Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 30 Juni 2026
Pura Maospahit, Cagar Budaya dan Sejarah Kerajaan Hindu Majapahit
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sebagai sebuah kerajaan Hindu terbesar pada masanya, Kerajaan Majapahit juga memiliki peninggalan sejarah di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga di Bali. Salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit di Bali adalah Pura Maospahit.
Pura Maospahit Denpasar (Tonja) merupakan bangunan peninggalan masa Kerajaan Majapahit pada abad 14-15 M. Pura ini merupakan salah satu bangunan berarsitektur Jawa Timur-an yang ada di Bali. Di bagian gerbang berbentuk candi terbelah khas bangunan candi Jawa Timur. Juga patung di bagian gerbang yang menyimbolkan selamat datang.
Luas pura Maospahit ini sekitar 1 hektar dan hanya memiliki 3 ruangan atau tri suci mandala tiga, tetapi pura ini diperluas oleh kerajaan Majapahit pada tahun saka 1475 sehingga menjadi empat mandala.
Pura Maospahit adalah salah satu peninggalan Patih Kebo Iwa dari kerajaan Bali. Dalam prasati Pura Maospahit disebutkan kelahiran Kebo Iwa dan kekuatannya yang sangat terkenal hingga di luar pulau Bali.
Dalam sejarah, Kebo Iwa Patih kerajaan Bali adalah orang yang sangat ditakuti oleh Patih Gajah Mada kerajaan Majapahit. Selain itu, Kebo Iwa juga terkenal ahli Undalgi, arsitek tradisional Bali.
Pura ini dibangun pada 1200 tahun saka, awalnya pura ini hanya berukuran kecil namun seiring Majapahit menguasai Bali, pura tersebut diperluas oleh Gajah Mada untuk menghormati Patih Kebo Iwa yang tangguh dan perkasa.
Objek wisata Pura Maospahit (Tonja) berada di Jalan Dr. Sutomo Banjar Tatasan Kelod, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Anda dapat berkendara selama 15 menit saja.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun