Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 4 Juli 2026
Jajanan Kampung Khas Bali di Lelateng Dinikmati Kalangan Pejabat
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Usaha kuliner Kedai Putri Hildawati (46) di Lingkungan Lelateng, Kelurahan Lelateng, Jembrana menghidangkan jajanan kampung khas Bali yang berlokasi di Jalan Danau Buyan Lelateng dengan harga murah meriah dan rasanya pun nikmat.
Hildawati mengatakan awalnya usahanya dirintis ibu kandung dan kini ditekuninya sejak 9 tahun lalu. Adapun bahan dasarnya adalah tepung beras, gula pasir, pewarna dari bahan alami yakni daun suji atau bahasa akrab di kampung adalah daun ijon-ijon, dan gula merah lokal.
"Pagi buka di Pasar Pagi Lateng dan sore jam 15.00 WITA buka di Kedai Putri dengan aneka jajanan kampung berupa buati, lidah-lidah, serabi, cenil, lupis, bubur sum- sum dan ketan hitam. Ini dikerjakan sendiri setelah pulang jualan dari pasar pagi. Bahkan tepung sudah disiapkan sejak awal dikukus dan sisanya ditaruh di kulkas," katanya.
Ia pun mengungkap, peminat dan para pecinta kulinernya jajanan kampung lumayan banyak dari kalangan pejabat yang menyukainya.
"Dulu sebelum Pandemi Covid-19 hasil berjualan bisa sampai 6 kg tapi kini pasrah hanya berjualan hanya 2 kg, tapi tetap mensyukuri," jelasnya.
Selain pejabat, lanjutnya Hilda, pembeli juga dari semua kalangan termasuk anak muda yang memang paling suka jajanan kampung. Maka itu, ia mencoba memasarkannya lewat unggahan di media sosial untuk merambah pasar anak muda yang kekinian.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 2936 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1087 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 484 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 394 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun