yang berhasil keluar dari kategori malagizi. Bagi para guru dan orang tua, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran masa depan generasi penerus bangsa.

 

Oleh: I Putu Agus Swastika

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Founder

Reporter: bbn/gus



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami