Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 3 Juli 2026
Usai diresmikan, Pedagang Pasar Rakyat Gianyar Ragu Jualan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Setelah diresmikan oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Sabtu (18/12) Pasar Rakyat Gianyar tidak langsung bisa ditempati oleh para pedagang.
Pemkab Gianyar belum melakukan pengundian nomor urut berjualan. Namun demikian, para pedagang secara bergilir sudah diajak keliling area pasar termasuk menunjukkan zonasi tempat berjualan.
Salah satu pedagang kain, Ni Komang Sukmayanti, 37, menyambut gembira peresmian pasar rakyat yang megah menelan anggaran Rp250 Miliar ini.
Hanya saja, Sukmayanti khawatir harga sewa lapak pedagang nantinya kemahalan. Dirinya juga berharap, pedagang liar di luar pasar agar ditertibkan.
"Dulu hak guna pakai, administrasi pertama saja. Habis itu bisa dipakai 20 tahun. Sekarang katanya bayar kontrakan per tahun, tapi belum tahu mulai kapan dan berapa nilainya. Mudah-mudahan tidak mahal," ujarnya yang mendapat zonasi di lantai IV ini.
Sukmayanti juga belum mendapatkan informasi kapan akan dilakukan pengundian. Sebelum resmi pindah, saat ini pedagang kain dan kebaya ini berjualan di relokasi Pasar Samplangan dan sewa toko di tempat strategis. Melihat bangunan pasar yang mewah, Sukmayanti masih ragu dengan aktivitas jual beli.
"Ya kalau pemerintah serius pasar ini ramai, pedagang liar supaya ditertibkan. Juga di relokasi Samplangan itu supaya ditutup juga. Biar pembeli fokus belanja ke sini saja (pasar rakyat Gianyar)," ujar pedagang asal Banjar Lebih Beten Kelod, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar ini.
Keraguan lain yang dipikirkan yakni akses pedagang dan pengunjung pasar. "Untuk ke lantai IV kayaknya pembeli masih mikir. Kalau naik tangga capek, naik lift gak berani. Jangankan orang tua, yang muda-muda agak takut naik lift, belum terbiasa," ujarnya.
Hal senada diungkapkan pedagang lain, Ni Wayan Asih. Jangan sampai setelah pindah di pasar megah, nasib pedagang tidak lebih baik. Selama pandemi ini, dapat jualan meskipun sedikit. Sehari sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta.
"Tapi untungnya gak banyak, paling cuma Rp 10.000. Mudahan di sini ramai, biar gak percuma duduk di lantai IV Ndak dapat jualan," ujarnya.
Wayan Asih juga mengkritisi soal luas lapak pedagang. Tidak seluas di pasar Gianyar dulu. "Dulu kios 2x2 meter. Sekarang cuma dapat 1 x 1,5 meter, menurut saya ini kecil," ujarnya.
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 2353 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1076 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 474 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 385 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun