Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Matahari Sembur 17 Letusan, Bumi Berpotensi Terkena Badai
BERITABALI.COM, DUNIA.
Matahari dilaporkan menyemburkan 17 letusan dari satu bintik Matahari dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan Bumi berpotensi terkena badai Matahari dan terciptanya aurora.
Letusan Matahari tersebut berasal dari bintik Matahari yang terlalu aktif yang disebut AR2975. Menurut pengamatan yang dilakukan Solar Dynamics Observatory milik NASA, Matahari telah mengeluarkan letusan sejak Senin (28/3/2022).
Bintik Matahari adalah letusan pada Matahari yang terjadi ketika garis magnet berputar dan tiba-tiba sejajar kembali di dekat permukaan yang terlihat.
Terkadang, ledakan ini dikaitkan dengan Coronal Mass Ejections (CMEs) atau aliran partikel bermuatan yang melesat ke luar angkasa.
"Letusan telah melemparkan setidaknya dua atau mungkin tiga CMEs ke Bumi," tulis SpaceWeather.com dari peristiwa tersebut.
NASA dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) memperkirakan CMEs pertama, akan tiba pada Kamis (31/3/2022) dan setidaknya satu lainnya diperkirakan pada Jumat (1/4/2022).
Dilansir dari Space.com, Rabu (30/3/2022), pemodelan menunjukkan bahwa partikel yang dilepaskan dari letusan tersebut dapat menyebabkan badai geomagnetik G2 atau G3 (sedang).
Berdasarkan skala badai Matahari lima tingkat, NOAA menjelaskan G5 menjadi tingkat yang paling ekstrem.
Meski ada 17 letusan, 2022 diperkirakan menjadi tahun yang relatif tenang untuk Matahari, secara keseluruhan karena masih menuju awal siklus aktivitas Matahari 11 tahun yang dimulai pada Desember 2019.
Awal siklus biasanya memiliki lebih sedikit bintik Matahari dan lebih sedikit letusan. Aktivitas diperkirakan akan meningkat pada puncaknya pada pertengahan 2025.
Saat ini, para ilmuwan memperdebatkan seberapa kuat siklus Matahari, meskipun perkiraan sejauh ini menunjukkan bahwa jumlah rata-rata bintik Matahari mungkin lebih rendah dari biasanya.
Meskipun kemungkinan badai memiliki tingkat sedang, NASA dan badan antariksa lainnya mengawasi aktivitas Matahari untuk meningkatkan prediksi cuaca Matahari.
Pasalnya, suar kuat yang mengarah ke Bumi bersama dengan CMEs dapat menyebabkan masalah seperti rusaknya saluran listrik dan menonaktifkan satelit. (Sumber: Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5855 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4605 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2571 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2213 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan