Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Anugrah Minyak Kebus di Pura Sada Sembuhkan Luka Bakar
BERITABALI.COM, BADUNG.
Di Desa Kapal tepatnya di lingkungan Banjar Pemebetan, Pura Sada, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung secara turun- temurun masyarakat setempat dan sekitarnya telah memercayai anugrah berupa minyak khususnya untuk penyembuhan luka bakar pada tubuh seseorang.
Minyak tersebut oleh masyarakat setempat diberi nama "Minyak Kebus" yang berkhsiat dalam menyembuhkan luka bakar. Warga setempat tidak mengetahui persis dari tahun berapa Minyak Kebus tersebut ada di Pura Sada karena secara turun- temurun. Pura Sada sendiri disungsung oleh Desa Adat Kapal.
"Orang-orang sekitar menyebutnya dengan Minyak Kebus, secara keyakinan terdahulu Minyak Kebus ini jauh lebih paten dari minyak kimiawi. Ini dapat dibuktikan bahwa, bila orang-orang dari Desa Kapal ada terluka (luka bakar) mereka nunas minyak kebus di Pura Sada. Hanya dengan mengoleskan saja pada bagian luka dan hasilnya memang manjur," jelas, Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana,Rabu (2/3) di desa setempat.
Adapun keunikan dari minyak ini adalah, bila ada terkena luka bakar orang tersebut harus nunas langsung ke Pura Sada, jika minyak tersebut tersisa dan akan diberikan kepada orang lain yang terluka, maka minyak tersebut tidak berefek lagi.
"Bahkan dulu pernah ada yang terkena air aki di sekujur badan, setelah dioles minyak kebus ini sekarang sembuh dan tidak berbekas," katanya.
Bagi krama yang ingin tangkil menurutnya, cukup membawa sesaji sangat sederhana dapat dikatakan seikhlas dan semampu dari orang yang nunas minyak seperti, Pejati, Canang sari.
"Nunas pelugraan minyak tersebut tidak memilih hari baik, karena ada saja nunas minyak ini pada hari-hari tertentu," cetusnya.
Dirinya mencoba membuat minyak tersebut dengan proses yang sama namun tidak ada efeknya. Minyak tersebut hanya dapat diproses di Pura Sada dengan memperhitungkan rerahinan seperti Budha Kliwon Uwudan.
"Karena, jenis kelapa yang sangat langka dipakai, kita sampai mencari ke berbagai daerah sehingga, minyak kebus tidak pernah habis," katanya.
Minyak tersebut sebenarnya bersumber dari kelapa hanya saja kelapa digunakan dari berbagai jenis kelapa seperti, dari kelapa bulan, kelapa rangda, kelapa gading, kelapa macan, kelapa udang dan berbagai jenis kelapa hingga berjumlah 21 jenis kelapa.
Kemudian diproses secara tradisional serta dalam memprosesnya harus mencari hari baik setelah selesai kemudian minyak dipasupati di Pura Sada.
Sudarsana, menambahkan, orang yang tangkil datang dari beberapa daerah di Bali mulai dari daerah Buleleng, Negara bahkan ada juga dari daerah Karangasem.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3305 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1304 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 914 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 835 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 672 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun